Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom


Sleman – Buntut kericuhan di Jalan Wates KM. 8, Pedukuhan Ngaran, Desa Balecatur, Kecamatan Gamping, Sleman membuat Front Pembela Islam (FPI) DIY menempuh jalur hukum. Ada sekelompok orang yang masuk kampung yang kemudian merusak rumah dan mobil.

Ada kerugian yang dialami, karena markas FPI DIY berada di tempat itu, ada yang rusak yakni mobil milik FPI dan rumah yang ditinggali Ketua FPI DIY, Bambang Tedy.

“Tadi ditelepon dari DPP (FPI) pusat, dan mau jalur hukum. Jadi kita mau lapor polisi, hari ini mungkin (laporan) ke Polsek (Gamping) dulu,” ujar Ketua FPI DIY, Bambang Tedy saat ditemui di markas FPI DIY, Jalan Wates KM.8, Ngaran, Desa Balecatur, Kecamatan Gamping, Sleman, Minggu (7/4/2019) malam.

Menurut Bambang, hal itu karena dalam kericuhan tadi sore FPI menjadi korban. Terlebih dua unit mobil yang diparkir di sekitaran gang Pedukuhan Ngaran mengalami kerusakan, serta kaca jendela salah satu rumah yang berada di kawasan tersebut pecah.

“Karena banyak sekali yang masuk ke sini (Markas FPI DIY), sekitar 500 orang dan nggak bener itu, harusnya nggak seperti itu. Apalahi FPI (DIY) juga sudah setahun lebih nggak gerak apa-apa, kita diam dulu, tapi kalau diserang kayak gini kan aneh dan biadab itu bagi saya,” katanya.

“Dan kalau katanya FPI nyerang duluan, demi Allah nanti yang dilaknat siapa, orang FPI atau PDIP yang dilaknat. Soalnya apa? Ada polisi (yang berjaga) di depan 3 orang sama tentara 1 orang, itu polisi sama tentara memukul mundur massa nggak bisa karena massa yang masuk banyak, kita nggak nyalahin polisi karena memang kalah jumlah,” imbuhnya.

Bambang mengaku memiliki bukti bahwa sekelompok orang itulah yang pertama kali menyerang markas FPI sekaligus posko pemenangan Prabowo-Sandi. Bukti tersebut adalah kesaksian dari polisi yang berjaga serta rekaman CCTV yang terpasang di sekitar markas FPI.

“Kita kalau menyalahi atau kita ganggu dia di jalan wajarlah dia ngamuk ke markas ini (FPI DIY), lha ini wong kita nggak ngapa-ngapa, kok terus diserbu gitu,” ujarnya.

“Terus kalau kita memang niat menghadang jelas ada persiapan dan kita siapkan orang lebih banyak. Terlebih ini tadi cuma ada beberapa orang di markas (FPI),” sambung Bambang.

Selain itu, mengenai pemicu kericuhan yang diduga karena saling ejek antar kedua kelompok juga ditampik Bambang. Kendati demikian, Bambang mengakui kelompoknya sempat terlibat saling ejek saat sore hari.

“Nggak benar (pemicu kericuhan saling ejek), nggak benar, karena apa? Ada rekaman CCTV dan di situ (rekaman CCTV) tiba-tiba masuk mereka itu masuk, terus ada juga (kesaksian) dari polisi. Kalau saling ejek itu akhir sore tadi, siapa orang yang diinjak-injak di rumah sendiri nggak melawan,” pungkasnya.

(bgk/bgs*/ Pradito Rida Pertana

Sumber : news.detik.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 520 kali, 1 untuk hari ini)