Banyuwangi (SI Online) – Menyusul temuan pencampuran daging babi hutan (celeng) dan daging sapi menjadi bahan bakso di sebuah usaha penggilingan daging, kini dalam suasana pasca lebaran, ketika permintaan daging giling bahan bakso masih tinggi, jajaran Kepolisian Resort (Polres) Banyuwangi tidak sedikitpun mengendorkan kewaspadaan terhadap adanya kemungkinan kecurangan yang sama dari para pengusaha penggilingan daging.

Dua hari sebelum lebaran, Sabtu (26 Juli) Kepolisian Sektor (Polsek) Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi berhasil membongkar praktik “kurangajar” yang dilakukan usaha penggilingan daging menjadi bahan bakso milik  Sm di Pasar Kecamatan Rogojampi.  Di tempat usaha ini, petugas menemukan daging celeng dalam tiga karung, serta tidak kurang dari setengah Kuintal tersimpan di lemari pendingin.

Dari warga setempat Polisi juga menerima laporan, kemungkinan Sm ada keterkaitan dengan Sr sebagai pemasok. Rumah Sr di Desa Pengatigan, Kecamatan Rogojampi, segera digeledah dan ditemukann tidak kurang dari lima Kilogram daging celeng yang tersimpan dalam lemari pendingin.

Kios penggilingan daging milik Sm di pasar Rogojampi, kecuali menyediakan daging sapi segar juga menyediakan daging giling yang telah menjadi bahan bakso. Agar tidak mudah diketahui pembeli, daging celeng, tidak dijual dalam wujud daging utuh; melainkan sudah dalam bentuk gilingan yang sudah siap menjadi bahan pembuatan bakso.

Daging celeng yang dicampurkan ke dalam daging sapi, kemudian digiling menjadi bahan bakso, tidak kali ini saja terjadi. Namun  hampir rutin terjadi, terutama dipicu oleh kondisi ketika harga daging sapi melambung tinggi, ada saja pedagang yang berspekulasi untuk meraup keuntungan besar dengan mencampur dagangan daging sapi yang segar dengan daging celeng, bahkan juga dengan daging monyet, disamping juga dengan daging sapi yang sudah tidak segar lagi.

Tabloid Suara Islam edisi 149 (15-29 Safar 1434 H / 28 Desember 2013 – 11 Januari 2013 menurunkan Laporan Utama “Awas! Daging Babi di Sekeliling Kita” yang mengupas tuntas peredaran dari hulu hingga hilir, berikut tanda-tanda bakso daging sapi yang terkontaminasi daging lainnya.

Dalam laporan itu diantaranya juga mengungkap yang terjadi di Kabupaten Jember Jawa Timur. Semula pihak Kepolisian hanya mencurigai penjualan daging sapi dengan harga murah,  berasal dari sapi sakit atau yang baru mati (bati) sebelum disembelih. Namun, diperoleh pengaduan sejumlah warga; yang  mencurigai seorang jagal yang juga menerima pasokkan babi hutan (celeng) bahkan  monyet hasil perburuan. Maka, setelah melakukan penelitian di pasar-pasar, segera pula penelitian dikembangkan dengan sasaran sesuai dengan kecurigaan warga.

Adalah Wnd (45 tahun), jagal (pemotong hewan) dan juga pedagang pengepul daging, warga Desa Kasilir, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, adalah pihak yang dilaporkan oleh sejumlah warga dengan kecurigaan menampung dan membeli celeng dan dan monyet dari para pemburu.

Dari lemari pendingin, sejenis freezer penyimpan es krim, di kios daging di rumah jagal Wnd; Polisi menemukan timbunan daging berbobot tidak kurang dari lima kuintal Setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, timbunan daging sapi tersebut terbukti telah dicampur engan daging sapi “afkir” dan juga, yang paling mengerikan, telah pula dicampur dengan daging celeng dan monyet.

Wnd ketika itu mengakui, penimbunan daging dan telah dicampur tersebut, disiapkan untuk dipasarkan di hari-hari menjelang Lebaran. “Di freezer, ada daging beku yang tersimpan kira-kira sudah seminggu,” kata Wnd. Saat  timbunan daging ditemukan petugas dan diangkat dari freezer, menebar aroma kurang sedap dan serta aroma menyengat khas daging celeng.

Wnd kepada petugas juga mengaku, monyet dan babi hutan, dibeli dari  pemburu dalam kondisi mati dan masih utuh (belum dikuliti). Diakui pula, daging campuran ini, juga disiapkan untuk dipasarkan di pasar-pasar tradisional di Kota / Kabupaten Jember dan Banyuwangi. Pedagang pengecer mengambil dengan harga murah antara Rp 35.000 hingga Rp 45.000 per Kilogram.

