ilustrasi


Riwayat penyakit sebelum imunisasi sebaiknya harus diperhatikan.

Bogor – Seminggu setelah disuntik vaksin imunisasi Rubela di sekolahnya di SDN Sentul 1, Ghina Nazifah Yasmin (11), anak pasangan Mimi Dahlia dan Iwa kartiwan menghembuskan napas terakhirnya.

Jangan Pernah Main-Main dengan Campak Rubella

Setelah mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong, Gina akhirnya meninggal dunia, Senin (21/8).

Saat media menyambangi kediaman Ghina di Desa Nutug Rt 3 Rw 6, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor. Ibu kandung Ghina, Mimi Dahlia menjelaskan, pada Tanggal 9 Agustus yang lalu Ghina disuntik vaksin Rubela di Sekolahnya. Namun, tiga hari pasca disuntik Ghina mengalami buang air besar (BAB) selama 2 hari.

Unicef Yakin Indonesia Bakal Bebas Campak-Rubella

“Setelah itu, anak saya sekolah seperti biasa, tetapi sambil kakinya diseret, ketika saya tanya katanya kakinya sakit. Sebelum disuntik anak saya baik baik saja dan sehat, tidak ada yang aneh pada diri anak saya, tetapi pasca disuntik kok malah anak saya sakit,” tuturnya.

Pada tanggal 16 Agustus, lanjut Mami, anak saya merasakan sakit di kaki dan tangan serasa kesemutan, sehingga anak saya tidak bisa sekolah.

“Keesokan harinya tanggal 17 agustus pagi setelah bangun pagi, anak saya sudah tidak bisa apa- apa lagi, kaki dan tangan anak saya kaku tidak dapat digerakkan,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan sulitnya mendapatkan perawatan rumah sakit dikarenakan tidak memiliki alat, dan akhirnya dirujuk ke satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.

“Anak saya lalu saya bawa ke rumah sakit Anisa, tetapi di Anisa karena alasan tidak ada alat maka anak saya dirujuk ke RS Trimitra, setelah di RS Trimitra dengan alasan tidak ada alat anak saya kembali dirujuk ke RSUD Cikaret,” papar Mimi.

Sesampainya di RSUD Cikaret, lanjut Mimi, dengan alasan ruangan penuh dan tidak ada alat, anak saya kembali dirujuk ke RS Sentra Medika Cibinong.

“Kasihan sekali om, anak mau dirawat saja harus ombang-ambingkan rumah sakit,” lirihnya.

Setelah menjalani perawatan selama tiga hari di rumah sakit Sentra Medika, Ghina menghembuskan napas terakhirnya.

“Setelah dirawat tiga hari di RS Sentra Medika, anak saya tidak bisa tertolong dan menghembuskan napas terakhir,” kenangnya.

Sebagai orang tua, Mimi bertanya-tanya sebab kematian anaknya dari pihak rumah sakit. Tapi, pihak rumah sakit enggan menyebutkan penyakit yang diderita bocah 11 tahun itu, malah Mimi disuruh tutup mulut atas kematian buah hatinya.

“Selama dirawat di RS Sentra Medika Cibinong, dokter tidak menjelaskan tentang penyakit anak saya, bahkan setelah anak saya meninggal dunia saya diminta pihak rumah sakit untuk tutup mulut,” terangya.

“Anak saya sudah dimakamkan tadi jam 8 malam ba’da isya, yang saya sesalkan adalah kenapa pihak rumah sakit tidak menjelaskan kepada saya, penyebab sakit anak saya,” sambungnya.

Mimi juga menyesalkan pihak sekolah yang tidak memberitahukan kepada orang tua bahwa akan dilakukan vaksinasi Rubela.

“Yang lebih membuat saya menyesal, pihak sekolah tidak memberitahukan kepada saya ketika anak akan dilakukan vaksinasi rubela. Guru kan tidak tau kondisi anak saya, kok berani mengambil keputusan dan memperbolehkan menyuntik anak saya,” sesalnya kepada Akuratnews.com, Minggu (20/8/17).

Keterangan juga didapat dari Tante korban Fitria (31), yang pada saat korban dirawat di rumah sakit ikut mendampingi dan merawat korban.

Fitria mengatakan, bahwa kondisi keponakannya menurun setelah disuntik vaksin Rubela.

“Ketika saya tanyakan ke dokter rumah sakit Sentra Medika yang menangani ponakan saya, dokter hanya mengatakan ini kejadian langka, adapun biasanya setelah diimunisasi Rubela fatalnya akan mengalami lumpuh atau pun kelainan di paru-paru, tidak sampai koma,” tuturnya.

Ia membeberkan, setelah tiga hari keponakannya dirawat, dokter menjelaskan kalau ponakan saya terinfeksi virus, tapi tidak dijelaskan virus apa yang menyerang ponakan saya.

“Setelah ponakan saya meninggal dunia, pihak rumah sakit juga berpesan agar saya tidak berbicara kepada siapa pun jika ada yang menanyakan kondisi ponakan saya,” tutupnya.

Di tempat terpisah saat awak media meminta keterangan dari Kepala Puskesmas UPF Leuwinutug Dr. Oktavia Hutapea melalui handphone, Dr. Oktavia tidak dapat memberikan keterangan.

“Saya tidak dapat memberikan keterangan apa-apa, Pak. Mungkin jika perlu keterangan resmi bisa langsung menghubungi pihak Dinas Kesehatan ya Pak” katanya. (Toro)

Ditulis oleh: Atta Atta Ajja / jitunews.com

(nahimunkar.com)

 

(Dibaca 932 kali, 1 untuk hari ini)