•  Pekan Kondom Nasional, Negara Sponsori Seks Bebas
  • Pekan Kondom Nasional Timbulkan Masalah Baru
  • Orang bodoh pun tahu bahwa menyodorkan kondom sama saja dengan menyuburkan seks bebas. Apalagi, faktanya kondom justru dibagi-bagikan di lokasi-lokasi pelacuran, hotel dan tempat-tempat hiburan yang rentan terjadinya zina yang mayoritasnya berusia produktif, lantas apa namanya kalau bukan menganjurkan zina?
  • Patut dicurigai program ini mengandung motif bisnis, langsung atau tidak. Para pebisnis kondomlah yang akan mengeruk keuntungan dari program seperti ini. Program ini juga akan melanggengkan dan menyuburkan pelacuran dan perzinaan. Itu artinya bisnis kemaksiyatan ini akan makin besar dan menguntungkan pelaku dan kapitalis bisnis ini.

Inilah berita dan kecaman terhadap Pekan Kondom Nasional 1-7 Desember 2013 yang dinilai akan memicu perusakan moral bangsa. Dikhawatirkan, perzinaan akan merajalela.

***

AILA: Picu Seks Bebas, Tolak “Pekan Kondom Nasional”

itoday – Penanggulangan Aids melalui sosialisasi penggunaan kondom kepada pelajar, mahasiswa serta  masyarakat umum, justru akan memicu perilaku seks bebas yang kontraproduktif. Untuk itu, Pekan Kondom Nasional (PKN) yang digalang Komisi Penanggulangan Aids Nasional (PAN) harus ditolak.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia,  Bahtiar Nasir, kepada itoday (29/11) menyikapi PKN 2013 yang akan digelar pada 1-7 Desember 2013, di 12 kota besar Indonesia.

Terkait penanggulangan Aids di Indonesia, AILA akan mendukung berbagai upaya penanggulangan Aids di Indonesia, yang dilakukan oleh berbagai pihak, selama upaya tersebut tidak bertentangan dengan nilai nilai moral, agama  dan budaya  Indonesia.

AILA mendukung berbagai upaya penanggulangan Aids melalui  pendekatan moral dan agama. Yaitu, melalui sosialisasi tentang bahaya seks sebelum menikah,   seks bebas atau bergonta ganti pasangan seksual,   pelacuran,  pornografi, narkoba dan menjauhi perilaku Lesbi Gay Biseksual Transgender (LGBT) untuk mengurangi resiko penularan virus Hiv Aids.

Tak hanya itu, AILA juga menghimbau kepada pihak pemerintah dan seluruh komponen masyarakat untuk  bersama-sama  mengupayakan ketahanan keluarga melalui penguatan nilai-nilai moral dan agama agar bangsa Indonesia terhindar dari infiltrasi  nilai dan budaya asing yang menyebabkan maraknya perilaku amoral di masyarakat saat ini.

Reporter: Achsin Posted On 29 Nov 2013 By : F. Hadiatmodjo

***

Pekan Kondom, Masalah Baru Tuntaskan HIV/AIDS

Jumat 25 Muharram 1435 / 29 November 2013 13:11

Oleh: Indri Syahtiani, MAHASISWI STKIP SILIWANGI BANDUNG.

TEPAT pada tanggal 1 Desember nanti pemerintah akan memperingati hari anti AIDS sedunia, meski sudah sering diperingati setiap tahun, namun nampaknya tetap saja angka penderita AIDS di negeri ini terus meningkat.

Bayangkan saja data Kementerian Kesehatan Indonesia melansir mengenai kasus HIV/AIDS di Indonesia hingga Maret 2013 jumlah orang yang terinfeksi HIV mencapai 103.759 orang, jumlah pengidap AIDS 43.347 orang, jumlah kematian karena HIV AIDS mencapai 8.288 orang.(http://id.wikipedia.org/wiki/HIV/AIDS_di_Indonesia).

Tentu saja angka ini ibarat peristiwa gunung es dimana yang terlihat baru permukaannya saja, padahal angka yang sebenarnya akan sangat jauh lebih dahsyat.

