Berikut ini kutipan ringkas dari tulisan seorang Ustadz di sebuah media Islam tentang Ibrah Thalut versus Jalut.

Silakan simak baik-baik.

***

Ibrah ” Thalut VS Jalut “

Okt 11, 2013 | Asy Syariah Edisi 095Ibrah |

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Raja Thalut dan Pasukannya

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ ۚ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ ۚ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَاقُو اللَّهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ () وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ () فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ () تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ ۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orangorang yang telah minum berkata, “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Tatkala mereka tampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa, “Wahai Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orangorang kafir.” Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. Itu adalah ayat-ayat Allah. Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus.” (al-Baqarah: 249—252)

Setelah Thalut menjadi raja bani Israil, dan kekuasaannya semakin kuat, mereka bersiap-siap memerangi musuh mereka. Terkumpullah hampir delapan puluh ribu pasukan bani Israil. Ketika Thalut bertolak dengan pasukan bani Israil yang sangat besar, Allah Subhanahu wata’ala menguji mereka, agar jelas siapa yang kokoh dan tenang, siapa pula yang tidak, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala akan menguji kamu dengan suatu sungai, maka siapa di antara kamu meminum airnya, ia durhaka, sehingga janganlah dia mengikuti kami karena tidak ada kesabaran dan keteguhannya, karena kedurhakaannya. Dan siapa yang tidak meminum air itu, sesungguhnya dia pengikutku, kecuali menceduk dengan seceduk tangan, tidak ada dosa atasnya berbuat demikian. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala memberkahi lalu mencukupi.”

Ujian ini menampakkan hikmah Allah Subhanahu wata’ala memilih Thalut sebagai raja bani Israil. Allah Subhanahu wata’ala ingin menunjukkan kepada bani Israil bahwa Thalut memang ahli strategi perang. Beliau membawa pasukan yang sudah pernah kalah bahkan terjajah dalam sejarah peradaban mereka. Sekarang, dia mengerahkan mereka menghadapi tentara penjajah dengan kekuatan dan persenjataan lengkap. Sebab itu, tidak mungkin menghadapi tentara musuh kecuali dengan kekuatan yang melebihi lawan, dan itu hanya satu, yaitu kekuatan hati dan kemauan untuk menang. Kekuatan yang siap menundukkan keinginan syahwat dan mengalahkan desakan atau dorongan kebutuhan sesaat serta sanggup mengedepankan ketaatan terhadap pemimpin dalam semua keadaan.

Tidak ada gunanya kekuatan perlengkapan dan fisik sehebat apa pun, kalau yang memilikinya adalah orangorang yang bermental pengecut dan lemah. Lemah keinginan dan kemauannya untuk menang. Dalam ujian ini jelaslah bahwa mereka sedang kekurangan air, sehingga air yang segar itu sangat menggoda orang-orang yang kehausan. Pasir sahara yang panas, bekal yang sekadarnya, harus menghadapi musuh yang tak terkalahkan, benar-benar menambah berat ujian bani Israil ketika itu. Ujian itu menjadi saringan bagi bani Israil. Dari 80.000 prajurit, sebagian besar mereka melanggar, dan meminum air sungai sepuas-puasnya, padahal sudah dilarang. Akhirnya, mereka berbalik mundur, tidak jadi memerangi musuh mereka. Ketidaksabaran mereka menahan haus satu jam saja adalah bukti terbesar tidak adanya kesabaran mereka untuk berperang yang pasti memakan waktu lama dengan kesulitan lebih besar.

Mundurnya orang-orang tersebut dari pasukan induk, meningkatkan tawakal kepada AllahSubhanahu wata’ala, orang-orang yang tabah, semakin menambah sikap merendahkan diri, merasa hina, dan berlepas diri dari daya dan kekuatan mereka sendiri. Bahkan, berkurangnya jumlah mereka dan banyaknya musuh, semakin meningkatkan kesabaran mereka. Akan tetapi, ujian itu seakan belum berakhir. Orang-orang mukmin yang ikut bersama Thalut menyadari bahwa musuh yang akan mereka hadapi sebetulnya sangat kuat dan belum pernah kalah.

