Shalat tarawih adalah ibadah. Tapi tahu-tahu ada tulisan yang menjadikan palaksanaan shalat tarawih sebagai bahan humor di situs resmi NU, yakni nu.or.id.

Keruan saja tulisan itu kemudian disindir di fb dengan judul  [Pemadam Kelaparan: “Fatwa Sarang Gonggo Tentang Taraweh Ngebut”].

Berikut ini kutipan yang dari nu.or.id, dan bagian bawah sorotan dari seorang yang menulis di fb.

***

Humor 

Tarawih Ngebut

Rabu, 24/07/2013 02:26

Di beberapa pondok pesantren, sering kali shalat tarawih dilaksanakan dengan gerakan yang super cepat. Hal ini tentu mengundang pertanyaan dari sebagian pihak.

Kiai Adib pernah ditanya salah seorang jamaah masalah tersebut. Shalat yang terlalu cepat demikian apakah sah?

Mendapat pertanyaan demikian, dijawab Kiai asal Sukoharjo ini dengan ringan, “Kalau ada orang mengendarai kendaraan dengan cepat, tentu akan fokus.”

“Nah, sebaliknya kalau orang mengendarai pelan, kemungkinan dia akan kehilangan fokus. Tengok kanan kiri lah. Lihat gedung bagus, gadis cantik dan sebagainya. Begitu juga dengan tarawih cepat, husnudzon-nya mereka mungkin akan lebih fokus shalatnya. (Ajie Najmuddin) http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,8-id,46056-lang,id-t,Tarawih+Ngebut-.phpx

***

Inilah tanggapan di  fb.

***

[Masak Harus Heran?]

Sebenarnya tidak harus heran dengan tanggapan kyai itu sangat ilmiah, hingga menggunakan qiyas, yang merupakan bab penting di Ushul Fiqh. Shalat Taraweh diqiyaskan dengan mengendarai kendaraan. Jika Taraweh cepat, itu ibarat nyetir mobil cepat-cepat. Makin cepat makin baik; karena dua hal:

[1] Pengendara yang cepat pasti mempertajam fokusnya. Maka, shalat orang yang cepat pasti tajam fokusnya? Tidak heran di daerah saya, ada seorang Kyai yang ceramah sana sini dan mengajar Tasawuf da Fiqh Syafi’i, serta paling anti-Wahabi sekaligus paling jahil tentang Wahabi, mengkaji bab shalat, harus thuma’ninah, tenang-tenang dan khusyu’, tapi bab itu dilanggar sendiri ketika jadi imam.

[2] Berlama-lama shalat taraweh dan memperlamban bacaan atau gerakan justru membuat manusia melayang fikirannya, mengantuk, dan bosan. Well, begitulah fikiran sang Kyai. Dan mungkin itulah yang terjadi pada diri Kyai tersebut. Atau, memang itulah yang sudah menjadi tradisi beliau serta manusia semacamnya (baik yang se-ormas atau se-pemikiran). Tentu saja, giliran tahlilan, maulidan dan rowahan ingin berlama-lama; kenapa? Karena di dalam program ada sesi ‘makan-makan’, dan moga-moga selesai acara ada salam tempel ‘amplop’. Atau, minimal: dapet nasi berkat (nasi bungkus). Makanya, doyan lama-lama saat tahlilan, maulidan dan semacamnya.

Karena itu: ketika ada amalan yang cenderung bid’ah tapi menguntungkan perut dan dompet, pasti dipertahankan dan dibela. Kalau perlu, buka semua kitab kuning dan cari dalil. Akhirnya ketemu deh dalilnya.

Karena itu: giliran ada amalan yang jelas-jelas sunnah tapi kok nggak sesuai tradisi atau menurunkan gengsi, tidak akan dipertahankan malah bakal dilawan.

Makanya, giliran maulidan, rela berjam-jam. Giliran Tarawehan, ga rela sampe sejam. Giliran tahlilan, rela berlama-lama, giliran jenggotan, ga rela bertahan jenggotnya. Giliran haulan, rela dibela-bela, giliran cingkrangan, getol menghina-hina.