Sejatinya upaya pencegahan telah banyak dilakukan oleh pemerintah dalam meminimalisir angka penderita HIV/AIDS di negeri ini bahkan Komisi Penanggulangan AIDS nasional (KPAN) akan menggelar pekan kondom nasional. Kampanye ini akan diselenggarakan 12 kota besar pada tanggal 1 Desember hingga 7 Desember mendatang.

Sekretaris KPAN, dr Kemal Siregar menuturkan peningkatan pengetahuan dan penggunaan kondom sangat penting dalam upaya itu. “HIV sebenarnya tidak mudah menular. Virus itu menular karena perilaku berisiko seperti seks bebas maupun menggunakan jarum suntik bergantian. Kondom merupakan alat kesehatan untuk menekan angka HIV/AIDS,” tutur Kemal Menjelang hari AIDS.

Selain itu KPAN juga bekerjasama dengan salah satu perusahaan kondom ternyata sukses menjual 150 juta kondom di tahun 2013 ini. Hal ini senada seperti yang diungkapkan oleh wakil gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota, Jakarta, Selasa, 22 Oktober 2013. Basuki menuturkan dalam menanggulangi HIV/AIDS ini, “Harusnya masyarakat sadar untuk melakukan tes kesehatan sehingga HIV bisa dideteksi sedari dini.”

Sayangnya, data ini juga menyatakan bahwa masih banyak masyarakat yang belum tahu mengenai bahaya HIV/AIDS dan penularannya. “Khususnya masyarakat kelas bawah,” kata Basuki. Apalagi orang yang sering berganti pasangan saat berhubungan badan. “Misalnya, sekadar pakai kondom, baik pekerja seks maupun pelanggannya sama-sama tidak mau.”

Sungguh sangat Ironis. Dalam kampanye pencegahan HIV/Aids, solusi yang ditawarkan tampaknya bagus, Namun pada realitasnya program kondomisasi lebih menonjol. Padahal, orang bodoh pun tahu bahwa menyodorkan kondom sama saja dengan menyuburkan seks bebas. Apalagi, faktanya kondom justru dibagi-bagikan di lokasi-lokasi prostitusi, hotel dan tempat-tempat hiburan yang rentan terjadinya transaksi seks yang mayoritasnya berusia produktif, lantas apa namanya kalau bukan menganjurkan seks bebas?

Patut dicurigai program ini mengandung motif bisnis, langsung atau tidak. Para pebisnis kondomlah yang akan mengeruk keuntungan dari program seperti ini. Program ini juga akan melanggengkan dan menyuburkan prostisusi dan perzinaan. Itu artinya bisnis kemaksiyatan ini akan makin besar dan menguntungkan pelaku dan kapitalis bisnis ini.

Padahal Rasulullah SAW pernah bersabda. “Apabila zina dan riba telah merajalela dalam suatu negeri, maka sungguh mereka telah menghalalkan azab Allah diturunkan kepada mereka.” (HR Hakim)

Jelaslah, solusi ala pemerintah itu tidak memberantas faktor penyebab utama (akar masalah) atau menghilangkan media penyebarannya yaitu seks bebas. Padahal media utama penularan HIV/AIDS adalah seks bebas maka pencegahan seks bebas ini bisa efektif jika masyarakat dididik dan dipahamkan kembali untuk berpegang teguh pada ajaran agama.

Diantaranya wajibnya seorang lelaki dan perempuan untuk menutup aurat mereka (QS 33:59 & QS 24:31) ,dan menjauhi aktivitas yang mendekati zina (QS 17:32), Masyarakat yang paham bahwa hubungan seks adalah sakral dan hanya bisa dilakukan dengan pasangan sah melalui ikatan pernikahan maka dengan itu akan membentuk kehidupan sosial yang sehat.  Wallahua’lam bi asshawaab./islampos.com

***

Pekan Kondom Nasional: Negara Sponsori Seks Bebas

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) bersama DKT Indonesia dan Kementerian Kesehatan akan menggelar Pekan Kondom Nasional (PKN) pada 1 Desember hingga 7 Desember mendatang. Disebutkan, akan ada pembagian kondom secara gratis pada acara tersebut. PKN yang mengusung tema “Protect Youself, Protect Your Partner” yang sebenarnya merupakan wujud kepedulian terhadap HIV dan AIDS.

