Ilustrasi: primbondonit.blogspot.com

  • Sebagaimana diberitakan, bentrokan pertama kali, Kamis (29/12/2011) ditengarai dipicu karena penganut Syiah melanggar perjanjian dan kesepakatan.
  • Sedangkan pada hari Ahad (26/8 2012), kerusuhan itu sendiri dikabarkan bermula saat salah seorang masyarakat Sunni terkena bom bondet yang berisi gotri yang tertanam di areal pemukiman syiah.

Penganut  aliran sesat  Syiah di Nanggernang, Sampang, Madura, Jawa Timur, kembali diserang  warga pada Minggu 26 Agustus 2012 , menyebabkan  satu orang pengikut aliran sesat itu tewas dan lima orang lainnya terluka.

Menurut Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polres Sampang, Kompol Alfian Nurizal, lima korban yang terluka terdiri atas empat orang dari kelompok Syiah dan seorang lainnya dari kelompok penyerang.

Peristiwa yang menurut warga terjadi sekitar pukul 10.00 WIB dan menurut versi polisi pukul 11.00 WIB itu bermula saat keluarga pimpinan Islam Syiah, Ustadz Tajul Muluk, hendak mengunjungi Tajul Muluk yang dipenjara di Lapas Sampang karena kasus penistaan agama Islam.

Dalam perjalanan, mobil yang dikendarai keluarga Ustadz Tajul Muluk dicegat sekelompok pengendara motor yang mengolok-olok keluarga itu sebagai penganut ajaran sesat.

Akibat gangguan dari kelompok bersepeda motor itu, keluarga Tajul mengurungkan rencana berkunjung ke Lapas Sampang. Akan tetapi aksi kelompok orang bersepeda motor tersebut tidak sampai disitu saja.

Para pengendara motor itu terus membuntuti keluarga Ustadz Tajul hingga ke rumah mereka di Dusun Nanggernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang.

“Saat itulah terjadi bentrok antara kedua belah pihak,” tutur Alfian Nurizal.

Bentrok antara kelompok bersepeda motor dengan keluarga kelompok Islam Syiah itu membuat warga lain yang selama ini tidak suka dengan penganut aliran sesat itu berdatangan.

Massa bersenjata tajam mendatangi perkampungan warga Syiah di Dusun Nanggernang dan membakar sebagian rumah pengikut aliran itu.

Sekitar seribu warga bersenjata tajam mengepung pengikut kelompok Islam Syiah. Petugas dari kepolisian Polres Sampang berupaya menghentikan aksi itu dengan menurunkan petugas gabungan dan meminta bantuan TNI.

Kasus penyerangan kelompok Islam Syiah di Dusun Nanggernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang, Madura, kali ini merupakan kali kedua dalam dua tahun terakhir ini.

Aksi serupa juga terjadi pada akhir Desember 2011. Ketika itu rumah pimpinan Islam Syiah, mushalla dan madrasah kelompok Syiah diserang oleh massa. Sebanyak 200 pengikut Islam Syiah terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Gubernur Jatim Soekarwo meminta bantuan Kapolda Jatim Irjen Pol Hadiatmoko untuk menyelesaikan konflik Sunni-Syiah di Sampang yang hari ini membara. Penyelesaian secara persuasif diutamakan dengan mempertemukan kedua belah pihak bertikai dan difasilitasi Bupati Sampang, tokoh masyarakat, ulama, MUI, serta aparat keamanan.

“Ini kan konflik internal di dalam keislaman. Kami sudah melakukan pendekatan kepada tokoh Syiah KH Takjul Muluk dan saudaranya (KH Rois, red). Ini kan sebenarnya konflik antar keluarga yang merembet hingga rusuh sekarang,” tegas Pakde Karwo kepada wartawan usai paripurna di DPRD Jatim, Kamis (29/12/2011).

Diberitakan sebelumnya, konflik keberadaan Islam Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Karang Penang, Sampang, memanas. Ratusan massa dari Islam Sunni yang dipimpin KH Rois, membakar rumah, sekolah dan musholla milik tokoh Islam Syiah, KH Tajul Muluk, Kamis (29/12/2011), di Dusun Nangkrenang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Karang Penang.

Sebab bentrokan:

Deputi V Menko Polhukam Irjen Pol Bambang Suparno melalui pesan singkat kepada ANTARA, di Jakarta, Minggu, mengatakan berdasarkan informasi yang diperoleh peristiwa itu bermula dari sekelompok orang dari kelompok Tajul berniat ke Malang dalam rangka silaturahim, namun isu yang berkembang dikira kelompok itu akan ke Pasuruan mendatangi Imam Syiah yang di Pasuruan.

“Inilah yang menimbulkan kemarahan dari pihak Syuni dan menyerang membakar rumah kelompok Syiah,” katanya seraya mengatakan Kapolsek setempat mengalami luka di kepala akibat lemparan batu.

Sementara menurut satu sumber dari kawan di Surabaya, sebabnya adalah penganut aliran sesat syiah melanggar perjanjian dan kesepakatan. Sebagaimana diberitakan, Bentrokan pertama kali, Kamis (29/12/2011) ditengarai dipicu karena penganut Syiah melanggar perjanjian dan kesepakatan.

