Pelajaran Berharga, Terpilihnya Pemimpin yang Pro Kemusyrikan, Rawan Timbul Bencana

Silakan simak sorotan berikut ini.

***

 

Kediri: Antara SBY dan Jokowi


 


Nama Kediri menjadi viral setelah pernyataan tanpa malu Pramono Anung yang melarang Presiden Jokowi berkunjung ke Kediri. Ada mitos yang dipercaya oleh kalangan pendukung Jokowi bahwa Kediri bisa menjadi awal mula lengsernya Jokowi.

Sangat disayangkan, di era milenial 4.0 ternyata pemerintah masih mempercayai klenik-klenik yang mendiskreditkan suatu daerah. Konon ingin jadi negara maju dengan meniru negara-negara luar, tapi masih saja percaya hal-hal yang diluar nalar.

Indonesia seperti negara suram di Afrika dimana semuanya harus bertanya pada para dukun yang ada di belakang sang raja.

SBY termasuk presiden yang berani melawan mitos Kediri.

Tahun 2007, saat bencana erupsi gunung kelud. SBY langsung turun ke kediri dan menginap bersama pengungsi. Walau banyak larangan yang dia dapatka ketika akan ke Kediri, gak membuat langkah SBY menjadi surut.

Cerita SBY kala itu,

“Kemarin saya mau ke Kediri, sms masuk luar biasa, Pak SBY jangan ke Kediri nanti Anda jatuh”.

Tidak hanya lewat pesan pendek, larangan ke Kediri juga disampaikan langsung, lewat telepon dan surat. Intinya, meminta SBY tidak berkunjung ke Kediri. Mitos tersebut tidak mengubah niatnya datang melihat langsung pengungsi Gunung Kelud.

“Tidak mungkin saya berhipotesa tentang kekuasaan sementara rakyat saya di Blitar dan Kediri mengalami ancaman letusan Gunung Kelud. Saya harus datang dibandingkan risiko yang harus didapat, kalau yang dimitoskan itu benar terjadi,” tutur SBY.

Dan kekuasaan SBY baik-baik saja, karena kepemimpinannya SBY mendapatkan lagi kepercayaan memimpin hingga 2014.

Bagaimana dengan Jokowi? Ingat, Kediri pada pemilu 2019 lalu memenangkan Jokowi-Amin hingga 82,5% suara. Dukungan rakyat Kediri pada Jokowi luar biasa, namun ternyata oleh orang-orang disekelilingnya, Kediri dianggap berbahaya.

Sedih banget masyarakat Kediri, hanya dibutuhkan saat mendulang suara. Setelah itu, jangan harap presiden yang dipilih akan kunjungi mereka.

Kediri dianggap berbahaya bagi pemimpin yang tidak memiliki Hati yang suci dalam memimpin negara.

 

(By Setiawan Budi)

portal-islam.id Senin, 17 Februari 2020  Catatan/ dikutip NM seperlunya dari bagian tengah artikel dan akhirnya.

***

Ibrah dari Gempa Tsunami Palu Dibalik Terpilihnya Pemimpin yang Pro Kemusyrikan dan Kemubaziran

by Nahimunkar.com 8 Oktober 2018


Pandangan udara Perumnas Balaroa yang rusak dan ambles akibat gempa bumi Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (5/10). Berdasarkan data Lapan, dari 5.146 bangunan rusak, sebanyak 1.045 di antaranya Perumnas Balaroa yang ambles. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

 

Pelajaran Berharga, Terpilihnya Pemimpin yang Pro Kemusyrikan, Rawan Timbul Bencana

 

Upacara Kemusyrikan Diamuk Gempa Tsunami Palu, Ribuan Orang Meninggal Dan 5000 Hilang

 

Ribuan orang meninggal, ribuan bangunan hancur dan amblas diterjang gempa Tsunami Palu di (akibatkan) acara Pembangkitan Kembali Sesajen Kemusyrikan, sedang Walikota Palu dan Wakilnya pencetus dan Penyelenggara kemusyrikan itu Lolos dari Amukan Tsunami.

 

Dimulainya tradisi sesajen kemusyrikan (yang sudah lama terkubur tapi dibangkitkan kembali) ini sejak 2016, terpilihnya walikota pasangan Hidayat – Sigit Purnomo Said (Pasha). Kedua pasangan ini diusung oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Amanat Nasional (PAN).

