Pelajaran Berharga dari Paribasan Jawa, Saat Umat Kehilangan 400 Ulama

Peribahasa Jawa dan Artinya


Ilustrasi. Foto/ tulisanfebri

  • Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. (Menghalangi diberantas, melintang ditebas).
    Artinya: Semboyan atau tekad untuk menghapus kezaliman yang mencengkeram masyarakat, apapun yang dihadapi akan dilawan karena sudah di luar batas perikemanusiaan.
  • Ngundhuh wohing pakerti. (Memetik buah perbuatan sendiri). Ini merupakan kiasan untuk orang yang melakukan perbuatan buruk pasti akan memperoleh keburukan pula di kemudian hari.
  • Emban cindhe, emban siladan. (Menggendhong dengan selendang, menggendong dengan rautan bambu). orang tua atau penguasa, agar tidak membeda-bedakan perhatiannya terhadap anak ataupun rakyat (bawahannya). Yang disukai jangan lantas diberi kemudahan, sementara yang tidak disukai terus-menerus disakiti (dipersulit hidupnya).
  • Sadumuk bathuk, sanyari bumi, ditohi pati. (Menyentuh dahi (isteri), merebut sejengkal tanah, dilawan sampai mati).
    Artinya: Gambaran sikap laki-laki Jawa dalam mempertahankan kehormatan dan harga diri sebagai suami (dan isterinya) sekaligus dalam mempertahankan tanah air (bumi/tanah) sebagai warganegara. Ini berarti, perempuan (isteri) dan kepemilikan tanah (tempat tinggal) layak dipertahankan dengan darah.
  • Kaya suruh lumah-kurebe beda, nanging yen gineget padha rasane. (Seperti daun sirih, warna atas dan bawahnya beda, tapi kalau digigit sama rasanya).
    Artinya: Misalnya, penilaian terhadap Belanda dan Jepang. Meskipun yang satu dari Eropa dan yang lain dari Asia, dulu tujuan datang ke Indonesia adalah sama. yaitu menjajah.

(dipetik dari titikdua.net/peribahasa-jawa/)

***

Nasib Umat Islam kini, kehilangan 400 Ulama yang wafat dilanda wabah corona

Ini pun menarik dicermati:

  • (Seperti daun sirih, warna atas dan bawahnya beda, tapi kalau digigit sama rasanya).
    Artinya: Misalnya, penilaian terhadap Belanda dan Jepang. Meskipun yang satu dari Eropa dan yang lain dari Asia, dulu tujuan datang ke Indonesia adalah sama. yaitu menjajah.

 

Dalam Islam ada istilah al-kufru millah waahidah (kekafiran itu adalah agama yang satu). Semua kekafiran pasti benci Islam. Hanya dalam pelaksanaannya beda-beda kadar kebenciannya. Tapi semuanya benci. Bila ada kesempatan bareng2, maka kebencian itu akan ditampakkan bahkan untuk memberangus Islam dengan aneka cara dan dalih. Meskipun di antara para pelaku benci Islam itu menampakkan diri sebagai orang Islam. Tapi bila hatinya kufur, maka ya tetap benci ke Islam. Nah, itulah yang lebih berbahaya bagi Islam. Karena penampakannya adalah Muslim, namun sejatinya adalah musuh. Itulah munafik.

Di kala banyak ulama yang wafat di masa pendemi corona alias covid-19, saat itu pula Umat Islam tampaknya sedang menghadapi berbagai masalah. Saat itu pula munafik2 boleh jadi mengambil kesempatan untuk menunjukkan ‘perjuangan mereka’ bahwa mereka bukan bersama Muslimin tapi bersama kafirin. Maka tidak segan2 mereka menampakkan ulahnya, misalnya membredel pakaian sekolah, arahnya membredel jilbab dari sekolah dengan berkomplot membuat rekayasa resmi.

Ada lagi yang tergopoh-gopoh segera untuk mengubah buku pelajaran agama Islam di sekolah, begitu mendapat bisikan dari kafirn. Langsung cancut tali wondo bertandang untuk mengubah buku pelajaran agama Islam di sekolah sesuai dengan bisikan kafirin.

Ada juga yang berupaya keras untuk membuang pelajaran agama dari sekolah, meniruan PKI komunis anti agama masa lalu, dengan cara-cara licik. Ketika konangan (ketahuan) kemudian beralasan macam-macam, tidak mungkin lah, kata2 yang keluar dari mulutnya… Padahal sudah jelas ketahuan dan arahnya memang begitu…

Pokoknya, ketika dianggap momentnya kondusif untuk menghantam Islam, maka langsung hantam dengan berbagai cara, demi menyenang-nyenangkan pihak al-kufru millah waahidah.

Umat Islam perlu kembali memegangi ayat-ayat suci dan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari dulu2 Allah Ta’ala telah wanti-wanti. Namun rupanya pihak2 yang dalam hatinya ada penyakit, justru sengaja-ngaja berkomplot dengan pihak2 al-kufru millah waahidah untuk menghadapi Islam, walau menampakkan diri sebagai Muslim bahkan seakan mengaku mewakili mayoritas. Namun ayat-ayat Allah Ta’ala dibelakangi. Di antaranya ayat suci ini:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ} [آل عمران: 118]

118. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. [Al ‘Imran:118]

Demikianlah kurang lebihnya keadaan yang dihadapi Umat Islam kini. Sudah ratusan ulamanya wafat, masih pula menghadapi al-kufru millah waahidah dan gerombolan2 munafik yang semakin bertingkah seakan tidak ingat mati, walau berita kematian setiap hari ada di depan mata.

Semoga Allah Ta’ala menolong hamba-hambaNya yang menolong Islam dan Muslimin. Dan semoga Allah menghinakan manusia2 yang menghinakan Islam dan Umat Islam.

Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 236 kali, 1 untuk hari ini)