Pembangkangan, Kepengecutan dan Aib Kaum Yahudi Bani Israel Dibongkar dalam Ayat Allah Ta’ala

 

  • Pelajaran berharga, pembangkangan kaum Yahudi Bani Israel dan kepengecutannya hingga menolak mentah-mentah untuk berjuang, akibatnya mereka dihukum di Padang Tiih selama 40 tahun dalam keadaan kebingungan terombang-ambing dan tidak mendapatkan jalan keluar.
  • Umat Islam zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sanggup dan berani berjuang melawan musyrikin Quraisy yang jauh lebih kuat. Semangat itu timbul sekaligus teguh bertekat menjauhi sikap kepengecutan Yahudi Bani Israel yang menentang Nabi Musa ‘alaihissalam yang mengajaknya berjuang yang telah dijelaskan dalam ayat al-Qur’an. Hingga Umat Islam zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dimenangkan oleh Allah Ta’ala dalam melawan kafir Quraisy di perang Badar yang amat nyata dalam sejarah Islam. Bukan dihukum berat dengan dibingungkan 40 tahun di Padang Tiih seperti Bani Israel akibat dari perbuatan mereka yang menentang Nabi Musa ‘alaihissalam, yang mereka tunjukkan dengan terang-terangan menyanggah dan mogok berjuang.
  • Ketika Umat Islam bukan mengikuti Nabi dan para sahabatnya yang teguh gigih dalam perjuangan Islam itu, bahkan sebaliknya justru Umat Islam menirukan gaya-gaya hidup Yahudi dan musyrikin dsb, maka kepengecutan dan pembangkangan Yahudi Bani Israel yang dijelaskan dalam Al-Qur’an berakibat hukuman berat berupa kebingungan 40 tahun di Padang Tiih, tidak mendapatkan jalan keluar; seakan dialami pula oleh Umat Islam kini. Kesedihan, kepedihan bertubi-tubi seakan tak ada ujung pangkalnya. Itu akibat enggan untuk memperjuangkn Islam ini, dan ketidak taatannya kepada Allah Ta’ala dan rasul-Nya. Hingga hukuman di dunia pun telah mendera begitu dahsyat, lantaran kufur ni’mat, enggan berjuang dan tidak taat.

 

Silakan simak tafsir ayat-ayat berikut ini, dan di bagian bawah ada analisa tentang keadaan sekarang.

***

 

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa-idah ayat 20-26 (12)

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ (20) يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ (21) قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا حَتَّى يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ (22) قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (23)

{قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ (24) قَالَ رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِي فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ (25) قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ أَرْبَعِينَ سَنَةً يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ } [المائدة: 20 – 26]

 

“20. dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat Nabi Nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain”.

21. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), Maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.

22. mereka berkata: “Hai Musa, Sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, Sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya”.

23. berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.

24. mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasuki nya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, Sesungguhnya Kami hanya duduk menanti disini saja”.

25. berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang Fasik itu”.

26. Allah berfirman: “(Jika demikian), maka Sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang Fasik itu.” (al-Maa-idah: 20-26)

 

Allah berfirman untuk memberitahukan tentang hamba dan Rasul-Nya, sekaligus Kalim-Nya [orang yang diajak bicara oleh Allah], Musa bin ‘Imran, berkaitan dengan peringatan yang disampaikan Musa kepada kaumnya mengenai nikmat-nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada mereka, karunia yang telah dilimpahkan kepada mereka, serta penyatuan nikmat dunia dan akhirat oleh-Nya, jika mereka tetap berada di jalan yang lurus.

Allah berfirman: wa idz qaala muusaa liqaumiHii yaa qaumidzkuruu ni’matallaaHi ‘alaikum idz ja’ala fiikum anbiyaa-a (“Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Allah mengangkat para Nabi di antaramu.'”) maksudnya setiap kali seorang Nabi wafat, maka ada Nabi lain yang muncul dari kalangan kalian, yang berlangsung sejak Nabi Ibrahim dan para Nabi setelahnya. Di tengah-tengah mereka masih terus [tetap] ada Nabi yang menyeru mereka kepada Allah dan memperingatkan mereka atas adzab-Nya; hingga ditutup oleh ‘Isa bin Maryam as. setelah itu, Allah memberikan wahyu kepada penutup para Nabi dan Rasul, Muhammad bin ‘Abdullah, yang bernasab pada Ismail ibn Ibrahim as. Beliau merupakan Nabi dan Rasul yang paling mulia dari para Nabi sebelumnya.

