Seorang menteri agama, apalagi ia lulusan lembaga pendidikan agama seperti IAIN (Institut Agama Islam Negeri) yang kini sebagian menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) dapatlah dikatakan sebagai orang yang berilmu agama (Islam). Bila ilmu agamanya luas dan dalam serta takutnya kepada Allah benar-benar maka sebutannya ulama. Itu kedudukannya dalam Islam jelas tinggi, karena menduduki maqam (posisi) sebagai pewaris para nabi.

Ulama yang baik, adalah ulama pewaris nabi, yang meneruskan perjuangan nabi menyampaikan risalah Islam. Sedangkan ulama jahat, adalah sosok yang berilmu agama (Islam) namun menggunakan ilmu dan pengetahuannya tadi bukan untuk taqwa kepada Allah tetapi untuk kepentingan dunianya, misalnya untuk membodohi umat, untuk merusak agama. Itulah ulama su’.

Kejahatan ulama su’ ini jelas terbaca melalui sikap kebijakannya. Meski ia berkuasa membubarkan eksistensi aliran dan paham sesat, namun ia seperti membiarkan dengan berbagai dalih, termasuk dengan berbohong. Kekuasaan dan keilmuannya tentang agama tidak otomatis mendorongnya melakukan pembelaan terhadap agamanya yang sedang dirusak oleh aliran dan paham sesat tadi.

Meski kementrian yang dipimpinnya kini pada 5 Desember 1983 pernah menerbitkan surat edaran no D/BA.01/4865/1983 yang menyatakan bahwa syiah tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam, namun ia membiarkan ketika tokoh syi’ah mengatakan bahwa Suryadharma Ali sebagai menteri agama tidak pernah menyatakan syiah itu sesat. Ketika pernyataan tokoh syi’ah  itu mencuat di media massa, dan sampai kini tidak ada bantahan dari menteri agama, berarti menunjukkan, ia setuju dengan pernyataan tadi.

Dalam kasus lain, meski kementrian agama pada masa lalu telah menerbitkan hasil penelitian tentang kesesatan Ma’had (Pesantren) Al-Zaytun di Indramayu Jawa Barat pimpinan AS Panjigumilang, dan kaitannya dengan gerakan NII, namun sang menteri ini justru bergaya bagai humas Al-Zaytun.

Kepada masyarakat pers, Suryadharma Ali pernah mengatakan, Al-Zaytun merupakan pondok pesantren yang luar biasa, karena santrinya diajarkan semua ilmu pengetahuan, dan banyak tokoh-tokoh PPP yang menyekolahkan anaknya ke Al-Zaytun.

Pernyataan itu jelas tak bisa dijadikan alasan bahwa Al-Zaytun tidak sesat. Tidak ada korelasi antara “di sekolah itu diajarkan semua ilmu pengetahuan” dengan sesat-tidaknya sebuah paham. Artinya, meski “di sekolah itu diajarkan semua ilmu pengetahuan” namun bisa saja pada saat bersamaan ia juga mnegajarkan kesesatan.

Begitu juga dengan banyaknya tokoh PPP yang menyekolahkan anaknya ke Al-Zaytun, tidak ada korelasinya dengan sesat-tidaknya Al-Zaytun. Sikap petinggi PPP menyekolahkan anaknya ke Al-Zaytun sama sekali tidak bisa dijadikan kesimpulan bahwa Al-Zaytun tidak sesat. Bahasa gampangnya: Mereka yang tertipu kok ummat juga harus ikut tertipu.

Kesesatan Al-Zaytun, seperti pernah diungkap Amin Djamaluddin dari LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam), termasuk kesesatan aqidah. Yaitu, menganggap Indonesia masih berada di dalam ‘periode Makkah’ yaitu sebuah periode ketika Islam belum tegak. Sehingga, diibaratkan dengan tong sampah: yang bagus ada, yang busuk juga ada.

