Previous Post
Tweet about this on TwitterEmail this to someoneShare on Facebook
Read on Mobile

Pasukan Israel Tembak Mati 4 Warga Palestina di Jalur Gaza

Para warga Palestina berlarian saat bentrok dengan pasukan Israel di Jalur Gaza, Jumat (20/4/2018). Foto/REUTERS/Mohammed Salem 


GAZA – Empat warga Palestina ditembak mati pasukan Israel di dekat perbatasan Jalur Gaza saat demo “Great Return March” memasuki minggu keempat. Sejak demo yang dimulai 30 Maret lalu, total 35 warga Palestina dibunuh pasukan Israel dan ribuan warga lainnya terluka.

Angka kematian terbaru ini disampaikan Kementerian Kesehatan Gaza pada hari Jumat. Dua korban tewas terbaru adalah seorang anak laki-laki berusia 15 tahun dan seorang pria berusia 29 tahun. Keduanya ditembak mati di wilayah timur Khan Younis.

Sebelumnya seorang pria berusia 25 tahun tewas ditembak di timur Jabalya dan seorang pria 24 tahun juga ditembak mati pasukan Israel di Jalur Gaza utara.

Menurut Pasukan Pertahanan Israel  (IDF), yang dikutip Times of Israel, sekitar 3.000 demonstran Palestina mengambil bagian dalam demonstrasi pada hari Jumat (20/4/2018).

Demo yang akan terus berlanjut sampai 15 Mei 2018 untuk menandai hari Nakbah, yang oleh orang Palestina disebut sebagai eksodus massal dari tanah mereka selama pembentukan negara Israel. Sedangkan Orang-orang Israel merayakan ini sebagai Hari Kemerdekaan.

Kelompok Hamas yang berkuasa di Gaza telah menyerukan demonstrasi massa di perbatasan Gaza untuk melawan blokade Israel yang telah menyengsarakan rakyat Palestina di wilayah itu selama satu dekade terakhir.

Sementara itu, pihak militer Israel terus menjaga pagar perbatasan dengan sangat ketat. IDF memperingatkan pasukannya tidak akan mentoleransi upaya untuk merusak pagar atau menerobos wilayah Israel. (mas)

Sumber: international.sindonews.com / Muhaimin

***

Miris, Israel jadikan Anak-Anak Palestina Sebagai ‘Kuli’

HEBRON, muslimdaily.net– Organisasi HAM internasional (HRW) merilis laporan bahwa permukiman-permukiman Israel di Tepi Barat telah melakukan pelanggaran hukum internasional. Mereka disebut mengambil keuntungan dari para anak Palestina di bawah umur untuk berkerja di ladang mereka.

Dikatakan, para anak Palestina diperkerjakan di Lembah Yordania. Kebanyakan dari anak Palestina masih berusia sekitar 11 tahun. Mirisnya, para anak tersebut dibayar dengan upah yang rendah, padahal kondisi kerja yang dihadapi sangatlah berbahaya.

Dalam laporan 74 halaman itu, organisasi yang berbasis di New York itu juga menyebutkan, ratusan anak bekerja bawah terik matahari yang panas, mereka pun harus mengangkut barang dengan muatan berat serta menghirup zat berbahaya pestisida.

HRW sendiri telah mewawancari 38 anak dan 12 orang dewasa dari berbagai komunitas Palestina di Lembah Yordania. Menurut laporan tersebut, anak-anak Palestina seringkali ke luar dari sekolah untuk memetik, membersihkan dan mengepak sayur-mayur.

Salah seorang anak Palestina, F (13 Tahun) menuturkan, ia mendapatkan upah rendah selama bekerja di peternakan dan perkebunan di Lembah Yordania. Bocah yang berasal dari sebuah desa miskin di tepi baat Jericho, al-Fasayil itu dalam sehari bekerja selama 10 jam. Upah yang didapatkannya pun hanya 50 shekel atau sekitar 12,5 Dolar AS. Tapi, itu bukan hasil bersih, upahnya harus dipotong oleh seorang perantara.