Mereka tidak melanggar janji mereka yang pernah terucap di hadapan Nabi mereka, bahwa mereka siap berperang. Akan tetapi kini, setelah menyadari bahwa musuh mereka memiliki kekuatan lebih besar dan hebat, mereka menyerah sebelum bertempur. Dari delapan puluh ribu pasukan itu, yang tersisa dan masih bertahan bersama Thalut ketika menyeberangi sungai itu, hanya sekitar 313 orang. Mereka inilah yang benar-benar memiliki kekuatan tawakal dan keimanan yang besar kepada Allah Subhanahu wata’ala

Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah Subhanahu wata’ala, yaitu orang-orang yang memiliki iman yang teguh dan keyakinan yang kuat, mereka meneguhkan yang lain, menenangkan pikiran mereka, dan memerintahkan agar bersabar, kata mereka (sebagaimana dalam ayat),

كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah,”

dengan keinginan dan kehendak-Nya. Dengan kata lain, urusan itu di Tangan Allah Subhanahu wata’ala. Orang yang mulia adalah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wata’ala, dan orang yang hina adalah yang dihinakan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Karena itu, jumlah yang banyak tidaklah berguna sedikit pun bilam dihinakan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Sebaliknya, jumlah yang sedikit, tidak akan hancur atau kalah bila ditolong oleh Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala bersama orang-orang yang sabar. Dia menolong dan memberi taufik kepada mereka. Akan tetapi, sebab yang paling utama menyebabkan turunnya pertolongan Allah Subhanahu wata’ala  adalah kesabaran hamba itu sendiri.

Akhirnya, nasihat itu masuk ke dalam hati mereka dan memberi pengaruh yang sangat besar. Itulah sebabnya, ketika mereka menghadapi Jalut dan pasukannya, Thalut dan pasukannya berdoa,

“Wahai Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami.”

Maksudnya, peliharalah hati kami, curahkanlah kesabaran untuk kami, kokohkanlah kaki kami, agar tidak goncang dan melarikan diri, serta tolonglah kami menghadapi orangorang kafir. Dari doa ini pula kita mengetahui bahwa Jalut dan tentaranya adalah orang-orang kafir. Allah Subhanahu wata’ala mengabulkan doa orangorang beriman itu, karena mereka telah menjalankan sebab-sebabnya. Allah Subhanahu wata’ala menolong mereka mengalahkan orangorang kafir itu. Dawud A’laihaissalam yang ikut dalam pasukan Thalut adalah anak bungsu Isya yang semuanya dua belas orang. Tubuhnya kecil, belum tampak layak untuk bertempur seperti prajurit lainnya.

Akan tetapi, keimanan dan keberanian Dawud jauh melebihi manusia lain. Pada waktu kedua pasukan bertemu, seperti biasa, Jalut menantang duel satu lawan satu. Pasukan Thalut tidak ada yang berani menghadapinya, padahal ketika itu Thalut telah mengumumkan bahwa siapa yang dapat membunuh Jalut akan dinikahkannya dengan putrinya dan diberinya separuh kerajaan. Bukan itu yang dicari oleh Dawud ‘Alaihissalam melainkan ridha Allah Subhanahu wata’ala. Beliau meminta izin untuk maju, tetapi dicegah oleh Thalut. Akhirnya Dawud ‘Alaihissalam maju sendiri dan menyambut tantangan Jalut dan membunuh raja kafir itu dengan keberanian, kekuatan, dan kesabarannya. Thalut dan tentaranya dimenangkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Mereka kembali ke negeri mereka dan Thalut menepati janjinya, menikahkan Dawud dengan putrinya dan membagi dua kerajaan bani Israil. Kemudian, Allah Subhanahu wata’ala memberi karunia kepada Dawud untuk menguasai bani Israil dengan hikmah, yaitu nubuwah yang meliputi syariat yang mulia dan jalan yang lurus. Setelah Allah Subhanahu wata’ala menolong mereka, tenanglah mereka di negeri-negeri mereka menyembah Allah Subhanahu wata’ala dalam keadaan aman sentosa, karena musuh mereka menjadi hina dan mereka pun berkuasa di muka bumi. Wallahu a’lam.

