PBNU: Kenapa Jokowi Pertahankan Menag Fachrul yang Sering Buat Keributan Ini?


Ilustrasi. Abu Janda (kiri), Menag Fachrul Razi (kanan). Foto/beritaislam

Jakarta, – Wakil Ketua Lembaga Perekonomian PBNU, Umar Hasibuan buka suara soal sepak terjang Menteri Agama, Fachrul Razi.

 

Mantan staf khusus Mendagri Gamawan Fauzi ini juga mempertanyakan sikap Presiden Joko Widodo yang masih mempertahankan Fachrul Razi di kursi Menag.

 

Hal ini dia sampaikan lewat akun twitter pribadinya untuk menanggapi terkait rencana Menteri Agama Fachrul Razi yang bakal melakukan program ‘sertifikasi penceramah agama’.

 

Pak @jokowi kenapa sih Anda tetap pertahankan Menag yang sering bikin keributan di negara ini? Hari ini entah keributan apalagi yang akan Menag lakukan,” tulis Umar di akun Twitter @umar_hasibuan75 meretweet tulisan bertajuk “Kemenag Tegaskan Bukan Sertifikasi Penceramah, tapi Penceramah Bersertifikat”.

 

Tak hanya itu, Umar Hasibuan juga menentang tudingan Menag Fachrul Razi, bahwa huffaz Al Quran bagian dari kaum radikal.

 

Saya bingung kenapa Menag benci banget dengan Islam. Sampai nuduh Huffaz Al Qur’an bagian kaum radikal. Sebagai pemilik pesantren yang santri saya para Huffaz Al Qur’an jujur saja saya marah dengan ucapan Menag ini. Karena saya gak pernah ajarkan santri/wati saya jadi teroris dan radikalis,” tegas @umar_hasibuan75.

 

Disisi lain, Politisi PKS Hidayat Nur Wahid menyebut klarifikasi Kemenag soal sertifikasi penceramah itu justru akan menambah kontroversi.

 

“Ini klarifikasi yang akan nambah kontroversi. Apalagi katanya “tak ada konsekwensi apapun”. Maka untuk apa ngotot membuat program yang resahkan Umat, ditolak banyak pihak seperti SekUm MUI? Apalagi program & anggarannya belum pernah di-acc oleh DPR. Dibatalkan lebih baik!” tegas Hidayat di akun Twitter @hnurwahid.

 

Pak @jokowi kenapa sih anda tetap pertahankan Menag yg sering bikin keributan dinegara ini? Hari ini entah keributan apalagi yg akan Menag lakukan. https://t.co/VHov8JDhyQ

— Umar Hasibuan (@umar_hasibuan75) September 7, 2020

 

Sebelumnya, Belum tuntas masalah tudingan huffaz Al Quran bagian kaum radikal, Menteri Agama Fachrul Razi kini dihadapkan pada masalah ‘sertifikasi penceramah agama’.

 

Soal sertifikasi penceramah itu, Direktur Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin membeberkan bahwa program yang dicanangkan Kemenag itu, bukan sertifikasi penceramah tetapi “Penceramah Bersertifikat”.

 

Menurut Kamaruddin, program itu merupakan arahan dari Wapres Ma`ruf Amin yang juga merupakan Ketum MUI.

 

Selain itu, Menag Fachrul Razi mengungkapkan, cara masuknya paham-paham radikalisme di aparatur sipil negara (ASN) bisa melalui Masjid-masjid.

 

“Cara masuk mereka gampang, pertama dikirim seorang anak yang good locking, penguasaan bahasa Arabnya bagus, hafiz (penghafal Alquran), mulai masuk, tiba-tiba jadi imam, lama-lama orang di situ bersimpati, diangkat jadi pengurus masjid, kemudian mulai masuk di Kementerian dan lain sebagainya,” kata Fachrul Razi dalam acara webinar bertema ‘Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara’, yang disiarkan melalui channel Youtube, Kemenpan/RB (02/09).

 

(Annisa\Editor)

law-justice.co, Selasa, 08/09/2020 06:31 WIB

***

HATI-HATI DENGAN RUWAIBIDHAH


Assalamua’laikum,

Hati Hati dengan Ruwaibidhah

Imam Ibnu Majah meriwayatkan di dalam Sunannya :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yazid bin Harun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdul Malik bin Qudamah al-Jumahi menuturkan kepada kami dari Ishaq bin Abil Farrat dari al-Maqburi dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Hadits yang agung ini menerangkan kepada kita:

Peringatan akan bahaya berbicara tanpa landasan ilmu. Allah ta’ala berfirman

{وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا } [الإسراء: 36]

(yang artinya), “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua akan dimintai pertanggung-jawabannya.” (QS. al-Israa’ : 36).
Allah ta’ala juga berfirman

{ يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (168) إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ } [البقرة: 168، 169]

(yang artinya), “Hai umat manusia, makanlah sebagian yang ada di bumi ini yang halal dan baik, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi kalian. Sesungguhnya dia hanya akan menyuuh kalian kepada perbuatan dosa dan kekejian, dan agar kalian berkata-kata atas nama Allah dalam sesuatu yang tidak kalian ketahui ilmunya.” (QS. al-Baqarah : 168-169). Maka barangsiapa yang gemar berbicara mengatasnamakan agama tanpa ilmu, sesungguhnya dia adalah antek-antek Syaitan, bukan Hizbullah dan bukan pula pembela keadilan atau penegak Syari’at Islam!

Hadits ini menunjukkan pentingnya kejujuran dan mengandung peringatan dari bahaya kedustaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا»

“Wajib atas kalian untuk bersikap jujur, karena kejujuran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menuntun ke surga. Apabila seseorang terus menerus bersikap jujur dan berjuang keras untuk senantiasa jujur maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai orang yang shiddiq. Dan jauhilah kedustaan, karena kedustaan itu akan menyeret kepada kefajiran, dan kefajiran akan menjerumuskan ke dalam neraka. Apabila seseorang terus menerus berdusta dan mempertahankan kedustaannya maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu).

Hadits ini juga menunjukkan pentingnya menjaga amanah dan memperingatkan dari bahaya mengkhianati amanah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ» قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ»

“Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah datangnya hari kiamat.” Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana amanah itu disia-siakan?”. Maka beliau menjawab, “Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya maka tunggulah kiamatnya.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Tidak lengkap iman pada diri orang yang tidak memiliki sifat amanah.” (HR. al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dihasankan al-Albani dalam Takhrij Misykat al-Mashabih [35] as-Syamilah).

Hadits ini menunjukkan bahwa jalan keluar ketika menghadapi situasi kacau semacam itu adalah dengan kembali kepada ilmu dan ulama. Yang dimaksud ilmu adalah al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih. Dan yang dimaksud ulama adalah ahli ilmu yang mengikuti perjalanan Nabi dan para sahabat dalam hal ilmu, amal, dakwah, maupun jihad.

Penulis: Abu Mushli Ari Wahyudi

muslim.or.id

Redaksi ANNAS Indonesia

20 Desember 2018 07:46

(nahimunkar.org)

 


 

(Dibaca 571 kali, 1 untuk hari ini)