Kapolres Nganjuk AKBP Anggoro Sukartono saat memeriksa Genthong/ surya

Pelaku dosa besar homo, Mujianto alias Menthok alias Genthong (24)  mengaku telah membunuh 15 pasangan seksnya. Polisi juga tengah memeriksa kejiwaan pelaku asal Desa Jatikapur, Kecamatan Tarokan, Kediri itu.

Sementara itu kaum sepilis (sekuler, pluralisme agama, dan liberalis) kini diam-diam mengajukan RUU Kesetaraan Gender . Intinya menggugat Al-Qur’an, dianggapnya tidak adil.

Jadi kaum homo yang tampaknya diperjuangkan oleh kelompok sepilis semakin nglunjak. Makanya pembunuhan sadis oleh pelaku homo pun berlangsung.

Inilah beritanya.

***

Sadisme Pelaku Homo Mirip Ryan Terjadi di Kediri

Rabu, 15 Februari 2012

Hidayatullah.com— Masih ingat  kasus Very Idam Heryansyah alias Ryan? pelaku kelainan orientasi seksual yang telah membunuh banyak orang? Kasus serupa, kini terjadi di Kediri, Jawa Timur.

Seperti diberitakan detik.com, polisi, kini sedang mengembangkan keterangan Mujianto alias Menthok alias Genthong (24) yang mengaku telah membunuh 15 pasangan seksnya. Polisi juga tengah memeriksa kejiwaan pelaku asal Desa Jatikapur, Kecamatan Tarokan, Kediri itu, segera dicek.

“Kalau soal kelainan jiwa, masih perlu kita cek. Tapi jelas dia mengalami disorientasi seksual,” kata Kapolres Nganjuk AKBP Anggoro Sukartono kepada detikcom, Rabu (15/2/2012).

Menurut Anggoro, pembunuhan berantai tersebut dilatarbelakangi asmara. Pelaku cemburu kepada pasangan homonya berinisial J yang diketahui berhubungan dengan orang lain. Orang-orang yang berhubungan dengan J dibunuh satu persatu setelah diajak berhubungan seks.

Saat ini, lanjut Anggoro, pihaknya meminta bantuan Polda Jatim, terutama bagian psikologi. Polisi ingin memastikan kondisi kejiwaan pelaku. Meski belum jelas status kejiwaannya, pelaku tetap dijerat dengan pasal pembunuhan.

“Ya pasti itu. Dia kena pasal pembunuhan,” tegas Anggoro.

Kasus sadis ini terungkap setelah dua korban selamat, Muhammad Fais (28) dan Sumartono (47) melapor ke polisi. Pelaku dibekuk di rumah J, Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk. Di tempat itu, pelaku pernah bekerja sebagai pembantu dan merangkap sebagai pasangan homo J.

Kasus kesadisan pasangan kelainan orientasi seksual seperti ini bukan hal baru. Sebelumnya, tahun 2008, Ryan yang kemudian dijuluki “jagal asal Jombang” diketahui telah membunuh 11 orang. Ryan kini berada di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cirebon, Jawa Barat,  dengan vonis hukuman mati.

Sebelumnya, tahun 2006, seorang eksekutif perusahaan elektronik dibunuh Supriyadi, teman kencannya sesama pria, usai berkencan di Kompleks Plaza Sukaramai, Pekanbaru, Riau. Teguh Rianto tewas akibat tikaman pasangan sesama jenisnya.*

foto: Ryan di balik jeruji

Rep: Panji Islam

Red: Cholis Akbar

***

Waspada!! Diam-diam Kaum Liberal Ajukan RUU Kesetaraan Gender

JAKARTA (VoA-Islam) – Lagi-lagi, umat Islam akan mendapat perlawanan baru untuk memantau pergerakan kelompok sepilis (sekularisme, liberalism dan pluralisme) yang mengajukan RUU Kesetaraan Gender ke DPR. Kini RUU tersebut sedang dibahas anggota dewan. Umat Islam harus memantau, jangan sampai kecolongan.

Hal itu terungkap dalam Diskusi Kajian Tematik Pimpinan Pusat Salimah dengan tajuk “Telaah Kritis atas Konsep Kesetaraan Gender” di Gedung Serba Guna, komplek DPR, Kalibata, Jakarta, tadi siang, Rabu (8/2). Hadir sebagai pembicara dalam diskusi tersebut, Peneliti INSISTS Dr. Adian Husaini.

