Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) bersama produsen kondom sangat semangat mengadakan Pekan Kondom Nasional (PKN) akhir tahun ini.

Hal ini untuk memperingati hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember lalu, DKT Indonesia bersama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) kembali mencanangkan Pekan Kondom Nasional yang ketujuh kalinya.

Penggencaran kampanye kondom secara nasional (oleh Menkes dan pabrik kondom) bukan solusi menanggulangi AIDS karena kondom itu jelas  tidak aman. Sebaliknya justru rawan zina yang pasti mengakibatkan dosa dan juga AIDS. Seharusnya yang diberantas itu adalah moral bejatnya. Bukan malah: silahkan kalian bejat moral kalian, asal pakai kondom. Yang bejat moralnya itu seharusnya dikenai hukum, bukan malah dibekali kondom, kalau memang manusia ini masih pakai akal!

Program aksi seperti itu sejatinya adalah perusakan besar-besaran secara sistematis, karena mengandung makna seolah mempersilakan zina, asal pakai kondom. Yang namanya dikaitkan dengan AIDS itu hanyalah jurusan pelacuran. Kalau suami isteri yang sah, maka tidak ada hubungan dengan AIDS. Kalau toh ada, itu kemungkinan ada penyelewengan di antara keduanya. Sehingga kampanye kondom hari AIDS itu lekat dengan masalah zina, seolah berzinalah, asal pakai kondom. Kalau demikian, maka itu termasuk yang dikecam oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai orang-orang yang merusak. Karena seharusnya pezina itu diberi hukuman, bukan diberi sarana.

.

Mereka itu perusak

Peringatan dari Allah Ta’ala:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (١١)

11. Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”

أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ (١٢)

12. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS Al-Baqarah: 11-12).

وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ (205) وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ  [البقرة : 205 ، 206]

205. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak wanita dan anak-anak; dan Allah tidak menyukai kebinasaan.

206. Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (QS Al-Baqarah: 205-206)

زاد المسير في علم التفسير – (1 / 197)

وحكى الزجاج عن قوم : أن الحرث : النساء ، والنسل : الأولاد . قال : وليس هذا بمنكر ، لأن المرأة تسمى حرثاً .

AzZajaj menceritakan dari suatu kaum bahwa al-harts adalah wanita dan an-nasl adalah anak-anak. Dia berkata, ini bukan tak dikenal, karena wanita itu (memang) dinamakan harts (ladang). (Zadul Masir fi ‘ilmit tafsir 1/197).

تفسير البغوي – (1 / 236)

والنسل: نسل كل دابة والناس منهم

(merusak) annasl (keturunan) adalah (merusak) keturunan tiap binatang, dan manusia termasuk mereka. (Tafsir Al-Baghawi 1/ 236)

Dalam kenyataan, wanita dan anak-anak dijadikan sasaran untuk pemerataan zina, dengan proyek nasional penyebaran gratis kondom serta dikampanyekan pada para remaja se-Indonesia, pakai dana yang dirancang secara resmi dan ketetapan resmi. Itu sama sekali bukan membangun namun merusak. Itupun merusaknya pakai duit yang diserap dari mayoritas Ummat Islam pula. Betapa dhalimnya.

***

Orang yang sudah lama dikenal sebagai pengkampanye kondom lalu diangkat jadi menteri kesehatan, program menonjol dan yang meghebohkan masyarakat adalah kampanye kondom. Itupun tingkat nasional. Bahkan kaitannya sampai merambah ke sekolah-sekolah dengan survey seberapa ukuran kelamin anak-anak sekolah. Maka hebohlah beritanya:

Heboh ‘Survei’ Ukur Kelamin Siswa SMP Sabang

Ada pertanyaan mengenai ukuran alat kelamin pria maupun perempuan. Ada gambar payudara dan alat kelamin pria

https://www.nahimunkar.org/heboh-survei-ukur-kelamin-siswa-smp-sabang/

Walaupun orang sulit mencerna apa maknanya itu, namun ketika pihak pendidikan mengemukakan bahwa itu bukan bikinan pihak pendidikan namun dari pihak kesehatan, maka tidak akan jauh kisarannya, dapat diduga berkaitan dengan kerjaan memproduk kondom. Mau tahu ukuran-ukuran yang dianggap pas. (Benar-benar licik, kalau seandainya memang begitu).

