(Pandangan Keagamaan Almarhum KH Ali Mustafa Yaqub Mantan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta)

Oleh: Fadh Ahmad Arifan*

Di usianya yang ke 64 tahun, alumnus Ponpes Tebuireng di Jombang yang juga Imam besar Masjid istiqlal, Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA telah meninggalkan kita semua. Wafatnya ulama menjadi tanda hilangnya ilmu. Dan hilangnya ilmu bisa menjadi hilangnya cahaya hidayah. Semasa hidupnya beliau aktif dalam dakwah baik bil qolam maupun bil lisan. Sebelum menjadi dosen di Institut ilmu al-Quran dan UIN Jakarta, almarhum pernah mengajar bahasa Arab di Tebuireng hingga 1976. Seusai dari ponpes Tebuireng, almarhum mencari ilmu ke fakultas Syariah, Universitas Muhammad bin Saud di Riyadh, Saudi Arabia. Pada tahun 1985 berhasil menggenggam gelar Master dari jurusan Tafsir dan hadis.

Almarhum selama ini dikenal sebagai ulama yang produktif menulis buku. Rata-rata sebagian besar karya tulisnya diterbitkan oleh Pustaka firdaus. Artikel ini akan memaparkan beberapa pandangan keagamaan dari almarhum. Almarhum dalam bukunya mengkritik aktivitas orientalis dalam meneliti hadis Nabi Muhammad saw. “Goldziher dan Schacht mengkaji hadis bukan untuk mencari kebenaran-kebenaran yang terkandung di dalamnya, melainkan dalam rangka mencari bukti-bukti bahwa apa yang disebut Hadis oleh kaum muslimin tidak ada kaitannya dengan Nabi Muhammad. Dan ketika bukti-bukti itu tidak ditemukan, karena memang tidak ada, mereka kemudian membuat argumen-argumen palsu untuk mendukung tujuannya.” Tulis Prof Ali Mustafa (Ali Mustafa Yaqub, Kritik hadis, 2011, hal 11).

Almarhum menekankan urgensi hadis dalam agama Islam, “Hadis atau sunnah tidak dapat dipisahkan dari agama Islam, Bahkan al-Quran sendiri memerintahkan kaum Muslimin untuk mengikuti hadis. Karenanya, setiap upaya atau pemikiran untuk melepas hadis dari agama Islam, sebenarnya hal itu tak lebih dari pelecehan terhadap al-Quran itu sendiri dan pada gilirannya hal itu akan berupaya memisahkan al-Quran dari kehidupan umat Islam” (Kritik hadis, hal 37).

Almarhum dapat dikategorikan ulama ahli hadis yang melanjutkan pembelaan Mustafa al-‘Azami (masih hidup Saudi Arabia, red NM) secara akademis terhadap hadis. Pendekatan yang digunakan almarhum lebih banyak kepada pendekatan kontekstual (maknawi). Namun dalam menghadapi hadis hadis yang berkaitan dengan permasalahan ghaib dan ibadah murni, almarhum menekankan aspek tekstual, karena dua hal tersebut tidak mampu dipahami secara utuh oleh nalar manusia (Skripsi Ni’ma Diana Cholidah, UIN Jakarta, 2011, hal 60-61).

Selanjutnya, persoalan berpakaian dalam Islam khususnya jilbab, almarhum memberikan rambu-rambu yang mudah diingat oleh orang awam, dalam berpakaian, Islam hanya mengamanatkan kriterianya saja, yaitu yang diwajibkan dengan rumus T-4, tutup aurat, tidak transparan, tidak ketat dan tidak menyerupai pakaian lawan jenis. Tentang model, Islam tidak membatasi atau melarang model pakaian apa saja. “Apabila empat kriteria tadi terpenuhi maka umat Islam dipersilahkan berpakaian yang ia sukai dan dianggap cocok untuk lingkungannya juga postur tubuhnya,” ungkapnya (Suara Merdeka, 20/5/2015).

Tentang metode penentuan arah kiblat, almarhum mempunyai metode yang sederhana, tujuannya agar orang awam tidak bingung dan memberi kemudahan dalam menerapkannya. Cukup mengetahui empat arah mata angin, yakni barat, timur, utara dan selatan yang menjadi arah terdekat menuju ka’bah. Misalnya orang berada di New york, dengan menentukan arah timur, karena timur merupakan jarak yang terdekat menuju Ka’bah (Skripsi Muhammad husnul Mubarok, UIN Yogyakarta, 2015, hal 92).

Di bukunya yang mengulas bagaimana metode Nabi dalam berdakwah, almarhum menyimpulkan bahwa dalam menjalankan dakwahnya Nabi tidak pernah berakrab-akrab dengan pelaku maksiat, tidak pernah berpenampilan glamour, tidak pernah minta diberi fasilitas mewah, apalagi pasang tarif dalam berdakwah. Almarhum memberi nasehat kepada para da’i: ”Manakala da’i  atau Mubaligh menyimpang dari contoh-contoh yang digariskan oleh Nabi, baik dalam metode, sikap, maupun perilaku hidup, maka sejak saat itu sebenarnya ia telah menghancurkan dirinya sendiri” (Ali Mustafa Yaqub, Sejarah dan metode dakwah Nabi, 2000, hal 235-236).

Kalau boleh saya membandingkan almarhum dengan Ketum PBNU yang sekarang, mereka berdua sama-sama pernah mencari ilmu di Saudi Arabia. Bedanya adalah almarhum ini anti Syiah, mengkritisi paham liberal dan cukup proposional terhadap Wahabi. Almarhum menyatakan ada lebih dari 20 poin persamaan ajaran antara KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dan Ibnu Taymiyyah. Wahabi dan NU adalah dua keluarga besar dari umat Islam di dunia yang harus saling mendukung. Karenanya, membenturkan antara keduanya sama saja kita menjadi relawan gratis Zionis untuk melaksanakan agenda Zionisme, seperti tertulis dalam Protokol Zionisme (lihat Republika 13/2/2015). Sementara itu, Ketum PBNU yang sekarang bermesraan dengan syiah, terjangkit virus liberalisme dan alergi kepada wahabi.

Sebelum menutup artikel ini, Ketika menjelang Muktamar NU ke-33 di Jombang, bangsaonline.com sempat mewawancarai kiai yang dikenal sangat tegas itu. Saat itu ia mengingatkan bahwa Syiah dan Islam Liberal (Islib) sudah masuk ke PBNU. ”Ada pengurus PBNU yang selalu membela Syiah dan selalu hadir dalam acara-acara Syiah. Paling tidak dia selalu hadir dalam acara Asyura dan selalu menjadi pembicara utama,” kata pendiri Pesantren Darus Sunnah di Ciputat ini. Menurutnya, PBNU harus diselamatkan dari orang yang berpaham Syiah karena ke depan sangat bahaya, baik bagi NU maupun bagi negara Indonesia yang menganut NKRI dan Pancasila. Wallahu a’lam.

*Pengajar Aqidah akhlak di MA Muhammadiyah 2 kota Malang

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.177 kali, 2 untuk hari ini)