Awet banget orang2 ini bekerja menista Islam. Bahkan, salahsatunya, saya duga keras sampai bingung mencari bahan menista.

Merasa aman krn tak ada yg nangkep.

Gak ada yg bisa nemu keberadaan mereka bertahun2. Makanya, mereka berlanjut menista. Semoga Allah SWT gak kirim azab ya.


 

 


 

 


 

 

6.31 AM · 2 Jun 2022·Twitter for Android


Mustofa Nahra Wardaya

 


@MNW_MNW_MNW

***

Menista Islam dari Masa ke Masa


Posted on 21 April 2021

by Nahimunkar.org

Menista Islam dari Masa ke Masa



Oleh: Muhammad Cheng Ho

AntiLiberalNews | Jejak Islam – Sedari dulu, ulu hati kehormatan umat Islam telah diinjak-injak oleh musuh-musuhnya lewat penistaan agama. Aksi nista mereka telah ciptakan keresahan dan benturan di tengah masyarakat.

Di abad ke-18, hidup seorang haji yang pernah menggemparkan daerah Tuban, pesisir Jawa Timur. Namanya Ahmad Mutamakin. Ia telah mengabaikan syariat dan mengajarkan ilmu hakikat kepada orang-orang.

Diceritakan oleh seorang pujangga Keraton Surakarta, Raden Ngabehi Yasadipura I, bahwa“Ajarannya tentang ilmu mistik yang sesat/karena (ia meyebut dirinya) sama dengan kekuasaan kemauan Tuhan/yang menjadi perselisihan/dengan kukuh, keras dn kasar/ia menguraikan keyakinannya tanpa bisa dihentikan/yang berakibat adanya tuduh-menuduh/dan ini menjadi sunggh-sungguh dan luar biasa/pesisir timur (Jawa) ada dalam kekacauan/dan daerah Tuban Haji Ahmad Mutamakin/menjadi musuh banyak orang.[1]

Menyaksikan ulahnya itu, para ulama menasihatinya agar tidak melanggar hukum Islam. Namun ia tak berubah dan gentar dengan kemungkinan adanya hukuman raja. Bahkan gilanya, ia menamai anjing-anjingnya: Abdul Kahar (nama seorang penghulu) dan Kamarudin (nama seorang Ketib Tuban). Nasihat tak juga mempan, para ulama pesisir kemudian berkumpul dan memutuskan untuk melaporkannya kepada Raja Kartasura yang kala itu adalah Sunan Amangkurat IV. Lebih dari itu, para ulama pesisir juga mengedarkan surat undangan kepada ulama-ulama Pajang, Mataram, Kedu, Pagelan, dan mancanegara untuk bersama-sama melaporkan ulah Mutamakin kepada Raja.

Berangkatlah mereka menuju ibukota kerajaan dengan dipimpin oleh Ketib Anom Kudus. Namun sayangnya, bersamaan dengan itu, sang raja wafat. Penyelidikan kasus Mutamakin pun ditangguhkan sampai raja berikutnya yaitu Paku Buwana II. Semua ulama dari distrik-distrik pesisir utara: Pajang, Mataram, dan Pagelan datang ke ibukota Kartasura dan berkumpul di rumah Patih Kerajaan, Danureja. Bupati-bupati pesisir, mancanegara dan Kartasura sepakat bahwa Mutamakin harus dibakar pada tonggak.

Selengkapnya silakan baca di sini:

https://www.nahimunkar.org/menista-islam-dari-masa-ke-masa-2/

(nahimunkar.org)