Pelajaran Berharga dari Bangkrutnya 30 Juta Usaha Dagang, dan 7 Juta Orang Kehilangan Kerja

 

  • Berdagang Itu Rawan Dusta. Dusta Itu Termasuk Maksiat. Karena Bermaksiat, Berkah pun Dicabut
  • 30 Juta UMKM Bangkrut, 7 Juta Orang Kehilangan Kerja

  • Para pedagang rawan berbuat dosa, bila tak memiliki benteng iman yang kuat
  • Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
  • (إِنَّ التُّجَّارَ هُمُ الْفُجَّارُ.) قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَوَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ؟ قَالَ: (بَلَى، وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ ، وَيَحْلِفُونَ ، وَيَأْثَمُونَ.)
  • Sesungguhnya para pedagang adalah orang yang fajir (pelaku maksiat).” Beliau pun ditanya, “Bukankah Allah telah menghalalkan jual beli?” Beliau berkata, “Ya, tetapi mereka berbicara kemudian berdusta, dan mereka bersumpah dan berdosa.9 [HR Ahmad no. 15530. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dkk menyatakan, “Hadits ini shahiih, sanadnya kuat.”]

Silakan simak ini.

***

 


 

MAKSIAT SEBAB DICABUTNYA BERKAH

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 
 

MAKSIAT SEBAB DICABUTNYA BERKAH

 
 

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah (wafat tahun 751 H) menyatakan:

 
 

ومن عقوباتها ـ المعاصي ـ أنها تمحق بركة العمر وبركة الرزق وبركة العلم وبركة العمل وبركة الطاعة، وبالجملة أنها تمحق بركة الدين والدنيا، فلا تجد أقل بركة في عمره ودينه ودنياه ممن عصى الله، وما محيت البركة من الأرض إلا بمعاصي الخلق، قال تعالى: وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاء – الأعراف:96

 
 

“Dan di antara bentuk efek buruk maksiat, dia ini menghapuskan:

• Keberkahan umur,

• Keberkahan rezeki,

• Keberkahan ilmu,

• Keberkahan amal, dan

• Keberkahan ketaatan.

• Dan secara umum kemaksiatan itu menghilangkan KEBERKAHAN DUNIA dan AGAMA.

 
 

Engkau tidak akan mendapati orang yang paling sedikit keberkahan umurnya, keberkahan dunia dan agamanya, melebihi seorang yang bermaksiat kepada Allah ta’ala. Dan tidaklah keberkahan di muka bumi dicabut, kecuali karena kemaksiatan yang dilakukan oleh makhluk.

 
 

Allah berfirman:

 
 

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

 
 

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu. Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” [QS Al-A’raf : 96]

[Adda’ Wad Dawaa’ : 98]

 
 

 
 

Sumber: https://bimbinganislam.com/berkah-rezeki-hilang-karena-maksiat/

https://nasihatsahabat.com/

 
 

 
 

***


30 Juta UMKM Bangkrut, 7 Juta Orang Kehilangan Kerja

Ketum Akumindo mencatat 30 juta UMKM bangkrut dan 7 juta tenaga kerja informal kehilangan pekerjaan mereka karena pembatasan sosial di tengah covid-19. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Maulana Surya Tri Utama).

Jakarta,

Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Ikhsan Ingratubun mengungkap 30 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKMbangkrut akibat kebijakan pembatasan sosial di dalam negeri di tengah pandemi corona (covid-19).

Berdasarkan catatan Akumindo, hanya tersisa sekitar 34 juta unit usaha wong cilik atau berkurang hampir 50 persen dari posisi 2019 lalu yang sebanyak 64 juta unit usaha.

Saat ini sekitar 30 juta UMKM bangkrut, terutama usaha mikro saat penerapan PSBB. Lebih dari 7 juta tenaga kerja informal dari UMKM juga kehilangan pekerjaannya,” ujar Ikhsan dalam diskusi virtual yang digelar Bank Indonesia (BI), Jumat (26/3).

Ikhsan mengaku bersyukur program PSBB lambat laun dilonggarkan oleh pemerintah menjadi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro.

Hal tersebut membuat pedagang kecil perlahan mulai bangkit meski tidak dapat kembali ke posisi sebelum pandemi.

