Shodiq Ramadhan | Sabtu, 23 Februari 2013

mashadi-pk_823562842524

Jakarta (SI ONLINE) – Korupsi yang terjadi di negara ini merupakan persoalan sistemik. Bisa dikatakan, semua pejabat tidak ada yang tidak terlibat korupsi. Hanya tingkatan korupsinya saja yang berbeda.

“Good Governance itu utopia. Karena tidak ada komitmen yang sungguh-sungguh untuk membangun Indonesia yang bersih bebas dari korupsi,” kata mantan anggota DPR Ustad Mashadi, dalam Majelis Taqarrub Ilallah dan Temu Pembaca Suara Islam, di Masjid Baiturahman, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (23/2/2013).

Menurut Mashadi, hal itu diakibatkan komitmen kekuasaan bukan untuk beribadah kepada Allah Swt tetapi sebatas untuk meraih materi. Kasus korupsi yang menimpa sejumlah tokoh politik, termasuk ketua umum parpol, dinilai Mashadi hanya merupakan puncak gunung es.

“Walaupun menjadi pemimpin partai dakwah, awalnya minta Mahar terus minta Maharanie,” kata pendiri Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu sembari menyindir seorang bekas ketua partai yang didirikannya itu.

Mashadi lantas bercerita. Anggota Dewan bergelimangan dengan uang haram itu sebenarnya tidak hanya terjadi saat ini saja. Pada saat dia menjadi anggota DPR praktik-praktik suap itu telah merajalela. Suatu waktu dia disodori segepok uang berjumlah Rp20 juta oleh koleganya di DPR.

“Dia bilang, sudah terima saja nanti dosanya saya yang nanggung,” kata Mashadi menirukan ucapan kawannya itu. Untungnya, Mashadi adalah salah satu dari segelintir politikus DPR yang saat itu dikenal bersih dan sederhana. Sehingga segala bentuk suap itu ditolaknya. “Saya jadi merasa paling malu itu ya jadi anggota DPR,” ungkap Mashadi yang pernah duduk di Komisi I DPR  itu dengan sorot matanya yang tajam.

Mashadi yang pada periode 1999-2004 juga menjadi anggota Badan Anggaran DPR itu lantas mengkritik keras perilaku para politikus Muslim, termasuk parpol Islam saat ini yang menerapkan prinsip menghalalkan segala cara dalam meraih tujuan. “Ini fenomena penyimpangan (inhiraf) yang luar biasa di Indonesia,” katanya.

Mantan anggota dewan yang tak malu-malu menggunakan motor Kymco saat berkantor di Senayan itu lantas membandingkan kondisi di Indonesia dengan kondisi di Timur Tengah saat ini. Menurut Mashadi, jika di Timur Tengah orang berbondong-bondong dari sekuler kembali kepada Islam, di Indonesia malah sebaliknya.

“Di sini dari Islam menjadi sekuler. Mereka bobrok, tidak ada komitmennya terhadap Islam,” tandasnya.
red: shodiq ramadhan

(nahimunkar.com)

(Dibaca 997 kali, 1 untuk hari ini)