Sejak awal jadi menteri kesehatan, pengkampanye kondom itu telah mendapatkan aneka protes dari Umat Islam atas program sejak awal jadi menteri yakni kampanye kondom bahkan untuk remaja. Kini pun bukannya dia surut, malah mau diulang lagi secara nasional. Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) bersama produsen kondom sangat semangat mengadakan Pekan Kondom Nasional (PKN) akhir tahun ini.

Keruan saja ada reaksi. Di antaranya seperti berikut ini.

***

Pekan Kondom Nasional & Legalisasi Seks Bebas Harus Ditindak

Kegelisahan Ibu Rahmi Rahmawati tak berlebihan. Ia menyikapi fenomena perilaku seks bebas yang harus ditindak bukan malah disuruh pake kondom!

Beberapa hari ini ia terusik dengan berita yang cukup mengerikan. Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) bersama produsen kondom sangat semangat mengadakan Pekan Kondom Nasional (PKN) akhir tahun ini.

Hal ini untuk memperingati hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember lalu, DKT Indonesia bersama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) kembali mencanangkan Pekan Kondom Nasional yang ketujuh kalinya.

Dengan dalih mencapai target rendahnya peningkatan angka orang dengan HIV/AIDS (ODHA) bahkan program ini dikatakannya akan diadakan setiap tahun.

Masyaa Allaah!

Bukankah Ibu Menteri Kesehatan sendiri menyatakan bahwa delapan puluh persen penyebaran virus mematikan ini diakibatkan oleh perilaku seks berisiko tinggi?

Lalu siapa orang yang berprilaku berisiko tinggi itu jika bukan didominasi oleh para pekerja seks komersial dan kaum gay?

Sungguh tidak ada satu ajaran agama kami mana pun yang akan mengizinkan penyuluhan perilaku seks bebas yang aman? Terlebih sebagai seorang ibu yang sekaligus seorang muslimah, apakah penyebaran virus HIV/AIDS lebih enteng daripada meluasnya perilaku seks bebas?

Itu pun jika ia satu-satunya solusi untuk menghentikan penyebaran epidemi ini. Namun faktanya masih banyak solusi berupa kebijakan dan tindakan hukum untuk menghentikan perilaku seks bebas di tengah masyarakat. Bagaimana dengan konten-konten porno di tontonan televisi, internet, dan bahkan di buku pelajaran?

Bagaimana dengan perilaku asusila yang bahkan dilakukan oleh figur publik di negeri ini?

Sudahkah hukum ditegakkan? Jika tidak ada hukum yang bisa mempidanakan hal tersebut, kenapa kita harus mempertahankan hukum cacat seperti yang diterapkan di negeri ini sekarang di saat Islam juga memiliki hukum yang lengkap dan adil untuk diterapkan?

Demi mencegah penyebaran HIV/AIDS, kami ingin para pelaku seks bebas dan melanggar ajaran agama yang tinggi ditindak secara hukum bukan malah di bekali kondom! Wallaahu a’lam.

Rahmi Rahmawati

Ibu Rumah Tangga

amimoslem@yahoo.com

http://www.voa-islam.com/read/article/2013/11/26/27787/pekan-kondom-nasional-legalisasi-seks-bebas-harus-ditindak/#sthash.21yCJ7gG.dpuf

Sorotan berikut ini perlu direnungkan pula.