 

1.763 orang meninggal, 5.000 orang diduga hilang

 

Data terbaru BNPB, Ahad (7/10/2018) pukul 13.00 WIB, 1.763 orang meninggal dunia, 265 orang hilang, 152 orang diduga masih tertimbun reruntuhan, dan 2.632 orang terluka akibata gempa dan tsunami yang terjadi Sulawesi Tengah.

 

Kepala Data, Informasi, dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyebut ada sekitar 5.000 orang diduga hilang akibat likuefaksi di permukiman Balaroa dan Petobo, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

 

“Itu berdasarkan laporan dari Kepala Desa Balaroa dan Petobo,” kata Sutopo di Graha BNPB, Jakarta Timur, Minggu (7/10/2018). https://www.nahimunkar.org/ibrah-dari-gempa-tsunami-palu-dibalik-terpilihnya-pemimpin-yang-pro-kemusyrikan-dan-kemubaziran/

 

Ulama mendukung kemusyrikan?

 

Bukan hanya pihak penguasa saja yang mendukung dan mengadakan upacara kemusyrikan. Bahkan tokoh yang duduk di Lembaga ulama dan juga mengetuai perguruan tinggi Islam (IAIN) di Palu pun terindikasi sebagai orang yang mendukung kemusyrikan di samping blusak-blusuk ke gereja.

 

Itu dapat dilihat dalam berita, ketua umum MUI Kota Palu menyuruh Umat Islam untuk mensukseskan perayaan kemusyrikan.

 

Terindikasi Syiah, Ketua MUI Kota Palu Minta Umat Islam Sukseskan Perayaan Imlek

by Nahimunkar.com, 9 Februari 2016


Ketua MUI Kota Palu Prof. Dr. H. Zainal Abidin (foto beritapalu.com)

 

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah, Prof. Dr. H. Zainal Abidin meminta kepada seluruh penganut agama untuk turut menyukseskan Imlek yang dirayakan oleh penganut agama tertentu.

 

Hal itu guna menghargai perayaan hari-hari besar agama lain, serta meningkatkan toleransi antarumat beragama dengan baik didaerah tersebut, katanya di Palu, Sabtu, terkait Hari Raya Imlek 8 Februari 2016. (republika.co.id, Sabtu, 06 Februari 2016, 20:15 WIB).

 

Perlu diketahui, apa yang disebut gejala kemusyrikan dan kesesatan kini bahkan sampai (merasuk) kepada ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia)nya di kota Palu yang juga memimpin STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri – kini IAIN?) yang oleh orang-orang ditengarai sebagai tokoh aliran sesat Syi’ah. Buktinya, Zainal Abidin alumni S3 IAIN (kini UIN) Alauddin Makassar itu menulis buku, dan dia tulis akhir kesimpulannya:

 

“…antara syi’ah dan sunni atau dengan mazhab Islam lainnya tidak ada pertentangan, yang ada hanya perbedaan dalam interpretasi terhadap ajaran Islam.” (Drs. H. Zainal Abidin, MAg, Konsep Imamah dalam Kalam Syi’ah, LP4M, Palu, cetakan 1, 2005, halaman 131).

 

Dusta dan penyesatan seperti itu akan membahayakan bagi Ummat Islam, karena kenyataannya, dibanding orang kafir saja Syi’ah seringkali lebih kejam dan sadis serta tidak toleran sama sekali terhadap Islam (Sunni). Contohnya, di dunia ini, sampai di negeri-negeri orang kafir sekelipun, bahkan di Roma sekalipun, di sana ada masjidnya. Namun di Teheran ibukota Iran yang berfaham Syi’ah tidak ada satupun masjid sunni (Ahlus Sunnah). Bahkan Syekh Ali Taskhiri, ulama Syi’ah Iran terkemuka ketika ditanya wartawan di satu Negara di Afrika Utara, apakah tidak bisa di Teheran didirikan masjid sunni. Dijawab, sampai sekarang belum saatnya. https://www.nahimunkar.org/terindikasi-syiah-ketua-mui-kota-palu-minta-umat-islam-sukseskan-perayaan-imlek/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.999 kali, 1 untuk hari ini)