Paul Zhang Wayang, Siapa Dalang?

  • Kini lakon Zhang sedang menarik, isu sensitif penistaan agama oleh pendeta dan pendukung PKI bermata sipit. UU ITE dan KUHP Pasal 156 a layak untuk dikenakan kepadanya. 
  • patut dilihat keseriusan penanganan sebab jika Zhang lolos, dipastikan ia adalah tabungan atau  investasi jangka panjang. 

     


 

by M Rizal Fadillah *)

Semua mengecam Joseph Paul Zhang, pendeta, pendukung PKI, penista Nabi. Meski kesehatan fikirannya diragukan karena mengaku Nabi ke 26 pandangan ngawurnya mengguncang negeri. Berkoar dari luar negeri, tak kurang Menag Yaqut menjadi sasaran dan mendesak Zhang  untuk segera ditangkap. Konon sedang diburu interpol.

Perasaan umat Islam di Indonesia ini terus sedang diacak-acak. Penistaan agama hanya salah satu sisi saja. Ada kriminalisasi, radikalisme, dan terorisme. Peran agama dalam berbangsa dan bernegara yang dikecilkan atau dimarginalkan. Zhang hanya model gerakan yang sama dengan Janda, Densi, Laiskodat, Armando atau teman teman lainnya. 

Artinya Jozeph Paul Zhang tidak berdiri sendiri dan dapat untuk dimunculkan kapan saja. Tokoh JPZ bukan baru, rekam jejaknya telah muncul sebelumnya. Meski telah ke luar dari Indonesia sejak tahun 2018 dan katanya telah melepas status WNI nya akan tetapi semua haruslah dibuktikan. Kepolisian dituntut untuk mampu menangkap dan mendeportasi segera ke Indonesia. 

Seperti biasa urusan seperti ini tak mungkin muncul suara Presiden, mungkin terlalu kecil. Urusan Pancasila dan Bahasa Indonesia saja kecil kok. Apalagi agama yang dinista-nista. Yang harus dibesarkan adalah Gibran dan tetap tersanderanya para anggota Koalisi. Urusan tiga periode juga tak kalah penting. Soal Zhang “bukan urusan saya”.

Zhang itu wayang ? Semua serba mungkin. Ia kini melayang “tunduk pada hukum Eropa” katanya. Komunitasnya pasti mendukung. Jika wayang ini dimainkan konspirasi global, dengan target Indonesia, khususnya umat Islam, maka diduga ada jaringan di tingkat nasional yang ikut bermain. Karenanya patut dilihat keseriusan penanganan sebab jika Zhang lolos, dipastikan ia adalah tabungan atau  investasi jangka panjang. 

Dalang selalu sembunyi dalam memainkan wayang. Wayang golek atau kulit selalu ada jalan ceritra tentang kapan muncul kapan masuk kotak. Kapan perang kapan bercanda. Semua di atur dalang. Tim penabuh gamelan membantu suasana ceritra. Kini lakon Zhang sedang menarik, isu sensitif penistaan agama oleh pendeta dan pendukung PKI bermata sipit. UU ITE dan KUHP Pasal 156 a layak untuk dikenakan kepadanya. 

Kunci awal adalah deportasi dahulu, baru proses sang wayang, buktikan dia tak kebal, berikut moga muncul dalang. Bila tidak, ya kasus ini dipastikan menjadi hilang dalam bayang bayang. Kegaduhan demi kegaduhan hanya datang dan pergi. Dalang memang piawai.

*) Pemerhati Politik dan Keagamaan
 

Bandung, 21 April 2021

•    Redaksi ANNAS Indonesia

•     21 April 2021 09:38

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 265 kali, 1 untuk hari ini)