Mengenai firman-Nya: wa ja’alakum muluukan (“Dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka.”) ‘Abdurrazzaq mengatakan, dari Ibnu ‘Abbas: “[Yaitu memiliki] pelayan, wanita dan rumah.”

Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa di antara kalian yang bangun pagi dengan tubuh yang sehat, hatinya merasa aman, [dan ia] memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah telah diberikan kepadanya dunia dengan segala isinya.” (HR Ibnu Majah dalam kitab az-Zuhud)

Firman Allah: wa aataakum maa lam yu’ti ahadam minal ‘aalamiin (“Dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.”) yaitu umat-umat pada zaman kalian. Karena mereka adalah orang yang lebih mulia daripada orang Yunani, Qibti, atau bangsa lainnya pada zaman tersebut. Ada yang mengatakan, yang dimaksud dengan “Apa yang belum pernah Allah berikan kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain”, yaitu berupa Manna dan salwa yang diturunkan kepada mereka, juga penaungan awan, dan lain sebagainya dari hal-hal luar kebiasaan yang oleh Allah secara khusus diberikan kepada mereka. wallaahu a’lam.

Selanjutnya Allah memberitahukan ajakan Musa kepada kaumnya untuk berjihad dan memasuki Baitul Maqdis yang pada zaman nenek moyang mereka, yaitu Ya’qub Baitul, Maqdis berada di tangan mereka. setelah Ya’qub beserta anak dan keluarganya pergi ke Mesir pada masa pemerintahan Yusuf as. dan menetap di Mesir sampai mereka pergi meninggalkan Mesir bersama Musa, ternyata mereka mendapati bangsa Amaliq yang gagah perkasa telah menaklukkan dan menguasainya. Maka Musa as. memerintahkan untuk memasuki negeri itu dan memerangi musuh-musuh mereka. setelah itu Musa menyampaikan kabar gembira berupa kemenangan dan keberuntungan atas mereka. selanjutnya mereka membangkang, mendurhakai, dan menentang perintahnya sehingga mereka dihukum agar pergi ke padang Tiih [padang sahara yang sering membingungkan, menyesatkan orang] dan berputar-putar dalam perjalanan mereka dalam keadaan bingung. Tidak tahu bagaimana mereka harus mencapai tujuan, selama empat puluh tahun. Sebagai hukuman bagi mereka akibat sikap meremehkan perintah Allah Ta’ala.

Maka Allah Ta’ala berfirman memberitahukan tentang Musa bahwa ia mengatakan kepada kaumnya: yaa qaumidkhulul ardlal muqaddasata (“Hai kaumku, masuklah ke Tanah Suci”) yang dimaksud dengan muqaddasah yaitu muthahharah [yang suci]. Mengenai ucapan Musa as. tersebut, Sufyan ats-Tsauri menceritakan dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu bukit [bukit Sinai] dan sekitarnya.” Hal yang sama juga dikemukakan oleh Mujahid dan beberapa ulama lainnya.

Firman Allah Ta’ala selanjutnya: allatii kataballaaHu lakum (“Yang telah ditentukan Allah bagimu”) yaitu apa yang telah dijanjikan Allah Ta’ala melalui lisan yang beriman di antara kalian. Wa laa tartadduu ‘alaa adbaarikum (“Dan janganlah kamu lari ke belakang [karena takut kepada musuh].”) yakni janganlah kalian enggan berjihad.

Fatanqalibuu khaasiriina qaaluu yaa muusaa innii fiiHaa qauman jabbaariina wa innaa lan nadkhulaHaa hattaa yakhrujuu minHaa fa iy yakhrujuu minHaa fa innaa daakhiluun (“Maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. Mereka berkata: ‘Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya sekali-sekali kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar darinya, pasti kami akan memasukinya.‘”) maksudnya mereka beralasan bahwa di dalam negeri yang engkau perintahkan kami untuk memasukinya dan memerangi penduduknya tersebut ada suatu kaum yang gagah berani, yang mempunyai bentuk tubuh yang besar lagi sangat kuat, kami tidak sanggup menghadapi dan melawannya. Tidak mungkin bagi kami memasukinya selama mereka masih ada di negeri tersebut. Jika mereka telah keluar dari negeri itu, kami baru mau memasukinya; jika tidak, tidak ada kemampuan bagi kami untuk melawan mereka.

