PDIP Puji Keputusan NU Larang Istilah Kafir bagi Non Muslim, Ma’ruf Amin Sepakat dengan Keputusan NU. (lihat republika.co.id, dan viva.co.id).

Apakah mereka itu karena membela NU atau demi orang kafir?

(Belum diperoleh keterangan pasti).

***

Ma’ruf Sepakat Tak Pakai Istilah Kafir untuk Non Muslim di Indonesia

Photo : VIVA/Eduward Cawapres 01 KH Maruf Amin menerima relawan KSPI di rumahnya

VIVA – Calon wakil presiden nomor urut 01 Ma’ruf Amin menilai, usul yang dikeluarkan Nahdlatul Ulama terkait istilah kafir bagi non muslim untuk menjaga keutuhan bangsa.

Usulan yang baru saja disampaikan dalam Sidang Komisi Bahstul Masail Maudluiyah dalam Munas Alim Ulama NU itu, disampaikan agar istilah dalam keagamaan diletakkan dalam bingkai yang utuh.

“Ya mungkin supaya kita menjaga keutuhan, sehingga tidak menggunakan kata-kata yang seperti menjauhkan, mendiskriminasikan gitu. Mungkin punya kesepakatan untuk tidak menggunakan istilah itu,” kata Ma’ruf di Karawang, Jawa Barat, Sabtu 2 Maret 2019.

Meski tak hadir dalam Bahstul Masail, Ma’ruf yang juga Mustasyar PBNU ini meanggap, hal tersebut bukan ujug- ujug dilontarkan tanpa ada pertimbangan. Para ulama diyakini telah melihat kondisi saat ini yang mana penyebutan itu dalam berbagai kesempatan telah memperlihatkan jarak.

“Kalau itu disepakati ulama berarti ada hal yang diperlukan pada saat tertentu untuk menjaga keutuhan bangsa. Istilah-istilah yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan itu untuk dihindari,” ujarnya.

Sebelumnya diketahui, Munas Alim Ulama NU yang terselenggara di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, merekomendasikan usulan kepada warga Nahdliyin tak menggunakan sebutan kafir untuk warga negara yang bukan memeluk agama Islam.

Karena menurut para ulama, kata kafir dianggap mengandung unsur kekerasan teologis. Kesepakatan tersebut bukan berarti menghapus kata kafir. Hanya saja, penyebutan kafir di Indonesia dirasa tidak bijak karena dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, ada keterlibatan aktif warga negara non muslim.

https://www.viva.co.id/pemilu/berita-pemilu/1126388-ma-ruf-sepakat-tak-pakai-istilah-kafir-untuk-non-muslim-di-indonesia

***

Tidak takutkah mereka dengan ancaman keras Rasulullah shallallahu ‘alaihi w sallam?

Kongres NU 1927 di Surabaya Menjunjung Sepuluh Jari Pemerintah Belanda https://www.nahimunkar.org/kongres-nu-1927-menjunjung-sepuluh-jari-pemerintah-belanda/

Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2019 di Banjar Jawa Barat menetapkan untuk tidak lagi memakai kata kafir untuk menyebut warga non muslim. https://www.facebook.com/HartonoAhmadJaiz/posts/2018575211592818?__tn__=K-R

Keputusan NU 2019 itu dipuji oleh PDIP, sedang Ma’ruf Amin menyepakati keputusan NU 2019 yang menetapkan untuk tidak lagi memakai kata kafir untuk menyebut warga non muslim.

Padahal, NU Ganti Sebutan Kafir untuk Non Islam Jadi Muwathinun hanya Membebek Celoteh Ulil yang Memuji Fahmi Huwaidi Mesir?

Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama menetapkan untuk tidak lagi memakai kata kafir untuk menyebut warga non muslim.

Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU KH Abdul Muqsith Gozali berdalih, kata kafir yang selama ini digunakan untuk melabeli warga non muslim telah menyakiti hati non-muslim. Penggunaan kata ini pun diganti dengan istilah muwathinun yang artinya warga negara.
Perlu diketahui, Konferensi Besar Nahdlatul Ulama adalah pertemuan terbesar setingkat di bawah Muktamar, kalau di Muhammadiyah namanya Sidang Tanwir. Jadi dihadiri utusan perwakilan dari pusat dan berbagai daerah.
Kegiatan NU kali ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu-Jumat (27/2-1/3/2019)

***

Perlu diingat, Istilah kafir itu dari Allah Ta’ala. Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani yang tidak masuk Islam setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) disebut kafir itu jelas dari Allah Ta’ala.

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ [ الـبينة:6]

6. Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. [Al Bayyinah:6]

Ketika sudah ada keputusan / ketetapan dari Allah Ta’ala dan RasulNya maka tidak ada pilihan lain-lain lagi.

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا [ الأحزاب:36-36]

36. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. [Al Ahzab:36]

Kecuali kalau memang sengaja pilih dalam barisan kafir dan munafik, ya tidak ada paksaan untuk takut kepada ayat-ayat ancaman Allah Ta’ala itu. Dan juga masih ada larangan yang mustinya diperhatikan dalam hal ini. Apalagi itu atas nama ‘Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama’. Di antaranya ayat ini:

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.:

{وَلا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ}

dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. (Al-Ahzab: l)
Artinya, janganlah kamu mendengar ucapan mereka dan jangan pula meminta saran dari mereka. (Tafsir Ibnu Katsir).

NU Membebek Ulil pentolan liberal yang memuji Fahmi Huwaidi?

Wow… tampaknya NU membebek pada Ulil Abshar Abdallah dedengkot liberal yang memuji Fahmi Huwaidi orang sekuler liberal Mesir. Dalam celotehnya tahun 2003 yang lalu di situs leberalnya, Ulil memuji-muji Fahmi Huwaidi, yang bukunya dia baca berjudul Muwathinûn lâ dzimmiyyûn. Lalu situs NU pun memujinya:
…contoh ijtihad mutakhir Fahmi Huwaidi, dalam bukunya Muwathinûn lâ dzimmiyyûn, yang telah berani pada kesimpulan, kafir dzimmi untuk sekarang tidak ada lagi, diganti dengan warga negara yang disatukan oleh nasionalitas (muwâthin) (Fahmi Huwaidi, 1990)…/ http://www.nu.or.id

Siapa fahmi Huwaidi, ternyata dia adalah orang sekuler.liberal.
Fahmi Huwaidi adalah dari kalangan sekuleris liberal dari Mesir sebagaimana Thaha Husain, al-Aqqad dari Mesir dan Mahmoed Muhammad Taha dan Abdullah Ahmad al-Naim dari Sudan, Bani Sadr dan Mehdi Bazargan dari Iran, Muhammad Abid al-Jabiri dari Maroko dan Hasan al-Hakim dari Uni Emirat Arab (lihat Buku Anatomi Gerakan Dakwah Persatuan Islam oleh Prof. Dr. H. Dadan Wildan Anas, M.Hum, Dr. Badri Khaeruman, M.Ag, Dr. M. Taufik Rahman, Ma, Latif Awaludin, Ma.)
Video
https://www.facebook.com/enhalk.alfurqan/videos/1512424888890882/

Sekali lagi, tidak takutkah mereka dengan ancaman keras Rasulullah shallallahu ‘alaihi w sallam?

عن أبي هريرة رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: وَ إِنَّ اْلعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِاْلكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ تعالى لاَ يُلْقىِ َلهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فىِ جَهَنَّمَ

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba mengatakan suatu kalimat yang mendatangkan murka Allah ta’ala yang ia tidak menaruh perhatian padanya namun mengakibatkannya dijerumuskan ke dalam neraka Jahannam”. [HR al-Bukhoriy: 6478, at-Turmudziy: 2314 dan Ibnu Majah: 3970. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: shahih, lihat Shahih Sunan Ibni Majah, Shahih Sunan at-Turmudziy: 1884, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 540, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1670 dan Misykah al-Mashobih: 4813].