Sedangkan pada Minggunya (26/8), Kerusuhan itu sendiri dikabarkan bermula saat salah seorang masyarakat Sunni terkena bom bondet yang berisi gotri yang tertanam di areal pemukiman syiah

Meledaknya bom itu membuat warga sekitar turut terprovokasi. Usai insiden itu, kerusuhan pun tak terhindarkan. Para pengikut Syiah dan warga serta kelompok tersebut yang beraliran Sunni terlibat perang terbuka. Saling berhadap-hadapan, mereka bertarung dengan pedang maupun celurit yang terhunus.

Sementara itu, Komunitas Intelijen Daerah menyatakan kerusuhan disebabkan rencana pembangunan masjid Syiah.

Direktur Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) PCNU Kabupaten Sampang, Faidlol Mubarak, saat ditemui di PWNU Jatim, ia menjelaskan kasus yang memicu pembakaran di Sampang itu tidak terjadi seketika, namun berlangsung kurang lebih enam tahun.

 “Sebenarnya, ada kesepakatan bersama antara pihak yang pro-kontra bersama pemerintah, namun pemimpin Syiah Sampang Ustadz Tajul Muluk menyelipkan nada provokasi dalam dakwahnya yang menyalahi kesepakatan,” katanya.

Tidak jalannya sebagian kesepakatan itu menimbulkan masalah di antara keluarga dan akhirya berdampak buruk yang berakibat pada reaksi pembakaran. Awalnya, sebuah rumah dan madrasah milik Ustadz Tajuk Muluk di Desa Karang Gayam, Kecamatan Karangpenang, Sampang, Kamis (29/12) pagi, dibakar massa.

Setelah itu, aksi pembakaran rumah berkembang. Rumah yang dibakar massa pada siang harinya adalah milik Ustadz Iklil Almilal, penasehat Islam Syiah di Kabupaten Sampang, teman dekat pimpinan Syiah, Ustadz Tajul Muluk.

Wallahu a’lam.

Yang jelas jika kelompok pencaci sahabat dan isteri –isteri Nabi saw itu tidak dilarang di Indonesia maka peristiwa yang serupa dan yang lebih mengerikan akan menghantui bumi pertiwi ini. Karena itu mari sosialisasikan fatwa MUI Jawa Timur bahwa syiah itu sesat menyesatkan, agar syiah tidak berkembang dan tidak ada potensi untuk kerusuhan –kerusuhan  berikutnya. Jika syiah berkembang dan banyak maka Indonesia akan menyesal.

Semoga dengan peristiwa ini MUI Pusat segera keluarkan fatwa bahwa syiah sesat menyesatkan harus dilarang di Indonesia. Aamiin (gensyiah) August 26, 2012

***

Bentrok Umat Islam dengan Syiah di Sampang, MUI Jatim minta semua pihak menahan diri

SAMPANG – Bentrokan fisik kembali terjadi antara kaum Muslimin Sunni dengan pengikut syiah di Desa, Nangkernang, Sampang, Madura. Sedikitnya, satu orang tewas dan lima orang luka-luka dari kelompok Syiah, Minggu (26/8/2012).

Lima korban lainnya menderita luka-luka. Masing-masing sebanyak empat orang dari kelompok Islam Syiah dan satu orang dari kaum Muslimin. Satu di antara empat orang korban penyerangan itu kritis.

Bentrokan pertama kali, Kamis (29/12/2011) ditengarai dipicu karena penganut Syiah melanggar perjanjian dan kesepakatan.

Sedangkan pada Minggunya (26/8) seperti dilansir detikcom, Kerusuhan itu sendiri dikabarkan bermula saat salah seorang masyarakat Sunni terkena bom bondet yang berisi gotri yang tertanam di areal pemukiman syiah.

Meledaknya bom itu membuat warga sekitar turut terprovokasi. Usai insiden itu, kerusuhan pun tak terhindarkan. Para pengikut Syiah dan warga serta kelompok tersebut yang beraliran Sunni terlibat perang terbuka. Saling berhadap-hadapan, mereka bertarung dengan pedang maupun celurit yang terhunus.

Karena kalah jumlah, pengikut Syiah kewalahan. Satu orang pengikut Syiah bernama Hamamah (50) tewas setelah usus perutnya terburai terbacok senjata tajam. Kerusuhan itu juga membawa korban 5 orang luka berat, sebagian besar dari kelompok Syiah. Para pengikut Sunni terus melakukan aksinya dengan membakar puluhan rumah milik pengikut Syiah

Sementara itu, Ketua MUI Jawa Timur Kiyai Abdush Shomad Buchori mengatakan belum bisa memberi keterangan terkait pemicu peristiwa tersebut sebenarnya, dikarenakan laporan belum diberikan kepadanya.

“Saya belum bisa berkomentar, sebab saya belum mendapatkan laporan tertulis dari sana (Sampang) dan belum kesana,”ujar Kiyai Buchori kepada arrahmah.com ,Minggu (26/8)

Lanjutnya, Ia meminta semua pihak untuk menahan diri untuk tidak saling serang.

“Semua pihak menahan diri dan segera diselesaikan, terutama pemerintah dan ulama, untuk segera bersama menyelesaikan,”tutupnya.

Saat ini, untuk mencegah bentrokan semakin meluas, satu kompi Brimob dan 120 anggota Dalmas Polres Sampang – Bawah Kendali Operasi (BKO) dari Polres Pamekasan dan Bangkalan diturunkan. (bilal/arrahmah.com) Ahad, 26 Agustus 2012 19:34:42

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.430 kali, 1 untuk hari ini)