***

Heboh ‘Survei’ Ukur Kelamin Siswa SMP Sabang

Ada pertanyaan mengenai ukuran alat kelamin pria maupun perempuan. Ada gambar payudara dan alat kelamin pria

Survey itu dari Kemenkes yang Menteri Kesehatannya, Nafsiah Mboi adalah orang yang dikenal pernah heboh pula karena punya program kampanye kondom untuk remaja. Apakah survey itu ada maksud terselubung untuk menentukan ukuran-ukuran pembuatan kondom bagi para remaja agar ukurannyan pas dan tidak takut zina?

Pada lembaran ke-5, Nurlina kaget lantaran ada pertanyaan mengenai ukuran alat kelamin pria maupun perempuan.

“Ada gambar payudara dan alat kelamin pria. Anak diminta lingkari mana yang sesuai dengan miliknya,” tutur Nurlina saat berbincang dengan Liputan6.com, Sabtu (7/9/2013).

“Itu kuesioner milik dinas kesehatan,” kata Kepala SMPN 1 Sabang Syarifah Nur saat dikonfirmasiLiputan6.com dari Jakarta, Jumat (6/9/2013). “Brosur itu milik dinas kesehatan, sudah ada sejak tahun lalu, bukan milik sekolah. Yang bertanggung jawab harusnya dinas kesehatan.”

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang Pornografi dan Napza, Maria Advianti mengatakan, pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner tentang ukuran kelamin sangat tidak masuk akal, jika dikaitkan dengan kesehatan reproduksi.

“…ini buatan Kementerian Kesehatan,” kata Direktur Bina Kesehatan Anak Kemenkes, Jane Soepandi, di Kementerian Kesehatan, Sabtu (7/9/2013).

ADA KAITANNYA DENGAN TEKAD MENKES PENYEBARAN KONDOM UNTUK REMAJA ?

Menteri kesehatan kan memang sejak diangkatnya telah bertekad menyebarkan kondom untuk remaja.  Lalu ditentang keras oleh para ulama dan Umat Islam.

Perempuan yang punya suami non Islam kalau memang dia muslimah maka perkawinan itu hukumnya haram dalam Islam, QS 60: 10) itu telah mengkampanyekan kondom sejak tahun 90-an.

Siapa tahu dengan survey ukuran kelamin para remaja itu kemudian dijadikan bahan untuk standar bikin kondom untuk para remaja agar tidak takut berzina. Betapa dosanya kalau seandainya demikian.

 

Kampanye kondom Merusak Moral Muda-Mudi Muslim

Sudah dari tahun 1997-an dr Dadang Hawari yang juga da’i telah menyindir Nafsiah Mboi yang telah jadi “alat pabrik kondom” (?) untuk mengkampanyekan kondom dengan dalih mengurangi resiko AIDS. Padahal itu dusta belaka, menurut dr Dadang Hawari. Karena fori-fori kondom jelas dapat ditembus oleh bakteri AIDS. Jadi zina aman pakai kondom itu suatu kebodohan ganda, sudah melanggar agama, masih pula tidak menyayangi dirinya dari bahaya penyakit kotor/ kelamin.

Kini di saat penyakit kotor kencing nanah kebal obat alias tidak mempan lagi diobati sedang melanda dunia terutama Eropa (lihat artikel https://www.nahimunkar.org/15962/penyakit-kelamin-kencing-nanah-kebal-obat-dan-tidak-dapat-disembuhkan-menyebar-di-ero ), anehnya Nafsiah Mboi (muslimah yang bersuamikan orang bukan Islam?) yang sudah dikenal “gemar” kampanye kondom, tidak melek tentang bahaya-bahaya itu dan ingin jelas-jelas merusak generasi muda mayoitas muslim agar bejat moralnya dan terserang penyakit kotor. Itupun masih pula menggunakan jabatannya sebagai menteri kesehatan.

Apakah masyarakat Indonesia mengharapkan kampanye model syetan semacam itu? Tentu saja sama sekali tidak.

 Ini marah! Boleh kan marah, demi melawan kampanye model syetan?!

 (nahimunkar.com)

(Dibaca 3.070 kali, 1 untuk hari ini)