Dalam hal ini banyak ahli tafsir yang menyebutkan beberapa berita yang dibuat-buat oleh bani Israil tersebut [sebagai berita bohong] tentang kebesaran atau kemampuan yang gagah perkasa tersebut, yang diantaranya terdapat Auj bin Inaq binti Adam as, yang mempunyai tinggi tiga 3.333,3 hasta. Ini merupakan berita yang memalukan untuk disebutkan. Juga bertolak belakang dengan hadits yang ditegaskan dalam ash-Shahihain, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya, Allah menciptakan Adam dengan tinggi 60 hasta. Dan ketinggian itu terus berkurang sampai sekarang ini.”

Firman Allah selanjutnya: qaalu rajulaani minalladziina yakhaafuuna an’amallaaHu ‘alaiHimaa (“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut [kepada Allah] yang Allah telah berikan nikmat atas keduanya,”) yaitu setelah Bani Israil enggan mentaati Allah dan mengikuti Rasul Allah, Musa as. Maka mereka dimotivasi oleh kedua orang yang telah dianugerahi nikmat yang besar kepada keduanya. keduanya adalah orang yang takut akan perintah Allah Ta’ala, sekaligus takut akan adzab-Nya. sebagian ahli tafsir ada yang membaca; qaala rajulaani minalladziina yukhaafuuna (“Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang ditakuti oleh mereka.”) yaitu dua orang yang termasuk mereka yang mempunyai kewibawaan dan kedudukan di tengah-tengah manusia. Disebutkan kedua orang itu bernama Yusa’ bin Wanun dan Kalib bin Yufana. (dalam teks al-Azhar disebutkan Yuqana [dengan menggunakan huruf qaf] sedang pada beberapa tempat dalam Taurat ditulis Yafunna.)

Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, ‘Athiyyah, as-Suddi, Rabi’ bin Anas, dan beberapa ulama lainnya baik salaf maupun khalaf.

Kedua orang tersebut berkata: udkhuluu ‘alaiHimul baaba fa idzaa dzakhaltumuuHu fa innakum ghaalibuuna wa ‘alallaaHi fatawakkaluu in kuntum mu’miniin (“Serbulah mereka melalui pintu gerbang [kota] itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu berawakkal jika kamu benar-benar orang yang beriman.”) maksudnya, jika kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dan kalian juga mengikuti perintah-Nya, serta menyepakati Rasul-Nya, pasti Allah akan memenangkan kalian atas musuh-musuh kalian, mendukung dan memperkuat kalian dalam melawan mereka sehingga kalian dapat memasuki negeri yang telah Allah tetapkan bagi kalian. Namun, seruan itu tidak membawa manfaat sama sekali.

Qaaluu yaa muusaa innaa lan nadkhulaHaa abadam maa daamuu fiiHaa fadzHab anta wa rabbuka faqaatilaa innaa HaaHunaa qaa’iduun (“Mereka berkata: ‘Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan peranglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.”) yang demikian itu merupakan bentuk penolakan mereka untuk berjihad, sekaligus sebagai bentuk penentangan terhadap Rasul mereka, dan mereka enggan memerangi musuh.

Alangkah baiknya sambutan para shahabat terhadap seruan Rasul pada saat terjadi perang Badar. Abu Bakar bin Mardawaih mengatakan, dari Anas, “Ketika hendak berangkat ke Badar, Rasulullah saw. mengajak kaum Muslimin bermusyawarah. Kemudian ‘Umar memberikan pendapat. Selanjutnya beliau meminta pendapat mereka, maka kaum Anshar berkata: ‘Hai sekalian kaum Anshar, kepada kalian Rasulullah saw. meminta saran.’ Mereka berkata, ‘Kalau demikian, kita tidak boleh mengatakan kepada beliau seperti yang dikatakan Bani Israil kepada Musa: fadzhab anta wa rabbuka faqaatilaa innaa Haahunaa qaa’iduun (“pergilah kamu bersama Rabbmu, dan peranglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.”). Demi Dzat yang mengutusmu dengan haq, seandainya engkau menempuh jarak yang sangat jauh, sejauh ke Barkil Ghimad sekalipun, niscaya kami akan ikut bersamamu.” (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ahmad, an-Nasa’i, dan Ibnu Hibban)

Imam Ahmad berkata: ‘Abdullah bin Mas’ud mengatakan: aku pernah menyaksikan sikap Miqdad, yang seandainya akulah yang melakukan hal itu lebih aku sukai daripada yang sebanding dengannya. Ia [Miqdad] mendatangi Rasulullah saw. ketika beliau mendoakan keburukan bagi orang-orang musyrik, lalu berkata: “Ya Rasulallah, demi Allah, kami tidak akan berkata seperti yang dikatakan Bani Israil kepada Musa: fadzhab anta wa rabbuka faqaatilaa innaa HaaHunaa qaa’iduun (“pergilah kamu bersama Rabbmu, dan peranglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.”) akan tetapi kami akan berperang di sebelah kanan dan kirimu, di depan dan di belakangmu.” Maka aku melihat Rasulullah saw. ceria karenanya dan hal itu menjadikan beliau bahagia.

Demikian hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Bab “al-Maghazi [perang]” dan “at-Tafsir”.

Firman Allah: qaala rabbi innii laa amliku illaa nafsii wa akhii fafruq bainanaa wa bainal qaumil faasiqiin (“Musa berkata: ‘Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dan orang-orang yang fasik itu.”) yakni ketika bani Israil enggan berperang, maka Musa marah kepada mereka, dengan mendoakan keburukan bagi mereka. Musa berucap: rabbi innii laa amliku illaa nafsii wa akhii (“Ya Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku.”) maksudnya tidak ada seorang pun dari mereka yang mentaatiku, lalu yang melaksanakan perintah Allah serta menyambut seruanku kecuali aku dan saudaraku, Harun. fafruq bainanaa wa bainal qaumil faasiqiin (“Sebab itu pisahkanlah antara kami dan orang-orang yang fasik itu.”)

Al-‘Aufi mengatakan dari Ibnu ‘Abbas: “Yakni, putuskanlah persoalan antara kami dan mereka.” hal senada juga diungkapkan oleh ‘Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas. Demikian juga yang dikatakan oleh adh-Dhahhak: “Berikanlah putusan antara kami dan mereka, serta bukakanlah tabir antara kami dan mereka.” adapun ulama lain berkata: “Pisahkanlah antara kami dan mereka.” sebagaimana diungkapkan seorang penyair:
Ya Rabbku, pisahkanlah antara dirinya dan diriku.
Pemisahan yang lebih jauh dari dua hal yang Engkau pisahkan.

Firman Allah: fa innahaa muharramatun ‘alaiHim arba’iina sanatay yatiiHuuna fil ardli (“Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan bagi mereka selama empat puluh tahun, [selama itu] mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi [Padang Tiih] itu.”) yaitu setelah Musa mendoakan keburukan bagi mereka karena mereka enggan berjihad. Maka Allah mengharamkan memasuki Baitul Maqdis selama empat puluh tahun. Hingga akhirnya mereka terdampar di padang Tiih. Mereka terus menerus berjalan dan tidak memperoleh jalan keluar dari Padang Tiih tersebut.

Mengenai firman-Nya: qaala fa innaHaa muharramatun ‘alaiHim (“Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan bagi mereka.”) sebagian ahli tafsir mengatakan: “Di sini di-waqaf-kan dengan menggunakan waqaf taam.” [waqaf yang makna kalimatnya telah sempurna sehingga kalimat sebelumnya tidak bergantungg kepada kalimat sesudahnya]. Dan firman-Nya: arba’iina sanatan (“Selama empat puluh tahun”) adalah, sebagai keterangan waktu dari kalimat yang berikutnya dalam firman-Nya: yatiiHuuna fil ardli (“[selama itu] mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi [Padang Tiih] itu.”)

Adapun menurut Ibnu Jarir firman Allah: fa innaHaa muharramatun ‘alaiHim (“Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan bagi mereka.”) merupakan ‘amil [subyek] dari kalimat “empat puluh tahun” sebagai keterangan waktunya.

