ilustrasi/ wisbenbae


Allah Ta’ala mengancam keras siapa saja yang memfitnah orang mukmin.

{وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا} [الأحزاب: 58]

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata [Al Ahzab58]

Lebih dahsyat lagi, bila fitnah terhadap orang mukmin itu merupakan bentuk ekspresi dari sikapnya terhadap Islam, maka ancaman Allah Ta’ala lebih dahsyat lagi:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُؤۡذُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمۡ عَذَابٗا مُّهِينٗا ٥٧ [سورة الأحزاب,٥٧]

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan [Al Ahzab57]

Pelajaran berharga dari peristiwa keberanian mengusik agama

Ada peristiwa yang pantas untuk dijadikan pelajaran. Di suatu malam, ada pengajian di kediaman pejabat tinggi negara di Jl Gatot Subroto Jakarta tahun 1987-an zaman pemerintahan Pak Presiden Soeharto. Yang hadir adalah para pejabat, di antaranya di shaf depan ada seorang terkemuka di Nusantara dikenal sangat dekat dengan pemimpin tertinggi. Masyarakat mengenalnya sebagai tokoh spiritual semacam kejawen. Dia datang cukup menonjol untuk dipandang karena dua fakor. Pertama, sudah begitu tua, hingga harus berjalan pakai tongkat, sedangkan para pejabat ya walaupun sebagian berumur tua, namun tidak ada yang pakai tongkat. Kedua, karena hadirin merasa jengak, seperti heran, kok ada, sesepuh suatu keyakinan berkenan menghadiri pengajian, yang mungkin jarang terjadi yang begitu.

Berbicaralah pengisi pengajian seorang tokoh terkemuka alumni Chicago Amerika yang pintar memlintir dalil. Bahkan pernah sampai berani mengemukakan pendapat dengan mengutip pendapat orang bahwa iblis (rajanya setan) kelak akan masuk surga dan surganya tertinggi, karena tauhidnya murni, karena tidak mau sujud kepada Adam, katanya.

(Pendapat itu bukan dilontarkan di pengajian ini, tapi dilontarkan di pengajian Paramadina oleh tokohnya itu di kawasan Blok M Jakarta. Dan itu jelas bertentangan dengan ayat Al-Qur’an yang menegaskan iblis masuk neraka.

قَالَ فَٱلۡحَقُّ وَٱلۡحَقَّ أَقُولُ ٨٤ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنكَ وَمِمَّن تَبِعَكَ مِنۡهُمۡ أَجۡمَعِينَ ٨٥ [سورة ص,٨٤-٨٥]

  1. Allah berfirman: “Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan”
  2. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya [Sad,84-85]

Dalam Tafsir Bayanul Ma’ani dijelaskan

«لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكَ» نفسك وذريتك وجنسك من الشياطين والجن والمردة «مِمَّنْ تَبِعَكَ» في الإغواء والضلالة والغواية والإضلال «مِنْهُمْ» من ذرية آدم الذين أقسمت على إغوائهم «أَجْمَعِينَ 85» توكيد للضميرين في منك ومنهم أي التابعين والمتبوعين.

Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam denganmu, dirimu (iblis) dan keturunanmu dan jenismu yaitu setan-setan dan jin. Dan (juga) para pembangkang, orang-orang yang mengikuti kamu dalam penyelewengan dan kesesatan dari mereka yaitu dari keturunan Adam yang kamu telah bersumpah untuk menyesatkan mereka semuanya artinya mereka yang mengikuti dan diikuti (semuanya memenuhi neraka jahannam)./ (Bayanul Ma’ani oleh عبد القادر بن ملّا حويش السيد محمود آل غازي العاني (المتوفى: 1398هـ), 1/326, Maktabah Syamilah).

Kembali ke pengajian di kediaman pejabat tinggi tersebut, sang pembicara yang ahli memlintir agama ini dalam pidatonya menyelipkan pujian terhadap tokoh spiritual yang duduk di barisan depan itu. Seakan-akan mengandung makna bahwa tokoh tua dikenal dengan ahli spiritual itu sebagai tokoh keyakinan yang memang “diutus” untuk kaumnya.

Bagi yang sudah tahu dan jeli terhadap trik-trik kelicikan penceramah itu pasti tahu bahwa itu merupakan pujian palsu (entah karena menjilat atau tidak, wallahu a’lam) dengan memlintir  makna ayat ini.

{ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ } [فاطر: 24]

Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan [Fatir; 24]

Dengan siraman racun dari penceramah itu maka seakan kepala-kepala hadirin ini diputar untuk beralih keyakinan, dari meyakini hanya Islam yang benar dan diterima oleh Allah Ta’ala, menjadi semuanya benar dan boleh-boleh saja.

Keruan saja langsung shahibul bait yang saat itu jadi menteri agama menyampaikan terimakasih dan bergembira dalam sambutan terakhirnya. Sampai-sampai dia katakan, kalau bahasa anak santri dulu, ini bagai makan sate yang sangat enak, hingga tidak usah kumur-kumur sampai besok pagi, agar masih terasa enaknya…  maka materi yang begitu enaknya ini tidak usah saya tambah-tambahi lagi, katanya.

Peristiwa itu entah ada kaitan atau tidak dengan peristiwa-peristiwa selanjutnya yang menimpa tiga tokoh besar nasional tersebut. Saya tidak sedang mau mengait-ngaitkan, tapi hanya mau mengkhabarkan bahwa terdengar berita-berita. (Lha saya memang tukang menyampaikan berita, sebagai wartawan, ya saya sampaikan ini dengan harapan ada manfaatnya, bukan lantaran ingin mengait-ngaitkan).

Tokoh yang dipuji-puji itu kemudian sakit keras, dan harus dioperasi di luar negeri. Entah  berapa sambung dan potong ususnya  sang tokoh yang mengalami (pembusukan usus di sana-sini?) hingga dioperasi di manca negara itu. Penderitaan hebat itu berakhir dengan kematian. (ya semua kalau sudah sampai ajalnya ya wafat).

Penceramah yang memuji-muji dengan muatan memlintir makna ayat itu kemudian sakit langka dan belum pernah terdengar seperti dia, hingga hatinya (yang membusuk?) harus dicangkok dengan hati komunis Cina di Tiongkok. Rupanya tidak cocok, hingga ngolang-ngoling hebat, dan harus diterbangkan dengan kapal terbang ambulance dari Tiongkok ke Singapura. (Waduh, entah berapa biaya kapal terbang ambulance dari Tiongkok ke Singapura itu ya). Akhirnya dia meninggal di Jakarta setelah sekian lama menderita hebat.

Petinggi yang mengibaratkan makan sate hingga tidak perlu kumur-kumur dulu agar tetap terasa enaknya sampai besok pagi  itu kemudian sakit berlama-lama di tempat tidur, tidak bisa menggerakkan apapun dari badannya, hingga jika ilernya meler  pun tak bisa ia seka.  Isterinya pun menggeletak di dipan sebelahnya dalam kondisi mengenaskan pula. Akhirnya pun meninggal dunia setelah menderita sekian lama.

Walaupun merek tidak seterkenal sekaratnya tokoh sekuler tingkat dunia Kamal Attaturk di Turki yang menderita sakit (kotor?) sangat dahsyat sekujur tubuhnya; namun bagi yang hatinya masih ada celah untuk menerima ibrah dari keadaan, maka itu semua merupakan peringatan nyata. Lebih-lebih Allah Ta’ala telah berfirman:

{وَلَا تَقْعُدُوا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِهِ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا وَاذْكُرُوا إِذْ كُنْتُمْ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمْ وَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ } [الأعراف: 86]

Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan [Al A’raf86]

{وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ عَتَتْ عَنْ أَمْرِ رَبِّهَا وَرُسُلِهِ فَحَاسَبْنَاهَا حِسَابًا شَدِيدًا وَعَذَّبْنَاهَا عَذَابًا نُكْرًا (8) فَذَاقَتْ وَبَالَ أَمْرِهَا وَكَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهَا خُسْرًا (9) أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ آمَنُوا قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا} [الطلاق: 8 – 10]

  1. Dan berapalah banyaknya (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan Rasul-rasul-Nya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan
  2. Maka mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan adalah akibat perbuatan mereka kerugian yang besar
  3. Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu [At Talaq,8-10]

Wallaahu a’lam bisshowaab

Jakarta, Senin 15 Syawal 1438/ 10 Juli 2017

Hartono Ahmad Jaiz, penulis buku-buku Islami

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.319 kali, 1 untuk hari ini)