“Potret saat ini, UMKM bangkit tapi belum pulih. Bali misalnya, lumpuh total UMKM di sektor pariwisata,” jelas Ikhsan.

CNN Indonesia | Jumat, 26/03/2021 12:46 WIB

***

Para pedagang rawan berbuat dosa, bila tak memiliki benteng iman yang kuat

Para pedagang akan mendapatkan banyak ujian ketika berdagang. Jika dia tidak memiliki benteng yang kuat, maka dia akan terjatuh kepada banyak perbuatan dosa. Oleh karena itu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan ancaman kepada mereka. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(إِنَّ التُّجَّارَ هُمُ الْفُجَّارُ.) قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَوَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ؟ قَالَ: (بَلَى، وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ ، وَيَحْلِفُونَ ، وَيَأْثَمُونَ.)

Sesungguhnya para pedagang adalah orang yang fajir (pelaku maksiat).” Beliau pun ditanya, “Bukankah Allah telah menghalalkan jual beli?” Beliau berkata, “Ya, tetapi mereka berbicara kemudian berdusta, dan mereka bersumpah dan berdosa.9

Begitu pula sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ التُّجَّارَ يُحْشَرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلا مَنِ اتَّقَى وَبَرَّ وَصَدَقَ .

Sesungguhnya para pedagang akan dikumpulkan di hari kiamat sebagai orang yang fajir
(pelaku maksiat). Kecuali orang yang bertakwa, berbuat kebajikan dan jujur
.10

Contoh Bentuk Ketaatan Para Salaf Ketika Mereka Berdagang

Para sahabat radhiallaahu ‘anhum adalah orang yang sangat bertakwa kepada Allah. Allah subhaanahu wa ta’aalaa memilih mereka untuk menjadi sahabat-sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dunia. Perdagangan tidak menyibukkan mereka dari berzikir kepada Allah dan dari mengerjakan shalat lima waktu di masjid.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallaahu ‘anhuma bahwasanya beliau menafsirkan ayat “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah” dengan “dari mengerjakan shalat yang diwajibkan”.11

Mereka senantiasa mengerjakan shalat lima waktu (berjama’ah) di masjid, bila tidak ada uzur. Sangat banyak nukilan-nukilan/atsar-atsar di buku-buku tafsir menyebutkan hal tersebut12. Di antaranya adalah apa yang dikatakan oleh Imam Mathar bin Thahmaan Al-Warraaq rahimahullaah(wafat 125 H), beliau mengatakan:

أَمَا إِنَّهُمْ قَدْ كَانُوْا يَشْتَرُوْنَ وَيَبِيْعُوْنَ، وَلَكِنْ كَانَ أحَدُهُمْ إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ وَمِيْزَانُه فِيْ يَدِهِ خَفَضَهُ وَأقْبَلَ إِلَى الصَّلاَة .

“Adapun mereka (para sahabat), dulu mereka membeli dan menjual. Akan tetapi, jika seorang di antara mereka mendengar adzan sedangkan timbangannya berada di tangannya, maka dia turunkan timbangan tersebut dan memenuhi panggilan shalat.”13

 

9 HR Ahmad no. 15530. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dkk menyatakan, “Hadits ini shahiih, sanadnya kuat.”

10 HR Ath-Thahaawi dalam Syarh Musykil Al-Aatsaar X/331 no. 2083 dan At-Thabraani dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir no. 4411 dari Rifaa’ah dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab VI/484 no. 4507 dari Al-Baraa’ bin ‘Aazib. Syaikh Al-Albani menyatakan shahiih dalam Ash-Shahiihah no. 994 dan 1458.

11 Tafsiir Ath-Thabari IXX/193, no. 26358.

12 Sengaja penulis hanya menukil satu perkataan saja, karena atsar-atsar yang terdapat di buku-buku tafsir tersebut yang berbicara tentang ayat, setelah penulis teliti, ternyata hampir seluruhnya lemah.

13 Tafsiir Ibnu Abi Haatim VIII/2608, no. 14653.

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/24542-menjadi-pedagang-yang-tidak-lalai.html

(nahimunkar.org)

(Dibaca 610 kali, 1 untuk hari ini)