12 menteri dan satu kepala badan hasil perombakan Kabinet Kerja Jilid II telah mengucapkan sumpah dan janji jabatan yang dipimpin Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, 27 Juli 2016.

Mereka yang dilantik adalah Menko Polhukam Wiranto, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menkeu Sri Mulyani, Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan Djalil, Menhub Budi Karya Sumadi, Mendikbud Muhadjir Effendy, Menteri ESDM Archandra Tahar, Menperin Airlangga Hartarto, Menteri PAN dan RB Asman Abnur, Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Mendag Enggartiasto Lukita, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro dan Kepala BKPM Thomas Lembong

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah mengumumkan susunan baru kabinet kerja hasil reshuffle jilid II di halaman Istana Negara, Jakarta, tepat pukul 11.00 WIB.

Presiden Jokowi mengatakan bahwa perombakan kabinet dilakukan salah satunya dengan pertimbangan agar kabinet yang dia pimpin bisa bekerja lebih cepat, efektif, solid dan saling mendukung.

Diantara Menteri terpilih muncul nama baru Prof.Dr Muhadjir EffendyBeliau saat ini menjadi salah satu Ketua PP Muhammadiyah. Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Yang menarik kita saksikan secara langsung di layar kaca ketika prosesi pelantikan dan sumpah para menteri usai dilaksanakan, Presiden Jokowi didampingi Ibu Negara dan tamu Pejabat Negara lainnya berjalan memberikan ucapan selamat kepada para Menteri yang dilantik.

Tampak para menteri didampingi oleh istri atau keluarga masing – masing, dan pada saat giliran Ibu Negara Iriana Jokowi ingin mengucapkan  selamat kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Muhadjir Efendi seketika Mendikbud memberi “gesture’ mencakupkan tangan sebagai isyarat yang etis dan halus untuk menolak berjabat tangan dengan Nyonya Iriana istri Jokowi.

Adegan ini bukanlah sorotan utama namun setidaknya ini menjadi gambaran kecil tentang sosok Mendikbud yang juga Ketua PP Muhammadiyah dimana sehari – hari beliau kerap menjadi Imam sholat dan membaca Al Quran dengan bacaan yang bagus dan tartil, semoga Allah swt senantiasa melindungi beliau.(ar/sp)

Sumber: sangpencerah.id/Juli 28, 2016

***

SUCINYA TANGAN NABI (BELIAU SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM TIDAK PERNAH BERJABAT TANGAN DENGAN WANITA YANG BUKAN MAHRAM)

Rasulullah, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling bertakwa dan paling takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Disebutkan dari ‘Umar bin Abi Salamah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَتْقَاكُمْ لِلَّهِ وَأَخْشَاكُمْ لَهُ

Demi Allah, aku orang yang paling bertakwa dan paling takut kepada Allah. [HR Muslim no. 1863].

Beliau juga merupakan pribadi yang sangat kuat dalam mengendalikan syahwat. Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia menceritakan :

وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ

Beliau orang yang sangat mampu mengendalikan syahwatnya [HR Al-Bukhari 1792, dan Muslim 1854].

Kendati demikian, tangan beliau yang mulia belum pernah bersentuhan dengan tangan wanita yang tidak halal baginya, yaitu wanita yang bukan mahramnya.

Sang istri, ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma mengatakan, bahwa tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah bersentuhan dengan kulit telapak tangan wanita lain yang bukan mahram. Bahkan tetap merasa tidak perlu berjabat tangan pada sebuah prosesi yang sangat krusial, yakni baiat (sumpah dan janji setia pada pemimpin) sekalipun. Katanya:

وَاللَّهِ مَا مَسَّتْ يَدُهُ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ فِي الْمُبَايَعَةِ وَمَا بَايَعَهُنَّ إِلَّا بِقَوْلِهِ

Demi Allah, tangan beliau tidak pernah menyentuh tangan perempuan sama sekali dalam baiat. Beliau tidak membaiat para wanita kecuali dengan perkataan (saja). [HR Al-Bukhari, 4891].

Begitu pula, riwayat yang disampaikan oleh Umaimah binti Ruqaiqah – ketika sejumlah wanita membaiat beliau -, ia berkata:

Kami berkata kepada Rasulullah: “Apakah engkau tidak menjabat tangan kami?” Beliau menjawab:,”Sesungguhnya aku tidak menjabat tangan wanita . . .”.[1]

Hadits-hadits di atas, seperti diungkapkan Syaikh Salim al Hilali [2] sudah cukup untuk menjelaskan kerasnya ancaman bagi seorang laki-laki yang berjabat tangan dengan wanita ajnabiyyah (asing) yang bukan mahramnya. Makna larangan ini, tidak lain ialah bermakna pengharaman.

Keengganan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjabat tangan pada urusan yang penting (yaitu baiat) yang sebenarnya menuntut adanya jabat tangan, ini menunjukkan indikasi bahwa berjabat tangan itu, lebih tidak diperlukan lagi ketika seorang lelaki dan perempuan berjumpa, sebagaimana pada masa sekarang ini sudah bersifat umum dan lumrah dilakukan oleh dua orang jika bertemu.[3] Akan tetapi, ucapan dan tindakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sangat jelas dalam permasalahan ini.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لِأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ

Tertusuknya kepala salah seorang di antara kalian dengan jarum besi, lebih baik daripadaia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.

Syaikh al Albani rahimahullah (Ash-Shahihah, hadits no 226) menyimpulkan, hadits ini memuat ancaman keras bagi seseorang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya. Juga menjadi dalil pengharaman berjabat tangan dengan kaum wanita. Karena “menyentuh” dalam teks hadits di atas mencakup jabat tangan.

Subhanallah, betapa suci tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari persentuhan dengan tangan-tangan wanita ajnabiyyah (bukan mahram).

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl9 Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Isnadnya shahih. Lihat Ash-Shahihah, no. 529.
[2]. Silsilah Manahi Syar’iyyah.
[3]. Muncul pendapat yang syadz dari pendiri Hizbut Tahrir Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani, bahwa berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tidak masalah. Lihat bukunya, An- Nizham Al Ijtima’i fil-Islam, hlm. 35.

Sumber: almanhaj.or.id

(nahimunkar.com)

(Dibaca 5.447 kali, 1 untuk hari ini)