Sementara itu, Lukmanul Hakim, Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOK) Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam perbincangan di sebuah Stasiun TV ketika itu, menunjuk setiap tahun muncul masalah terkait perdagangan daging sapi ini. Diantara pemicunya; karena sedikitnya jumlah Rumah Potong Hewan (RPH) yang telah memegang sertifikat halal.

“Dari sejumlah 900 unit RPH yang ada secara nasional, baru sekitar 115 unit RPH atau sekitar 11 persen saja yang sudah bersertifikat halal. Sebagian besar RPH belum bersertifikat halal, justru RPH milik Pemerintah,” ungkap Lukmanul Hakim ketika itu.

Berkenaan dengan daging sapi, menjadi perhatian khusus dari MUI adalah masalah kehalalan produk pangan lanjutannya. RPH merupakan hulu yang sangat vital bagi produk sejumlah makanan. Dari RPH, bahan baku produk makanan berasal, jika sudah diragukan kehalalannya jelas berpengaruh pada kehalalan produk lanjutannya.

Pelajaran dari Singapura

Tabloid Suara Islam edisi pertengahan Juli 2013, memuat pelajaran dari Singapura yang memberi sanksi tegas dan berat bagi pencampur daging. Karena ulah pencampuran ini, seorang pembuat dan penjual martabak daging kambing di Singapura, terkena sanksi harus  membayar denda sebesar 4.000 Dollar Singapura (ketika itu lebih Rp 32 juta). Padahal yang dilakukan bukan mencampur dengan daging yang haram dikonsumsi. Pedagang ini terlaporkan dan kemudian terbukti telah sengaja mencampur daging kambing dengan daging sapi.

Memperberat perkaranya, karena ia memegang izin yang tegas dan spesifik menyebut membuat dan menjual martabak daging kambing. Sanksi yang lebih berat-pun ditimpakan; harus kehilangan izin dagangnya. Bahkan kerena dinilai telah cidera (cacat) dalam jenis dagangan tersebut,  kemudian tidak dapat  mengajukan permohonan izin baru bagi usaha yang sama.

Selasa (2 Juli 2013),  Berita Harian, media massa terbitan Singapura, menurunkan berita itu. Tidak mencolok dan tidak pula ditempatkan pada kolom-kolom utama. Namun terkait campur-mencampur daging, kabar ini sangat menarik disimak untuk diambil sebagai pelajaran bagi penanganan kasus sama di negeri kita.

Ubaida Abdul Rahman, pembuat dan penjual martabak itu, tersangkut perkara hukum yang memberi sanksi yang demikian tegas; bermula dari laporan pelanggannya kepada Otoritas atas makanan setempat (semacam Badan Pemeriksa Obat dan Makanan / BPOM di negeri kita). Pelanggan itu melapor, merasakan ada perubahan rasa martabak daging kambing, dan men-sinyalir telah dilakukan pencampuran dengan daging lain.

Dilakukan penelitian. Sinyalemen pelanggan itu kedapatan benar. Dalam martabak daging kambing ditemukan campuran dengan daging sapi. Ubaida Abdul Rahman tidak dapat mengelak dan mengakui kesalahan, serta sanggup menerima sanksi yang ditimpakan.

Cidera dalam kaitan perilaku Ubaida, agaknya karena nekad telah melakukan “pembohongan” kepada pelanggan yang mempercayai; yang dibeli dan dimakan adalah martabak daging kambing. Ubaida berspekulasi, lidah pelanggannya tidak peka atas rasa dan aroma martabaknya. Ternyata spekulasi itu salah. Ketika terjadi perubahan aroma dan rasa, seketika itu pula dicurigai pelanggannya.

Perkara yang menimpa Ubaida Abdul Rahman, menarik dikaji. Terlebih di tanah air sudah sering terkabarkan ulah “pembohongan” dari jagal sapi serta produk lanjutannya; pemilik penggilingan daging dan pedagang daging, termasuk pembuat dan pedagang bakso dan abon— dalam upaya meraup keuntungan.

Sementara di negeri kita, kabar tentang pencampuran daging sapi dengan daging lain yang haram di konsumsi. Pencampuran dengan daging yang nyaris membusuk, dan tidak layak konsumsi lainnya akibat kandungan air berlebih (gelonggong) bahkan daging ayam dari ayam yang mati kemarin (tirin) dan ayam baru mati (bati). Namun sejauh itu, tidak terkabarkan tentang sanksi hukum yang ditimpakan kepada para jagal, pedagang, ataupun pemilik penggilingan daging  yang nakal demikian.  Agaknya, dalam urusan ini, layak kita belajar ke negeri jiran; Singapura.

Rep   :   Muhammad Halwan / dbs, Selasa, 05/08/2014 09:04:57

(nahimunkar.com)

 

(Dibaca 761 kali, 1 untuk hari ini)