Ada tiga orang, yang dua giat di Islam, yang satu pejabat di kementrian yang dalam sejarahnya sebagai hadiah bagi Umat Islam atas perjuangan kemerdekaan Umat Islam.

Yang pejabat itu suatu hari pidato di depan para petugas bawahannya dengan perkataan yang berisi: Tantangan Islam tidak hanya dari luar tapi ada dari dalam juga. Dari dalam ada aliran misalnya Salaf Batam. Salaf Batam ini menganggap orang selain salaf itu halal di-khekh (sambil memperagakan tangan ke leher seperti menggorok leher). Informasi ini, dia katakan, diperoleh dari orang NU (Nahdlatul Ulama). Kemudian Ahmad Jauhari bercerita banyak tentang macam-macam kejahatan lakon manusia di Indonesia.

Di antara yang mendengarkan ceramahnya itu menanyakan, sumbernya dari mana, itu tidak sesuai dengan yang saya lihat dan ketahui, kata penanya.

Dari profesor Anu, dia orang terpercaya, kata sang pejabat. (lihat Pejabat Departemen Agama Memfitnah Salafi https://www.nahimunkar.org/26-penyebab-merajalelanya-kesesatan-di-indonesia-1-16/ )

Belakangan, sang profesor yang disebut sebagai rujukan itu justru menyuarakan untuk   mempersatukan ahlus sunnah di Indonesia.. Sebagaimana buku yang  Beliau tulis, benang merah wahabi-NU..

Karena tidak   bisa kita pungkiri, rukun iman wahabi dan NU sama. Rukun Islam nya juga sama..

Rujukannya juga sama.. Yaitu madzhab 4..

Dan mereka sama sama memahami Quran Hadis berdasarkan pemahaman generasi salaf..  https://www.nahimunkar.org/banyak-kyai-nu-menegur-tulisan-dan-sikap/

Terakhir, profesor ini wafat. Juga seorang yang menanyakan, sumbernya dari mana itu tadi, wafat pula beberapa bulan yang lalu, pada malam Jum’at kemudian dishalati di satu masjid ba’da Jum’at di Ciracas Jakarta Timur. Sedang pejabat yang pidato itu tadi nasibnya disangkutkan dengan kasus korupsi Al-Qur’an, divonis 8 tahun penjara. Menurut teman-temannya, dia orang baik. Dalam hal kasus korupsi al-Qur’an, dia “berteriak”, agar Nasaruddin Umar (dulu Wamenag) diseret KPK.

Inilah beritanya.

***

Divonis 8 Tahun, Terdakwa Korupsi Al-Quran “Cokot” Wamenag Nasaruddin Umar

Nasaruddin Umar

Ilustrasi/ rimanews

Usai sidang, Ahmad Jauhari meminta KPK menjerat Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar, yang kala itu menjabat sebagai Dirjen Bimas Islam. Menurutnya, Nasaruddin punya peranan besar dalam kasus yang melilitnya.

JAKARTA, – Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi  Jakarta menjatuhkna pidana 8 tahun penjara, denda Rp 200 juta, subsider 6 bulan kurungan terhadap Ahmad Jauhari, mantan Direktur Urusan Agama Islam  dan Pembinaan Syariah Ditjen Bimas Islam  Kementerian Agama.

 Mantan pejabat ini  terbukti bersalah melakukan korupsi secara bersama-sama pengadaan Alquran, tahun 2011-2012, sehingga merugikan negara sebesar Rp 27,56 miliyar.

Terkait putusan ini, Jauhari menyatakan pikir-pikir. Ia sempat memohon kepada hakim agar diperbolehkan  memberikan pernyataan di depan persidangan. Meksi ditolak, dia tetap ngotot memberikan pernyataan.”Saya ingin menyampaikan, artinya kawan-kawan yang terlibat dan menjadi aktor harus diseret ke pengadilan.

Karena kalau cuma berhenti di saya, pemberantasan korupsi tidak berhasil,’’ tukasnya. Usai sidang, dia meminta KPK menjerat Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar, yang kala itu menjabat sebagai Dirjen Bimas Islam. Menurutnya, Nasaruddin punya peranan besar dalam kasus yang melilitnya.*/(wandy/balipost) – 10 April 2014

(nahimunkar.com)

***

Demit Munggah Mesjid?

Sampai kini, Nasaruddin Umar yang disebut oleh KPK sebagai orang yang terlibat itu, dan oleh pejabat Kemenag yang telah tercokok, dia disebut punya peranan besar dalam kasus korupsi pengadaan Al-Qur’an itu, ternyata justru diangkat oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, dengan mencopot Profesor yang kemudian baru saja wafat dan dikisahkan dalam tulisan ini.

Orang Jawa dulu suka bilang, demit munggah mesjid (demit alias syetan naik ke masjid).  Apakah memang lagi musim demit munggah mesjid ya? Kalau tidak, kenapa orang yang sudah jelas-jelas dituding oleh KPK dan juga orang dalam sendiri sebagai berperan besar dalam kasus korupsi pengadaan Al-Qur’an, justru dijadikan Imam Besar Mesjid Nasional, Istiqlal?

Berbarengan waktunya kini, kok itu ada kafir cina jag-jagan ke mesjid-mesjid? Bahkan diberi keleluasaan berbicara di depan jama’h kaum Muslimin?

Hampir saja tulisan ini saya ingkari sendiri, sambil mengelus dada, namun kenyataannya memang begini.

Laa haula walaa quwwata illaa billaah…

Nas’alulLahal’afwa wal’aafiyah wa na’uudzubihi min syarri maa kholaq.

Jakarta, 21 Rajab 1437H/ 2016.

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.037 kali, 1 untuk hari ini)