Berkata asy-Syaikh Salim bin Ied al-Hilaliy hafizhohullah, “Ucapan itu ada yang baik dan ada yang buruk. Yang mendatangkan keridloan Allah maka itulah yang baik, sedangkan yang mendatangkan kemurkaan-Nya maka dialah yang buruk”. [Bahjah an-Nazhirin: III/ 10]

BENCANA LIDAH

Secara umum, bencana yang ditimbulkan oleh lidah ada dua. Yaitu berbicara batil (kerusakan, sia-sia), dan diam dari al-haq yang wajib diucapkan.

Abu ‘Ali ad-Daqqâq rahimahullah (wafat 412 H) berkata:

الْمُتَكَلِّمُ بِالْبَاطِلِ شَيْطَانٌ نَاطِقٌ وَالسَّاكِتُ عَنِ الْحَقِّ شَيْطَانٌ أَخْرَسُ

“Orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara, sedangkan orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu.[3]

Orang yang berbicara dengan kebatilan ialah setan yang berbicara, ia bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Sedangkan orang yang diam dari kebenaran ialah setan yang bisu, ia juga bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Seperti seseorang yang bertemu dengan orang fasik, terang-terangan melakukan kemaksiatan di hadapannya, dia berkata lembut, tanpa mengingkarinya, walau di dalam hati. Atau melihat kemungkaran, dan dia mampu merubahnya, namun dia membisu karena menjaga kehormatan pelakunya, atau orang lain, atau karena tak peduli terhadap agama.

Kebanyakan manusia, ketika berbicara ataupun diam, ia menyimpang dengan dua jenis bencana lidah sebagaimana di atas. Sedangkan orang yang beruntung, yaitu orang yang menahan lidahnya dari kebatilan dan menggunakannya untuk perkara bermanfaat.

Bencana lidah termasuk bagian dari bencana-bencana yang berbahaya bagi manusia. Bencana lidah itu bisa mengenai pribadi, masyarakat, atau umat Islam secara keseluruhan.

Termasuk perkara yang mengherankan, ada seseorang yang mudah menjaga diri dari makanan haram, berbuat zhalim kepada orang lain, berzina, mencuri, minum khamr, melihat wanita yang tidak halal dilihat, dan lainnya, namun dia seakan sulit menjaga diri dari gerakan lidahnya. Sehingga terkadang seseorang yang dikenal dengan agamanya, zuhudnya, dan ibadahnya, namun ia mengucapkan kalimat-kalimat yang menimbulkan kemurkaan Allah, dan ia tidak memperhatikannya. Padahal hanya dengan satu kalimat itu saja, dapat menyebabkan dirinya bisa terjerumus ke dalam neraka melebihi jarak timur dan barat. Atau ia tersungkur di dalam neraka selama tujuh puluh tahun.[4]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ

Sesungguhnya ada seseorang yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya; dengan sebab satu kalimat itu ia terjungkal selama 70 tahun di dalam neraka”.[5]

Dalam riwayat lain disebutkan bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ
أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang ia tidak mengetahui secara jelas maksud yang ada di dalam kalimat itu, namun dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat”. [HR Muslim, no. 2988].

Alangkah banyak manusia yang menjaga diri dari perbuatan keji dan maksiat, namun lidahnya memotong dan menyembelih kehormatan orang-orang yang masih hidup atau yang sudah meninggal. Dia tidak peduli dengan apa yang sedang ia ucapkan. Lâ haula wa lâ quwwata illa bilâhil-‘aliyyil-‘azhîm.

=== ===

[3]. Disebutkan oleh Ibnul-Qayyim dalam ad-Dâ` wad-Dawâ`, Tahqîq: Syaikh ‘Ali bin Hasan al-Halabi, Penerbit Dar Ibnil-Jauzi, hlm. 155.
[4]. Âfâtul-Lisân fî Dhau`il Kitab was-Sunnah, hlm, 5-6, 163.
[5]. HR at-Tirmidzi, no. 2314. Ibnu Majah, no. 3970. Ahmad, 2/355, 533. Ibnu Hibban, no. 5706. Syaikh al-Albâni menyatakan: “Hasan shahîh”.

https://www.nahimunkar.org/mengendalikan-lidah/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 803 kali, 1 untuk hari ini)