Karena Indonesia diibaratkan bagai tong sampah yang isinya kotor, maka menurut mereka, shalat di Indonesia sama dengan shalat di tempat yang kotor, sehingga shalatnya tidak sah. Jadi tidak usah shalat. Karena kalau shalat berarti mencampurkan yang haq dengan yang batil, maka tidak sah. Maka shalat pun tidak sah dan tak ada gunanya.

Dalil yang mereka gunakan, surat Al-Anfal ayat 35 artinya, “Shalat mereka di sekitar Baitullah itu lain tidak hanya siulan dan tepuk tangan, maka rasakanlah adzab disebabkan kekafiran itu.” (https://www.nahimunkar.org/4938/nii-mahad-al-zaytun-sesat-menyesatkan/)

Puncak kesesatan NII / Al-Zaytun berbentuk sama dengan LDII alias Islam Jama’ah yang mengkafirkan orang-orang (jama’ah) di luar mereka. Yaitu, siapa saja yang tidak menjadi golongan mereka, akan masuk neraka, karena hanya kelompok mereka saja yang berhak memasuki surga.

Dalam hal berhasil dikelabui oleh aliran dan paham sesat, Suryadharma Ali sudah berulangkali mengalaminya. Yaitu, ketika ia mengangkat Abdullah Syam dari LDII alias Islam Jama’ah sebagai salah satu anggota Amirul Haj.

Suryadharma Ali beralasan, LDII sudah mengalami berubahan paradigma. Padahal, berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan umat Islam, sesungguhnya LDII masih kelanjutan dari Islam Jama’ah ajaran Nurhasan Ubaidah yang dilarang Jaksa Agung 1971.

Di tahun 2007, LDII memang pernah berusaha meyakinkan bahwa mereka sudah berubah. Namun itu hanya ucapan di bibir untuk membuai tokoh-tokoh kunci Islam seperti tokoh MUI. Kini, mereka menjadikan menteri agama sebagai sasaran kebohongannya. Anehnya, menteri agama justru lebih percaya kepada pembohong yang merusak agama ketimbang mempercayai umat Islam yang sedang menjaga akidahnya.

Sampai saat ini paradigma LDII masih sama dengan Islam Jama’ah, yaitu tetap menganggap selain jama’ah LDII/ Islam Jama’ah semuanya akan masuk neraka, meski ibadahnya secara terori dan praktek sesuai al-Qur’an dan hadits.

Jadi, apa-apa yang disampaikan oleh Suryadharma Ali di atas, dapatlah dicurigai sebagai gerakan merusak agama dengan bukti kebohongan-kebohongannya.

Perlu diingat, ada petunjuk dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Barangsiapa diberi beban oleh Allah untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu rakyat, niscaya Allah mengharamkan Surga atasnya’.” (HR Muslim – 203)

غَاشٌّ Ghasy yaitu tidak menegakkan keadilan pada mereka dan tidak memegangi syari’at Allah, perintah-Nya dan larangan-Nya.

مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanat kepemimpinan, namun dia tidak meliputinya dengan nasihat (kemurnian/ kejujuran), kecuali tak bakalan mendapat bau surga.” (HR BUKHARI – 6617)

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ

خَرَجَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ تِسْعَةٌ خَمْسَةٌ وَأَرْبَعَةٌ أَحَدُ الْعَدَدَيْنِ مِنْ الْعَرَبِ وَالْآخَرُ مِنْ الْعَجَمِ فَقَالَ اسْمَعُوا هَلْ سَمِعْتُمْ أَنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ مِسْعَرٍ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

Dari Ka’ab bin ‘Ujrah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam menghampiri kami, kami berjumlah Sembilan: lima dan empat, salah satu dari dua bilangan itu dari Arab sementara yang lain dari ‘ajam, beliau bersabda: “Dengarkan, apa kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku nanti akan ada pemimpin-pemimpin, barangsiapa yang memasuki mereka lalu membenarkan kedustaan mereka serta menolong kelaliman mereka, ia tidak termasuk golonganku dan tidak akan mendatangi telagaku, barangsiapa tidak memasuki mereka, tidak membantu kelaliman mereka dan tidak membenarkan kedustaan mereka, ia termasuk golonganku, aku termasuk golongannya dan ia akan mendatangi telagaku.\” (HR At-Tirmidzi, ia berkata: Hadits ini shahih, gharib, kami hanya mengetahuinya dari hadits Mis’ar kecuali dari sanad ini, dan riwayat Ahmad dan An-Nasaai).