Apa masih belum jelas bagi pembaca bahwa Sunnah itu memang lawan dari Bid’ah? Kalau seseorang sudah terlanjur cinta Bid’ah, pasti kesulitan dia mencintai Sunnah. Dan sebaliknya, kalau seseorang sudah terlanjur cinta Sunnah, pasti kesulitan menerima Bid’ah. Tapi, bukan berarti semua yang pernah mengamalkan Sunnah barang beberapa kali langsung dicap Ahli Sunnah. Juga sebaliknya, tidak semua yang pernah mengamalkan Bid’ah barang beberapa kali langsung dicap Ahli Bid’ah.

[Taraweh Ngebut? Ga Harus Heran, Lah!]

Ya, tidak harus heran. Dari dulu memang sudah begitu. Sudah fanatik, senang bertaqlid buta pula. Benar, kita semua masih saudara. Benar, kita masih harus menjalin hubungan bersama. Tapi, saudara nyelenehnya keterlaluan. Ketika dinasehati dan dikasih hati, malah mencaci dan memaki. Dikasari, tambah menjadi. Ketika sudah kalah hujjah, ngambek malah.

Namun, syukurlah sebagian Kyai dan Ustadz terhormat tidak mengikuti tarekat tarawehan sebagian besar kyai kecil dan ustadz kecil. Masih ada (atau cukup banyak) imam dari kalangan Kyai dan Ustadz yang masih memperhatikan thuma’ninah dalam shalat taraweh. Bacaan mungkin agak cepat, namun bukan cepat brutal. Shalatnya mungkin tidak begitu berlarut. Syukurlah. 23 raka’at dengan speed standar.

Yang saya ikuti, perihal 11 atau 23, adalah kesimpulan dari Syaikh Abdul Aziz bin Fauzan Al-Fauzan: “Keduanya bagus. Bagi yang ingin lebih dekat dengan tata cara Rasulullah, pilih 11, dan bagi yang mengikuti 23, ia lebih dekat dengan ijtihad sahabat Rasulullah.”

Dan jikalau jama’ah menunaikan 11, sementara si Supriyadi keluar masjid pasca 8, maka mereka yang shalat 23 full bersama imam lebih dekat dengan Sunnah dibanding Supriyadi. Amat disayangkan, jika malah kabur setelah raka’at 8, padahal nanggung masih 3 raka’at lagi bersama imam, dia akan mendapatkan pahala shalat semalam suntuk. Jikalau imamnya shalat 23 raka’at, mungkin masih bisa dianggap ‘wajar sedikit’ jika ada makmum keluar saat 11 raka’at.

[Maybe Yes Maybe No]

Anyway, Shalat Taraweh tidaklah wajib.

Sebagian orang yang sehari-harinya tidak shalat berjama’ah, ketika melihat beberapa orang keluar setelah 8 raka’at taraweh, mereka langsung merasa seolah sudah paling jama’ah dan membatin, ‘Yaaah, baru 8 aja udah pade K.O. loe?’

Ini ada sedikit bentuk ujub pada diri sendiri, padahal kalau mereka mengaca dengan keseharian mereka yang tidak shalat berjama’ah, justru harus malu juga. Memangnya shalat berjama’ah disyariatkan pada bulan Ramadhan saat Isya + Taraweh saja?!

Kalau mau taraweh cepat tiap raka’atnya, maka sudah masyhur, kemungkinan besar dia menganut paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah versi ormasnya. Dan ketika diingatkan atau dinasehati oleh orang yang berjenggot dan lebih muda darinya, takkan digubris. Kenapa? Karena sudah didikan sononya?

Maybe Yes…Maybe No.

88Suka ·  · Bagikan

Millar Binawan Kalo qiyasnya berkendara lebih ngebut lebih fokus,rambu lalin harus dirubah yg max.80km skrg diganti min.80km/jam, pasti fokus ngusung jenazah per jam, na’udzubillah..

Kamis pukul 21:39 · Suka

 (nahimunkar.com)

(Dibaca 1.177 kali, 1 untuk hari ini)