Ilustrasi

.

Suatu pertanyaan yang sangat tidak mengenakkan. Tetapi justru menjadi peringatan tegas bagi orang yang masing sayang-sayang kepada imannya. Karena dengan pertanyaan seperti itu (Para Pemuka Agama Kenapa Rela Menjual Agamanya), orang-orang yang masih menyayangi imannya akan tersentak. Hingga kemungkinan akan sadar dan menjauhi sikap rakus yang amat tercela.

Sudah dikisahkan dalam Al-Qur’an mengenai pemuka-pemuka agama dari kalangan ahli kitab alias Yahudi dan Nasrani yang mereka memakan haram bahkan menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah. Yakni menjual agamanya dengan harta kesenangan dunia yang sejatinya nilainya sangat rendah dibanding agama yang nilainya sangat tinggi. Menjual surga dengan secuil kesenangan dunia.

 Tingkah buruk itu menjadikan terpujinya orang yang tidak mau menjual ayat-ayat Allah, bahkan mau masuk dan taat kepada Islam. Sehingga kalau dibandingkan dengan pemuka Islam, maka menjadi perbandingan terbalik. Sebagian pemuka Islam ada yang menjual agamanya, menirukan pemuka-pemuka Yahudi dan Nasrani, sedang sebagian dari ahli kitab itu justru masuk dan taat ke Islam. Maka Allah memuji mereka.

{وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (199) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ } [آل عمران: 199، 200]

199. dan Sesungguhnya diantara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah Amat cepat perhitungan-Nya.

200. Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS Ali ‘Imran: 199-200).

Betapa untungnya mereka yang dari tadinya tidak ikut-ikutan menjual agamanya demi kepentingan dunianya, kemudian beriman dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga dijanjikan pahala di sisi Allah Ta’ala. Sebaliknya, betapa ruginya orang yang sudah jadi pemuka Islam namun ikut-ikutan pemuka Ahli Kitab yang menjual agamanya demi kepentingan dunianya.

Para pemuka Ahli Kitab padahal telah dikecam oleh Allah, kenapa malah dikuti.

{فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ } [البقرة: 79]

79. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh Keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (QS Al-Baqarah: 79).

Betapa tercelanya tingkah orang Ahli Kitab yang telah dikecam oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an itu. Namun apakah itu dijadikan pelajaran bagi Umat Islam terutama para pemuka Islam? Belum tentu.

Buktinya ?

Apakah yang mereka lakukan dan bahkan dibesar-besarkan seperti upacara aneka peringatan kematian seperti haul, seribu hari, seratusan hari, empat puluhan hari, tujuh hari, tiga hari dan sebagainya itu dari Islam? Kalau dari Islam, mana dalilnya dalam Al-Qur’an maupun Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Ternyata tidak ada. Bahkan itu dari Adat Fir’aun dan juga dari Hindu. Apakah para pemuka Islam, para kyai, ajengan, tokoh Islam, dai, khatib, pemimpin kenduren dan sebagainya yang ngotot membela dan melakukan upacara ritual bukan dari Islam itu sejatinya tidak mengikuti tingkah yang dikecam Al-Qur’an tersebut?

Oleh karena itu, tinggal ditanyakan saja kepada mereka, Para Pemuka Agama Kenapa Rela Menjual Agamanya.

Kasihan umat Islam ini, dari berbagai arah telah ditipu orang, masih pula para pemuka Islamnya menipunya. Semoga saja Umat Islam semakin sabar memegangi agamanya dengan teguh. Dan gejala makin banyaknya para penjual agama justru menambah pahala bagi Umat Islam yang teguh, yang bahkan di suatu masa dijanjikan pahalanya 50 kali lipat dibanding yang dilakukan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena begitu beratnya dalam mempertahankan Islam.

Sekarang saja karena begitu kuatnya pengaruh para pembela tahlilan peringatan/ slametan orang meninggal, maka masyarakat yang tidak mau hadir atau apalagi tidak mau mengadakan, pasti dicela habis-habisan dan bahkan dikucilkan dan dikata-katai dengan menyaktikan hati. Padahal, seharusnya para pemuka Islam sadar bahwa justru menggalakkan ritual yang bukan dari Islam itu sejatinya sama dengan mengikuti langkah buruk para pendeta ahli kitab yang telah dikecam oleh Allah Ta’ala tersebut.

Apakah tidak malu terhadap orang ahli kitab yang tidak mau menjual ayat-ayat Allah lalu justru masuk Islam dan taat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga dijanjikan pahala di sisi Allah dalam QS Ali ‘Imran 199 tersebut?

Dan betapa celakanya bila kelak di akherat digolongkan seperti orang-orang yang dikecam dalam QS Al-Baqarah: 79 tersebut. Di dunia, untunnya tidak seberapa, sedang di akherat kelak pasti harus mempertanggng jawabkannya. Enake sak klentheng, larane sak rendendheng, kata orang Jawa. Enaknya hanya sebesar biji randu, tapi sengsaranya selama musim hujan, kata orang Jawa. Bahkan lebih dahsyat dari itu. Kenapa dilakukan? (Hartono Ahmad Jaiz)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 8.007 kali, 1 untuk hari ini)