***

Sosok lain yang dapat dicurigai merusak agama (Islam) adalah Raja Majapahit Bali yang mengimbau Ummat Islam agar tidak mengadakan penyembelihan sapi sebagai hewan Qurban.

Orang kafir ini mestinya tahu diri. Meski bagi umat Hindu hewan sapi diposisikan sedemikian mulia, hal itu tak lantas membolehkan sang Raja ‘memaksa’ Ummat Islam untuk memuliakan sapi.

Ajaran Hindu menjadikan sapi sebagai hewan yang disucikan karena diyakini merupakan kendaraan Dewa Siwa adalah ketentuan untuk umat Hindu. Begitu juga dengan syari’at Islam yang menjadikan sapi sebagai hewan ternak yang halal disembelih atas nama Allah untuk dikonsumsi atau dijadikan hewan Qurban, itu untuk umat Islam.

Sikap Raja Majapahit Bali alias Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III tidak bersesuaian dengan fakta di lapangan. Selama ini, menurut Made Mardika Msi (pengamat budaya dan kandidat doktor Kajian Budaya Universitas Udayana Denpasar), setiap hari puluhan sapi disembelih di Bali untuk dikonsumsi penduduk lokal maupun guna memenuhi keperluan daging sapi di Jakarta, Bandung atau daerah lainnya di Indonesia.

Yang lebih penting, hingga saat ini tidak ada larangan dari pemerintah atau imbauan dari tokoh Hindu di Bali, agar umat Islam Bali tidak berkurban dengan menyembelih sapi.

Jadi, sikap Raja Majapahit Bali tadi selain terkesan mengada-ada, juga seperti sedang memanfaatkan momentum Idul Adha untuk ‘tampil’ secara nasional di hadapan publik. Dengan sikapnya itu, setidaknya ia akan dijadikan hero oleh sebagian masyarakat Hindu Bali yang sepaham dengannya. Siapa tahu besok hari bisa jadi Gubernur menggantikan Mangkupastika yang masa tugasnya segera berakhir.

Masalah itu urusan dia. Tetapi ungkapannya yang mengusik Islam itu sangat membahayakan bagui aqidah islam. Sebab kalau mengikuti perkataan Raja Majapahit Bali itu, maka diancam oleh Allah menjadi orang musyrik.

وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

Dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (QS Al-An’am/ 6: 121).

Bahkan cenderung kepada bisikan orang musyrik dalam keyakinan kemusyrikannya itu saja maka diancam siksa di dunia berganda dan siksa di akherat berganda pula.

وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا (74) إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا (75 [الإسراء : 74 ، 75]

74. dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka,

75. kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap kami. (QS Al –Israa’/ 17: 74-75).

Jadi bisikan orang kafir dengan keyakinan kemusyrikannya dalam hal ini kepercayaannya terhadap sapi itu adalah perusakan agama (Islam) yang sangat serius. Karena akan menjermuskan Ummat Islam kepada siksa lipat ganda di dunia maupun akherat, bila cenderung kepadanya. Itu saja baru cenderung. Apalagi mengikutinya, maka benar-benar menjadi orang musyrik sebagaimana ditegaskan dalam QS Al-An’am/ 6: 121 tersebut di atas. Maka Ummat Islam wajib sangat hati-hati terhadap bisikan kekafiran, entah itu dari orang kafir asli (non Islam) maupun kafir munafiq yang menampakkan diri mereka Muslim.