Anak pertama dari lima bersaudara itu memilih meninggalkan bangku sekolah dan menjadi tulang punggung keluarganya, karena penghasilan ayahnya belum bisa menutupi kebutuhan mereka selama ini.

“Kerja lebih baik dari sekolah. Keluarga membutuhkan saya untuk bekerja,” jelas F seperti yang dikisahkan Aljazirah.

F hanyalah satu dari anak palestina yang bekerja di Israel dengan upah yang rendah dengan iklim kerja yang berbahaya. F tumbuh tak seperti anak-anak seusianya. Dia harus tunduk kepada aturan keras, kerja atau tidak mendapatkan uang.

Dalam laporan HRW yang berkisah tentang buruh anak di bawah umur itu setidaknya menampilkan sisi lain dari dampak perang antara Israel dan Palestina dan korbannya adalah anak-anak. “Dalam beberapa kasus, mereka harus membayar sendiri untuk perawatan medis, dan luka karena pekerjaan itu,” kata laporan HRW.

Angka kemiskinan di Lembah Yordan mencapai 33,5 persen dan merupakan tertinggi di Tepi Barat. Kemisikinan tersebut juga menjadi alasan para anak Palestina tidak bersekolah dan lebih memilih bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

“Pemukiman Israel yang mengambil keuntungan dari pelanggaran hak asasi terhadap anak-anak Palestina,” kata Aktivis HAM di Timur Tengah dan Afrika Utara, Sarah Leah Whitson, direktur kelompok Timur Tengah dan Afrika Utara.


Tak hanya intimidasi secara fisik, secara ideologis pun terjadi. Berikut liputannya.

Pelajar Muslim Palestina Diwajibkan Belajar Holocaust Yahudi

GAZA, muslimdaily.net– Sumber media Israel mengungkapkan, Kementerian Pendidikan Pendudukan Israel memutuskan untuk memasukkan sejarah Holocaust Yahudi dalam kurikulum pendidikan yang dialokasikan untuk para siswa Arab di wilayah Palestina yang diduduki.

Situs Walla Ibrani mengungkapkan, rencana pendidikan itu telah diluncurkan tahun lalu dan telah diberlakukan di sekolah dasar dan menengah Arab, Druze dan Sirkasia, demikian Palestinian Information Center (PIC) melaporkan, Selasa (14/4).

Situs itu menunjukkan, buku-buku baru akan dibagikan kepada siswa dari kelas 7 hingga 12 di sekolah non-Yahudi.
Pada peringatan Holocaust yang akan diperingati pada Rabu (22/4) depan, kementerian akan membahas dengan beberapa perwakilan Arab bagaimana mewujudkan rencana tersebut.

Untuk sensitivitas mengenai masalah tersebut, Kementerian Pendudukan Israel memutuskan untuk mewujudkan rencana secara bertahap kepada kepala dan pengawas sekolah untuk menutup semua sekolah non-Yahudi yang bertujuan menerapkan rencana pada akhir tahun depan.

Sebaliknya, Kementerian Israel menolak untuk mengajarkan tragedi Nakbah Palestina, peristiwa perampasan tanah Palestina oleh entitas Zionis pada 1948, di sekolah-sekolah Arab.,(br)

(nahimunkar.org)

(Dibaca 163 kali, 1 untuk hari ini)
Next Post

Related Post

Bahan bakar habis, 6 rumah sakit di Gaza ditutup
GAZA (Arrahmah.com) – Kementerian Kesehatan Palestina memperingatkan bencana kemanusiaan dan kesehatan yang belum pernah terjadi sebelumnya

Related Post

London Gelar Festival Palestina Terbesar 2018
Ilustrasi aksi bela Palestina London (SI Online) – London menjadi tuan rumah festival Palestina terbesar 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *