Pelarangan PKI, Ulah Kyai NU, PDIP dan RUU HIP


Iustrasi foto/ berantas.co.id

Zaman Presiden Soeharto, NU mengaku nomor wahid (No 1) sebagai pengusul untuk dibubarkannya PKI. Pengakuan Itu setelah ada TAP MPRS XXV/ 1966 (pelarangan dan pembubaran PKI-Komunis-Marxisme).

Klaim NU itu dikemukakan di koran Harian Pelita di Jakarta, tempat saya kerja waktu itu. Anehnya, begitu pentolan NU ada yang jadi presiden, dan dia memang waktu SLPnya murid kesayangan Bu Rubiah guru gerwani PKI, maka pentolan NU itu berupaya mencabut Tap MPRS XXV/ 1966 tersebut, tapi gagal.

(Kini pembela PKI itu kuburannya ada di Jombang Jawa Timur dikeramatkan sebagian orang yang mungkin sesat. Karena pengeramatan terhadap kuburan siapapun itu tidak sesuai dengan aqidah Islam).

Lalu PDIP berupaya keras pula mau mencabut TAP MPRS XXV/1966 itu zaman petugas partainya wong Solo. Tapi gagal juga. (Menolak Lupa! PDIP Pernah Berjuang Habis-habisan agar TAP MPRS Larangan PKI Dicabut Posted on 26 Juni 2020 by Nahimunkar.org)

Anehnya lagi, kembali ke wong NU, eh tahu2 pilpres 2019, kyai NU yg kelompoknya ngaku pengusul pertama untuk dibubarkannya PKI itu malah ngrampek-ngrampek ke golongan yang sengaja usaha keras mencabut TAP MPRS XXV/ 1966 (pelarangan dan pembubaran PKI-Komunis-Marxisme) itu untuk jadi wakil petugas partai pembela PKI tersebut.

https://www.nahimunkar.org/nasib-kyai-maruf-amin-cawapres-jokowi-dianggap-bebek-lumpuh/

Bahkan kemudian partai pembela PKI yg berupaya keras mau mencabut TAP MPRS XXV/ 1966 (pelarangan dan pembubaran PKI-Komunis-Marxisme) itu melangkah lebih jauh, menginisiasi RUU HIP yang isinya mengubah pancasila dengan ideologi komunis, dan sampai kini belum dihapus dari prolegnas. (Innalillahi, DPR Sahkan Prolegnas Prioritas 2020 Baru, Masih Ada RUU HIP Posted on 28 Juli 2020 by Nahimunkar.org)

Sedangkan Kyai dari NU itu sudah metengkreng jadi wakil petugas partai yang partai itu mau mengganti pancasila dengan ideologi komunis tersebut, dan tidak terdengar cemuwitnya. Padahal seharusnya pengusul RUU HIP yang berisi merubah Pancasila menjadi ideologi komunis itu diusut dan diproses secara hukum, karena telah berbuat makar. (Pengamat: Polisi Harus Menindak Inisiator RUU HIP, karena Berbuat Makar Mau Ganti Pancasila dengan Ideologi Komunis)

Dengan kenyataan seperti itu, layak dipertanyakan: Itu semua sebenarnya pengkhianat2 bangsa dan pembela2 PKI Komunis yang kejam atau bukan?

Terus, gajinya yang dimakan itu duit dari rakyat atau bukan?

Ingatlah, kini mungkin sebagian rakyat sedang kesulitan cari makan. Itu belum kesulitan dalam menjalankan Islamnya bagi setiap Muslim. Karena pakai celana cingkrang saja dicurigai penguasa. Jadi orang shalih, hafal Qur’an rajin ke masjid juga dicurigai. Hingga DPR heran dan mempertanyakan penguasa yang mencurigai orang-orang shalih, bercadar, bercelana cingkrang, hafal Qur’an dan sebagainya. (DPR Cecar Menag soal Pelarangan Cadar, Celana Cingkrang, Mau Adakan Sertifikasi Penceramah hingga Good Looking).

Kalau menyadari bahwa gaji yang dimakan itu duit dari rakyat, maka tugasnya adalah mengatasi masalah. Jangan sampai malah kesannya itu ramai2 bikin masalah, bikin susah dan nambahi resah.

Bila itu semua terhitung pengkhiantan dan kezaliman, maka yang mereka hadapi sejatinya adalah bukan sekadar rakyat atau manusia2 yang lemah. Tetapi justru Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena sudah berkaitan dengan mengusik pengamalan agama yang Allah Ta’ala ridhoi satu-satunya yaitu hanyalah Al-Islam. Bahkan sebaliknya ada gejala gelagat dan upaya membela musuh2 Islam yang nyata yaitu PKI Komunis anti Tuhan. Itulah kezaliman yang nyata. Sedangkan Allah Ta’ala telah berfirman:

أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (QS. Hud: 18).

Orang2 zalim juga diancam tempatnya di neraka di akherat kelak.

نَقُولُ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ 

Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim: “Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu”” (QS. Saba: 40).


(nahimunkar.org)