***

Sosok ketiga yang dapat dicurigai mempunyai kecenderungan merusak agama adalah Dede Oetomo, praktisi homoseks bahkan menjadi semacam ‘komandan’ intelektual  dan spiritual bagi para praktisi LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender).

Menurut Dede, kalau dua orang manusia melakukan hubungan seks dengan cinta tanpa paksaan, itu boleh. Begitu juga dengan sodomi bila dilakukan tanpa paksaan dan tidak melukai (menggunakan kondom), juga boleh.

Pernyataan Dede Oetomo jelas menyalahi agama (Islam), bahkan agamanya sendiri (Katholik). Juga, menyalahi adat istiadat, misalnya Jawa. Dalam adat-istiadat Jawa, hubungan seks di luar nikah, biasanya dijuluki kumpul kebo. Istilah ‘kumpul’ adalah bahasa simbolik bagi masyarakat Jawa untuk aktivitas seks antara suami-istri. Sehingga, yang tidak sesuai dengan itu, disebut kumpul kebo, karena kebo (kerbau) tidak perlu status suami-istri untuk bisa ‘kumpul’dengan lawan jenisnya.

Namun, dalam menjajakan paham sesat dan kafirnya tentang penyimpangan seksual, Dede membawa-bawa sosok berstatus kyai, yang katanya dari Jawa Timur. Menurut Dede, sang kyai tadi mengatakan bahwa praktik homoseks selama itu dilakukan dengan cinta itu bukan dosa.

Tapi Dede tidak menyebutkan sosok kyai dimaksud secara tegas. Perlu diketahui, kyai belum tentu ulama. Kalau toh dia ulama, namun bersikap seperti itu, maka dia adalah sosok ulama su’.

Untunglah sosok kacau ini tak terpilih sebagai komisioner Komnas HAM. Ketika berlangsung fit and proper test calon komisioner Komnas HAM di Komisi III DPR RI, pada hari Selasa malam tanggal 16 Oktober 2012, Dede Oetomo mengaku akan memperjuangkan hak beragama kelompok Ahmadiyah, Syiah dan aliran-aliran Islam yang dinilai sesat umat Islam.

Penerima Felipa de Souza Award dari lembaga homoseksual dan lesbian internasional, IGLH (International Gay and Lesbian Human Rights Commision) pada 1998 ini mengatakan, setiap orang berhak untuk menjalankan kenyakinannya masing-masing.

Cara pandang Dede memang sama persis dengan cara pandang para perusak agama, yang hanya bisa melihat satu sisi: bahwa apa-apa yang dilakukan komunitas paham dan aliran sesat seperti Ahmadiyah dan syi’ah sebagai hak menjalankan keyakinannya. Padahal, pada saat bersamaan mereka juga melakukan penistaan terhadap Islam. Bahkan merusak.

Kecenderungan Dede terhadap paham dan aliran sesat sehingga akan dibelanya sebagaimana ia akan terus membela praktisi lesbian-gay (homoseks), menunjukkan bahwa dirinya memang serius menjadi perusak agama. Artinya, ia jelas-jelas nantangin umat Islam. Ibarat pedagang, ia sudah siap jualan. Sedang yang dijual itu ibarat narkoba, namun yang dirusak adalah agama.

Ketika manusia di Indonesia ini melihat sosok terkemukanya justru berkali-kali memberi grasi kepada para pentolan penjahat narkoba, maka mulailah penjahat “narkoba” yang jurusannya merusak agama (Islam) mulai berani terang-terangan jualan “narkoba”nya yang merusak agama. Bahkan ternyata diawaki pula oleh orang yang dipercaya untuk urusan agama di Indonesia ini. Tampaknya, sesama penjahat memang saling mengerti.

(haji/tede/nahimunkar.com).

(Dibaca 2.295 kali, 1 untuk hari ini)