Sekretaris KPAN, Kemal Siregar, menilai PKN memiliki efektivitas yang baik, terutama untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya penggunaan kondom bagi kesehatan masyarakat. Karena itu, untuk meningkatkan efektivitasnya, cakupan sasaran perlu diperluas.

Sesat Pikir Kondomisasi

Program kondomisasi mulai digencarkan pemerintah sejak era Menkes Nafsiyah Mboi. Meski ia sendiri membantah adanya program kondomisasi, tetapi faktanya Kemenkes menjalankan program pembagian kondom kepada kalangan pelaku seks beresiko tinggi, yakni para pria pelanggan prostitusi.

Menkes beralasan, jika tidak ada program terobosan dalam penanggulangan AIDS maka pada tahun 2025 akan ada 1.817.700 orang terinfeksi AIDS. Menurutnya, satu-satunya cara untuk mencegah penularan itu adalah “dengan menggunakan kondom dari laki-laki yang berisiko kepada perempuan pekerja seks maupun istrinya.”(bbc.co.uk/indonesia, 25/6/ 2012).

Pemerintah juga memperluas program penyebaran kondom ini kepada remaja. Menurutnya mempermudah akses remaja untuk mendapatkan kondom diharapkan dapat menekan angka aborsi dan kehamilan yang tak diinginkan (detik.com, 15/6/2012).

Sepintas saja orang dapat melihat program ini mengandung sesat pikir. Diantaranya, pertama, program ini tidak menyelesaikan akar masalahnya. Akar masalahnya bukan karena tidak menggunakan kondom, melainkan perilaku seks bebas.

Kampanye penggunaan kondom untuk pelaku seks beresiko, seolah justru berkata “silahkan melakukan seks beresiko asal pakai kondom”. Seks beresiko adalah seks dengan yang bukan isteri/suami. Maka kampanye kondom sama artinya, “silahkan melakukan seks bebas termasuk zina asal pakai kondom.” Maka progam kondomisasi sama artinya kampanye dan mensponsori seks bebas.

Kedua, Kondom tidak mampu menangkal penularan virus HIV/AIDS. Pada Konferensi AIDS se-Dunia di Chiangmai, Thailand tahun 1995, diumumkan hasil penelitian ilmiah, bahwa kondom tidak dapat mencegah penularan HIV/AIDS . Sebab ukuran pori-pori kondom jauh lebih besar dari ukuran virus HIV. Ukuran pori-pori kondom sebesar 1/60 mikron dalam kondisi normal dan membesar menjadi 1/6 mikron saat dipakai. Sedangkan ukuran virus HIV hanya 1/250 mikron. Jelas virus HIV sangat mudah bebas keluar masuk melalui pori-pori kondom. Maka, jika dikatakan kondomisasi dapat menangkal penularan virus HIV/AIDS, itu jelas menyesatkan dan membodohi masyarakat.

Kondom juga tidak ampuh menangkal penyakit lainnya. Dr. Ricki Pollycove, pakar kesehatan dari California Pacific Medical Center San Francisco, mengatakan bahwa didapatkan sejumlah temuan, kondom tidak bisa mencegah penyakit herpes. Sejumlah orang tetap terinfeksi herpes meski mereka sudah menggunakan kondom dengan benar (sfgate.com, 21/1/2013).

Apalagi, peluang terjadinya cacat pada kondom yang beredar tetap ada. Di AS saja, 2 dari 100 kondom ditemukan rusak. Juga tak sedikit kondom yang rusak akibat penyimpanan yang salah. Hal itu makin diperparah oleh pemakaian yang salah, dan tak sedikit pelaku seks bebas yang menolak pemakaian kondom.

Ketiga, program kondomisasi justru menyuburkan perilaku seks bebas. Para pelaku justru mendapat pembenaran untuk melakukan perzinaan. Toh, yang penting dilakukan dengan aman (pakai kondom), pikir mereka.