Firman Allah selanjutnya: falaa ta’sa ‘alal qaumil faasiqiin (“Maka janganlah kamu bersedih hati [memikirkan nasib] orang-orang yang fasik itu.”) yang demikian itu merupakan hiburan bagi Musa as. dalam menghadapi orang-orang itu. Dengan kata lain: janganlah engkau berduka cita dan bersedih hati atas putusan-Ku terhadap mereka dengan hal tersebut, sebab mereka memang berhak menerimanya.

Kisah ini mengandung celaan bagi orang-orang Yahudi sekaligus menjelaskan keburukan mereka, keingkaran mereka kepada Allah dan Rasul-Nya, dan keengganan mereka mentaati apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, kepada mereka. yaitu perintah berjihad sehingga diri mereka tidak mampu bersabar dalam menghadapi musuh, tidak bersikap keras, dan tidak mampu menyerang musuh, padahal di tengah-tengah mereka terdapat Rasul, sekaligus kalimullah, Musa as., dan merupakan orang pilihan-Nya pada zaman itu. Allah menjanjikan pertolongan dan kemenangan atas musuh-musuh mereka. Padahal mereka telah menyaksikan apa yang telah Allah perbuat terhadap musuh mereka, yaitu Fir’aun, berupa adzab, siksaan, dan tenggelamnya Fir’aun bersama bala tentaranya ke dasar laut, sementara mereka melihat agar hati mereka menjadi puas, dan kejadian ini terjadi belum berapa lama. Kemudian mereka enggan memerangi penduduk negeri yang jumlahnya sepersepuluh jumlah penduduk Mesir. Dengan demikian tampaklah keburukan perbuatan merekayang bersifat khusus dan umum, dan aib merekapun dibongkar tuntas yang tidak dapat lagi ditutupi oleh gelapnya malam. Itulah keadaan mereka dan mereka terombang-ambing dalam kebodohannya, dan bingung dalam kesesatannya. Mereka itu orang-orang yang dibenci dan dimusuhi Allah. Tetapi walaupun demikian mereka masih berani berkata: “Kami ini adalah anak-anaik Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” maka Allah Ta’ala memburukkan wajah mereka; di antara mereka ada yang telah diubah menjadi babi dan kera. Mereka terus-menerus dalam laknat yang menemaninya masuk Neraka yang menyala-nyala, dan diputuskan keberadaannya di dalam neraka untuk selama-lamanya. Segala puji hanya milik Allah dari segala sisi.

https://alquranmulia.wordpress.com/2014/12/10/tafsir-ibnu-katsir-surah-al-maa-idah-ayat-20-26-12/

***

Antara Tih Bani Israel dan Tih Umat Islam

Edgar Hamas 08/12/15 | 10:20 Artikel Lepas 

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com.


Ilustrasi – Peta Palestina terjajah dari waktu ke waktu. (inet)

dakwatuna.com – “Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka, selama empat puluh tahun mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (QS. Al-Maidah : 26)

***

“Tanah yang Dijanjikan” tulis Ibnu Katsir dalam kitab Kisah Para Nabi, “pun dicabut oleh Allah Subhanallahu Wata’aala. Bani Israel tidak lagi berhak atas tanah Palestina”.

Bani Israel melakukan sebuah tindak pembangkangan paling menyejarah di muka bumi. Lihat, baru saja mereka terselamat dari gegar perangai pasukan Fir’aun , pasukan terbaik di dunia saat itu yang manguasai negeri-negeri. Di saat hati mereka terselimuti ketakutan, Allah selamatkan mereka hingga sepasukan rapi tentara nan gagah perkasa pimpinan Fir’aun tenggelam musnah, dalam kejap mata.

“350 ribu tentara Fir’aun “, kata seorang Syaikh menjelaskan karunia Allah pada Bani Israel, “sepasukan tentara pertama di bumi yang paling terorganisir, telah Allah benamkan ke air, kemudian Dia selamatkan Bani Israel pimpinan Nabi Musa yang jauh lebih sedikit dari mereka”. Sungguh Bani Israel mengenyam kasih sayang Allah lebih dari Umat-umat sebelum mereka. Namun coba sadari, siapa yang lebih berkhianat dari seseorang yang menyakiti penyelamatnya?

Bani Israel membangkang, mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, Musa yang perkasa.

Pembangkangan itu telak mereka katakan tanpa basa-basi, tepat setelah Musa menyampaikan kalam Allah nan barakah, “Wahai Kaumku, masuklah ke tanah suci Palestina yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang karena takut kepada musuh, maka kamu menjadi orang yang merugi”, ujarnya penuh ketegasan.