Diinformasikan oleh Adian, RUU Kesetaraan Gender, kini sedang dibahas di DPR RI.  Perspektif dari RUU ini sangat sekuler, hanya menghitung aspek dunia semata. Jika dimensi akhirat dihilangkan, maka konsep perempuan dalam Islam akan tampak timpang.

Adian memberi contoh, para aktivis gender sering mempersoalkan masalah “double burden” (beban ganda) yang dialami oleh seorang wanita karir. Disamping bekerja di luar rumah, dia juga masih dibebani mengurus anak dan berbagai urusan rumah tangga.

Dalam RUU Kesetaraan Gender (pasal 1 ayat 1) yang sedang di DPR tersebut, Gender didefinisikan sebagai nilai-nilai budaya yang dianut oleh masyarakat setempat mengenai tugasm peran tanggungjawab, sikap dan sifat yang dianggap patut bagi perempuan dan laki-laki, yang dapat diubah dari waktu ke waktu.

“Dengan jalan pikiran seperti itu, maka para aktivis gender kemudian menciptakan model pemahaman ‘berwawasan gender’ terhadap Al Qur’an dan Sunnah. Menurut mereka, dalil-dalil dan hukum Islam tentang hubungan laki-laki dan wanita harus dilihat dalam konteks budaya Arab yang bersifat patriarki. Karena budaya Arab dihegemoni oleh laki-laki, maka wajar saja, hukum-hukum Islam yang dirumuskan oleh para ahli fiqih juga lebih menguntungkan laki-laki. Itulah pikiran mereka.”

Proyek Barat

Menurut Adian Husaini, penyebaran paham “kesetaraan gender” saat ini telah menjadi program unggulan dalam proyek liberalisasi Islam di Indonesia. Banyak organisasi Islam yang memanfaatkan dana-dana bantuan sejumlah LSM Barat untuk menggarap wanita-wanita muslimah agar memiliki paham kesetaraan gender.

Wanita Muslimah, lanjut Adian, kini didorong untuk berebut dengan laki-laki di lahan public. Di lapangan politik, sejumlah partai berusaha menunjukkan, bahwa mereka memiliki wawasan gender dengan menempatkan minimal 30 persen calon anggota legislatifnya, sesuai dengan tuntutan undang-undang.

“Kedepan, tuntutan semacam ini akan terus bertambah di berbagai bidang kehidupan. Sesuai dengan tuntutan pelaksanaan konsep Human Development Index (HDI), wanita dituntut berperan aktif dalam pembangunan, dengan cara terjun ke berbagai sector public.”

Seorang wanita yang dengan tekun dan serius menjalankan kegiatannya sebagai ibu tumah tangga, mendidik anak-anaknya dengan baik, malah tidak dimasukkan ke dalam kategori “berpartisipasi dalam pembangunan”. Tentu konsep semacam ini, dinilai Adian, menjadi aneh dalam perspektif Islam dan nilai-nilai tradisi yang juga sudah dipengaruhi Islam.

Dalam perspektif Barat, tidak adil jika laki-laki boleh poligami dan wanita tidak boleh poliandri. Bagi mereka, tidak adil jika istri keluar rumah harus seizing suami, sedangkan suami keluar rumah tanpa izin istri.

Bagi mereka yang berpaham kesetaraan gender, tidak adil jika laki-laki dalam shalatnya harus ditempatkan di shaf terdeapn. Bahkan, mereka juga menggugat, mengapa air kencing bayi wanita bernajis mutawasithah, sedangkan bayi laki-laki air kencingnya adalah najis mukhafafah. Bagi mereka, tidak adil jika aqiqah anak wanita hanya satu kambing, sedangkan anak laki-laki harus dua kambing. Lebih dari itu, mereka juga merasa tidak adil, jika ahli waris laki-laki mendapat warisan dua banding satu.

Kata Adian, pemikiran kesetaraan gender seperti itu harus diluruskan. “Biasanya, ayat-ayat Al Qur’an dan hadits Rasulullah Saw tidak mempan bagi mereka, karena ayat-ayat itu pun akan ditafsirkan dalam perspektif gender. Wanita berpaham ini patut dikasihani. Mereka hanya melihat aspek dunia, aspek hak, dan bukan tanggungjawab dunia dan akhirat,” tukas Adian.Desastian

Voaislam.com, Rabu, 08 Feb 2012

(nahimunkar.com)

(Dibaca 666 kali, 1 untuk hari ini)