Program Contekan, Untungkan Kapitalis

Patut dicurigai program ini mengandung motif bisnis, langsung atau tidak. Para pebisnis kondomlah yang akan mengeruk keuntungan dari program seperti ini. Program ini juga akan melanggengkan dan menyuburkan prostisusi dan perzinaan. Itu artinya bisnis kemaksiyatan ini akan makin besar dan menguntungkan pelaku dan kapitalis bisnis ini. Jadi kondomisasi mengandung muatan kapitalisasi untuk keuntungan segelintir orang dengan mengorbankan keselamatan dan moral publik.

Program kondomisasi hakikatnya membebek pada pola Barat, seperti AS. Penangannya dengan formula ABC. Yaitu A (Abstinensia), tidak berhubungan seks sebelum menikah. B (Be faithful), hanya berhubungan seks dengan pasangannya saja. C (Condom), jika memang cara A dan B tidak bisa dipatuhi maka harus digunakan kondom.

Barat menganggap seks bebas dan pelacuran adalah hak asasi. Bahkan seks menyimpang seperti homoseksual, lesbian, seks dengan cara kekerasan (sadomachocism), dan lainnya dianggap hak asasi. Karena itulah pemerintah manapun yang menerapkan demokrasi dan sekulerisme, seperti halnya Barat, tidak akan pernah melarang apalagi menghilangkan aneka perilaku seks bebas. Paling banter hanya seruan agar warganya berhati-hati dan melakukan seks secara aman, termasuk anjuran menggunakan kondom.

Kondomisasi dan propaganda seks aman (seks bebas) disadari atau tidak mengandung muatan jahat. Barat sengaja memasukkan dan memaksakannya ke negeri Muslim untuk menghancurkan umat Islam. Gleed Stones mantan PM Inggris pernah berucap, “Percuma kita memerangi umat Islam. Kita tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam ini bertengger Al-Quran. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Quran dari hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan musik lebih menghancurkan ummat Muhammad daripada seribu meriam. Maka tanamkanlah dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks.”

Perlu Sistem Yang Benar

Islam hanya membenarkan hubungan seks dengan suami/isteri yang sah. Inilah perilaku seks yang aman. Perilaku seks yang aman adalah menjauhi seks bebas. Safe sex is no free sex.

Mungkinkah akan berjangkit penyakit kelamin, kehamilan di luar nikah dan aborsi akibat hamil di luar nikah, bila zina tidak dibiarkan? Pastinya tidak.

Seandainya masyarakat hidup dalam tatanan sosial yang benar; pria dan wanita tidak bercampur dan tidak bergaul bebas, saling menghormati, free-sex dianggap sebagai penyakit sosial, niscaya masyarakat akan hidup tenang. Berbagai penyakit menular seksual juga tidak akan mewabah.

Namun bila tatanan sosial sudah rusak, dimana pria dan wanita dibiarkan bergaul bebas tanpa batas, perzinahan dianggap perkara lumrah, maka berbagai bencana penyakit akan melanda. Nabi saw. bersabda:

«…لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِى قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِى لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِى أَسْلاَفِهِمُ…»

“…Tidaklah tampak perzinaan pada suatu kaum sehingga mereka berani terang-terangan melakukannya, melainkan akanmenyebar di tengah mereka penyakit tha’un dan penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa umat-umat yang telah lalu…” (HR. Ibnu Majah, al-Hakim, al-Baihaqi)

Karena itu, seharusnya yang dilakukan adalah tindakan pencegahan (preventif) atas perilaku seks bebas dan tindakan kuratif untuk memberantas yang sudah ada. Karena seks bebas itulah akar masalah dari penyebaran berbagai penyakit kelamin. Semua itu hanya bisa dilakukan secara sistematis melalui penerapan sistem Islam dengan syariahnya.

Islam mewajibkan negara menanamkan keimanan dan membina ketakwaan dan rasa takut terhadap azab Allah dalam diri masyarakat. Kepada masyarakat harus ditanamkan kejinya perbuatan zina dan besarnya azab Allah kepada para pelakunya (QS al-Isra’ [17]: 32). Juga harus dipahamkan, zina dan seks bebas merusak tatanan masyarakat dan menghancurkan nilai-nilai keluarga.

Wallâh a’lam bi ash-shawâb.[] [Al-Islam edisi 682, 25 Muharram 1435 H – 29 November 2013 M]

(nahimunkar.com)

(Dibaca 689 kali, 1 untuk hari ini)