“Hai Musa!” sergah mereka dengan hati pengecut, “sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar daripadanya”. Mereka, yang telah menyaksikan kebesaran Allah, tak punya sedetakpun keyakinan untuk berjuang membersamai Tuhan Semesta Alam dan Rasul-Nya. Dengan segala alasan mereka menghindari perjuangan, “Jika mereka keluar daripadanya, pasti kami akan memasukinya”.

Sebab itulah mereka digelari sebagai ‘Generasi Pengecut’, tersifatilah mereka dengan ketakutan dan kebingungan, semata-mata karena mereka tidak mau hidup dalam perjuangan. “Dari ayat ini”, tulis DR. Jamal Abdul Hadi Muhammad Mas’ud dalam bukunya ‘Al-Akhta’ Yajibu an Tushahhih; Ath-Thariq ila Baitil Maqdis, “teranglah satu hikmah bagi Umat Islam di dalam atau di luar Palestina, untuk memegang teguh makna ayat Quran ini, karena ia adalah kunci untuk zaman kita sekarang, dan di dalamnya ada petunjuk jalan yang mesti dilalui Kaum Muslimin untuk kembali ke Tanah Palestina”.

“Generasi yang berhak untuk memerdekakan kembali Baitul Maqdis”, tulis beliau kembali, “Adalah generasi yang beriman pada Allah, lalu berjuang di jalan-Nya”, kemudian dalam bait-bait penjelasannya ia memuat sebuah komentar yang penting, “Generasi Pengecut yang hari ini berkilah tak memiliki daya upaya walau sedikit untuk membebaskan Al-Aqsha, dan takut pada kedigdayaan Israel, Amerika dan Rusia, mereka adalah gambaran sama yang terjadi pada generasi Bani Israel ketika enggan memasuki Baitul Maqdis, kemudian Allah buat mereka kebingungan berputar-putar dalam ketidakpastian, seperti Bani Israel tersesat di padang Tiih”

Kita berlindung pada Allah dari sifat yang Dia benci. Maha Suci Allah, apakah karena begitu apatisnya kaum Muslimin hari ini pada Palestina, kemudian Allah beri banyak masalah yang tak kunjung usai? Setiap kali negeri-negeri Muslim ingin bergeliat, Allah memberikan perkara-perkara yang tak berawal dan tak pula berakhir, seperti benang kusut yang tak tahu dimana ujungnya. Ya, Umat ini seperti sedang tersesat di sebuah titik rumit, hingga banyak orang kemudian berkata, “Kita sangat bingung, darimana akan memulai, dan bagaimana memulainya?”

Jika Bani Israel berputar sesat di Padang Tiih, Umat ini seperti tersergap dalam lingkaran Tiih yang tak berlatar tempat, melainkan berkutat dalam keterasingan dan limbungnya tujuan.

Tapi, sejarah akan berulang indah, tepat setelah 40 tahun tersesat di Padang Tiih, Allah ganti generasi pengecut Bani Israel dengan Generasi Shalih pimpinan Yusya’ bin Nuun, hingga mereka akhirnya bisa membebaskan Baitul Maqdis dari Kaum Jabbarin.

Generasi Shalahuddin akan lahir kembali, atas izin Allah.

Islam tidak akan membiarkan umatnya tertidur seperti tidurnya Ashabul Kahfi. Sebab Islam adalah agama yang dinamis dan hidup. Allah senantiasa mengutus individu, kelompok, institusi atau gerakan yang akan membangunkan umat dari tidurnya dan menghidupkan gerakan Islam. Selain itu, kebangkitan merupakan naluri umat Islam.

Wallahu A’lam.

Referensi terkait :

  1. Kisah Para Nabi; Ibnu Katsir
  2. Al-Akhta’ Yajibu An Tushahhih; DR. Jamal Abdul Hadi Muhammad Mas’ud
  3. Hakadza Dhahara Jil Shalahuddin, wa Hakadza ‘Aadat Al-Quds, DR. Majid Al-Kailani
  4. Untuk Kalian Yang Rindu Perubahan, Edgar Hamas

 
 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya https://www.dakwatuna.com/2015/12/08/77376/77376/#axzz6KOK1gd3v

 

(nahimunkar.org)