Al Jazeera television journalists Mohamed Fahmy and Baher Mohamed are seen behind bars before hearing the verdict at a court in Cairo, Egypt, August 29, 2015. An Egyptian court sentenced three Al Jazeera TV journalists to three years in prison on Saturday for operating without a press licence and broadcasting material harmful to Egypt, a case that has triggered an international outcry. The verdict in a retrial was issued against Mohamed Fahmy, a naturalised Canadian who has given up his Egyptian citizenship, Baher Mohamed, an Egyptian, and Peter Greste, an Australian who was deported in February. REUTERS/Asmaa Waguih


Jenewa – Dewan Keamanan membeberkan bahwa rezim Assad melakukan upaya pemusnahan dengan membunuh ribuan tahanan, yang merupakan bentuk kejahatan perang.

Ketua Komisi Independen Penyelidikan PBB di Suriah, Paulo Pinheiro mengatakan, pemerintah rezim Assad telah melakukan kekerasan yang sistematis dengan membunuh ribuan tahanan.

“Kekerasan besar-besaran dan sistematis di Suriah termasuk pembunuhan ribuan tahanan di pusat penahanan resmi dan darurat, telah terjadi dari pandangan, jauh dari medan perang,” katanya pada Senin (8/2) saat konferensi pers di Jenewa.

Dalam sebuah laporan baru yang dirilis oleh Badan Penyelidikan PBB yang berdasarkan pada 621 wawancara, pemerintah rezim Assad telah memukuli tahanan sampai meninggal dan lainnya meninggal akibat kondisi kehidupan yang tidak manusiawi.

“Para tahanan yang ditahan oleh Pemerintah dipukuli sampai mati, atau meninggal akibat luka yang diderita akibat penyiksaan. Lainnya tewas sebagai akibat dari kondisi hidup yang tidak manusiawi,” ujarnya.

Selain itu, rezim Assad dilaporkan juga telah melakukann kejahatan perang dengan pemusnahan, pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan dan tindakan tidak manusiawi lainnya.

“Pemerintah telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan pemusnahan, pembunuhan, pemerkosaan atau bentuk-bentuk kekerasan seksual, penyiksaan, pemenjaraan, penghilangan paksa dan tindakan tidak manusiawi lainnya. Berdasarkan perbuatan yang sama, kejahatan perang juga telah berkomitmen,” bebernya.

Pinheiro juga membeberkan bahwa pejuang ISIS juga pernah melakukan hal yang sama dengan mengeksekusi para tahanan.

“ISIS melakukan pelanggaran serius termasuk penyiksaan dan ringkasan eksekusi. Para tahanan sering dieksekusi setelah pengadilan tidak sah mengeluarkan hukuman mati. ISIS telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan pembunuhan dan penyiksaan, dan kejahatan perang,” ungkapnya.

diagram
Selainnya, dalam laporan ini juga menuduh Jabha Nushrah dan kelompok oposisi lainnya juga pernah melakukan hal semacam ini, namun masih terbilang sedikit.

“Kedua kelompok, Jabha Nushrah dan oposisi Suriah yang anti-pemerintah juga pernah melakukan kejahatan perang,” pungkasnya.

Komisi tersebut merekomendasikan bahwa Dewan Keamanan PBB menjamin penegakan akuntabilitas dengan mengacu situasi ke Mahkamah Pidana Internasional atau mekanisme peradilan lainnya. [Anadolu Agency | Penulis: Dio Alifullah | Kiblat.net]

Sumber: tabayyunnews.com/February 9, 2016

 (nahimunkar.com)

(Dibaca 736 kali, 1 untuk hari ini)