Pelaku Vandalisme di Musholla Darussalam Tangerang Diklaim Alami Depresi, HNW: Kesimpulannya Patut Dicurigai!

  • “Ini jelas patut dicurigai. Mengapa bila depresi yang di rusak tempat ibadah umat Islam, bukan di jalanan, pasar, atau tempat ibadah umat lain. Walaupun kita tidak ingin hal itu terjadi,” ujar Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW) [Dikutip Pikiranrakyat-Depok.com dari RRI, Jumat 2 Oktober 2020].
  • “Pada hakikatnya, seharusnya yang menentukan apakah pelaku perusakan tempat ibadah maupun kekerasan terhadap ulama bukanlah polisi tetapi pengadilan,” katanya.

     


Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW).* /ANTARA/

PR DEPOK – Penyidik Polresta Kabupaten Tangerang baru saja menyimpulkan bahwa tersangka kasus pencoretan atau vandalisme di Musholla Darussalam menderita depresi.

Kesimpulan itu disebutkan pihak penyidik Polresta Kabupaten Tangerangberdasarkan hasil pemeriksaan psikologis terhadap tersangka Satrio (18).

“Tes oleh psikolog sudah dilakukan dan hasilnya menyatakan dia (tersangka vandalisme, Red) depresi,” kata Koombes Pol Ade Ary Syam.

Terkait pernyataan tersebut, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Hidayat Nur Wahid (HNW) turut memberikan tanggapan dengan mengatakan kesimpulan polisi patut dicurigai.

Dikutip Pikiranrakyat-Depok.com dari RRI, Jumat 2 Oktober 2020, HNW menilai pernyataan depresi atau sakit jiwa itu sebuah pengakuan berulang dari setiap peristiwa pengrusakan tempat ibadah maupun kekerasan terhadap ulama.

“Pada hakikatnya, seharusnya yang menentukan apakah pelaku perusakan tempat ibadah maupun kekerasan terhadap ulama bukanlah polisi tetapi pengadilan,” katanya.

Akan tetapi, dikatakan HNW, dari kebanyakan kasus yang terjadi seperti pengrusakan masjid di Dago, Bandung, bahkan penusukan Syekh Ali Jaber, disimpulkan bila pelakunya sakit jiwa atau depresi.

“Ini jelas patut dicurigai. Mengapa bila depresi yang di rusak tempat ibadah umat Islam, bukan di jalanan, pasar, atau tempat ibadah umat lain. Walaupun kita tidak ingin hal itu terjadi,” ujar dia.

Menurut dia, pengrusakan rumah ibadah sama dengan penyebaran rasa takut, yakni penistaan terhadap agama dan merupakan tindakan pidana.

“Bila ini dibiarkan akan menghadirkan teror di masyarakat,” kata HNW.

Sebelumnya diberitakan, telah terjadi pengrusakan dan pencoretan di Musholla Darussalam yang dilakukan seorang pria bernama Satrio, Selasa 29 September 2020.

Pelaku yang telah ditetapkan sebagai tersangka ini terancam dijerat Pasal 156a KUHP tentang kejahatan terhadap ketertiban umum dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.***

Ramadhan Dwi Waluya

Editor: Ramadhan Dwi Waluya

Sumber: RRI

depok.pikiran-rakyat.com- 2 Oktober 2020, 06:00 WIB

(nahimunkar.org)

(Dibaca 308 kali, 1 untuk hari ini)