Beberapa Faedah

Allah Subhanahu wata’ala menggabungkan antara kerajaan dan kenabian untuk Nabi Dawud. Padahal, sebelum beliau, sudah ada nabi tetapi yang menjadi raja adalah orang lain. Sebagaimana disebutkan, bahwa asbath di kalangan bani Israil terbagi dua, yang satu menurunkan raja-raja, yang lain melahirkan para nabi. Kisah ini adalah salah satu bukti kebenaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Andaikata bukan berita yang disampaikan Allah Subhanahu wata’ala kepada beliau, tentulah beliau tidak mempunyai ilmu tentang peristiwa itu. Bahkan, tidak ada seorang pun di antara kaumnya yang mempunyai pengetahuan tentang hal ini. Di dalam kisah ini terdapat tandatanda (kekuasaan AllahSubhanahu wata’ala) dan pelajaran yang dapat dipetik oleh orang-orang yang berakal sehat (Ulul Albab), antara lain sebagai berikut.

  1. Kata sepakatahlul hill wal aqdi, pembahasan dan pemahaman mereka terhadap cara agar sempurnanya urusan mereka lalu mengamalkannya, merupakan sebab utama bertambahnya kemuliaan mereka dan tercapainya tujuan mereka. Sebagaimana dialami para pembesar ini, mereka merujuk kepada nabi mereka dalam menentukan raja mereka sehingga mereka bersatu dan taat di bawah pimpinan raja tersebut.
  2. Kebenaran itu, semakin dihalangi atau ditolak oleh berbagai syubhat, semakin terlihat kejelasan dan keistimewaannya. Demikian pula keyakinan terhadapnya, sebagaimana dialami oleh mereka. Ketika mereka mengingkari keberhakan Thalut menjadi raja, mereka diberi jawaban yang memuaskan dan menghilangkan keraguan serta kerancuan.
  3. Ilmu dan buah pikiran, disertai kekuatan akan menyempurnakan kedudukan seorang wali (penguasa). Kehilangan salah satunya atau keduaduanya mengakibatkan kurangnya kekuasaan dan kerugian.
  4. Terlalu percaya diri menyebabkan kegagalan dan kehinaan, sedangkan meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan kesabaran dan bersandar kepada-Nya adalah sebab kemenangan. Yang pertama adalah seperti perkataan mereka kepada sang nabi,

“Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?” Jadi, seolah-olah hasilnya ialah ketika diwajibkan mereka berperang, mereka justru berbalik. Adapun yang kedua adalah dalam perkataan mereka (sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala),

وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Tatkala mereka tampak oleh Jalut dan tentaranya, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa, “Wahai Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orangorang kafir.” Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu). (al- Baqarah: 250)

  1. Di antara hikmah Allah Subhanahu wata’alaadalah memisahkan yang buruk dari yang baik, yang jujur dari yang dusta, dan memisahkan yang tabah dari yang takut. Allah Subhanahu wata’alatidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya sebagaimana keadaan mereka yang bercampur tanpa ada yang membedakan.
  2. Di antara rahmat dan sunnah- Nya yang berlaku adalah menjauhkan bahaya orang-orang kafir dan munafik dengan kaum mukminin yang berjihad. Kalau tidak demikian, tentulah bumi akan rusak dikuasai oleh orang-orang kafir dengan syiar kekafiran mereka padanya.

Wallahul muwaffiq.

Sumber: asysyariah.com/ibrah-thalut-vs-jalut/ dikutip bagian pertengahan sampai akhir.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 16.521 kali, 1 untuk hari ini)