• Pembangunan Kedubes AS di Jakarta terus mendapatkan penolakan dari umat Islam. Pasalnya, pembangunan Kedubes megah tersebut disinyalir digunakan sebagai markas militer. Sebab dalam dokumen kontrak pembangunan gedung tersebut  (Department of State 2012 Design-Build Contract for US Embassy Jakarta, Indonesia) memang nyata-nyata disebut bahwa pembangunan gedung itu berikut markas satuan pengaman laut  atau Marine Security Guard Quarters (MSGQ).
  • Pembangunan Kedutaan Besar Amerika Serikat seluas 3,6 hektar hingga saat ini ternyata belum mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Pemda DKI Jakarta.

Inilah beritanya.

Ngaco!!! Belum Kantongi IMB, Amerika Bangun Gedung Kedubes di Jakarta

JAKARTA (voa-islam.com) – Pembangunan Kedutaan Besar Amerika Serikat seluas 3,6 hektar hingga saat ini ternyata belum mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Pemda DKI Jakarta.

Kedubes AS terbesar ke-3 setelah Irak dan Pakistan itu menurut Kepala Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan DKI Jakarta I Putu Ngurah Indiana menyatakan bahwa pihaknya belum mengeluarkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). “Semua masih dalam proses,” kata Putu seperti dikutip tempo.

Putu sendiri enggan mengatakan sudah sampai tahap mana pengurusan izin itu. Dia hanya menjelaskan, ada tahapan yang harus ditempuh untuk mendapat IMB. Tahapan itu dimulai dari sidang TPAK (Tim Penertiban Arsitektur Kota) yang bila lulus berlanjut ke proses TPKB (Tim Penertiban Konstruksi Bangunan).

Pada tahap yang kedua itu pondasi gedung akan dianalisa apakah sesuai dan pas untuk gedung bertingkat itu atau tidak. Bila disetujui, masuklah ke tahap berikutnya yakni sidang oleh TPIB (Tim Penertiban Instalasi Bangunan) yang akan menganalisa struktur bangunan ke atas.

“Apabila semua terpenuhi maka Dinas P2B boleh mengeluarkan IMB gedung itu,” kata Putu.

Bahkan, tak cuma belum mengantongi IMB, rencana pembangunan kompleks Kedubes AS senilai U$ 450 juta yang akan dimulai Desember 2012 itu juga masih terkendala ihwal relokasi bangunan bersejarah yang ada di dalam kompleks itu. Relokasi yang artinya pembongkaran bangunan lama itu menyita perhatian cukup luas.

“Pada prinsipnya gedung (yang pernah digunakan berkantor) Sutan Sjahrir sudah boleh digeser tapi proses rekomendasinya dari dinas pariwisata masih belum selesai, jadi kami juga belum keluarkan izin,” kata Putu menunjuk pada bangunan bersejarah itu.

Sebelumnya, arsitek yang terlibat dalam pembangunan gedung baru Kedubes AS, Jasin Tedjasukmana, juga mengungkap perizinan yang masih diurus. “Tapi untuk TPAK sudah lulus,” katanya Selasa lalu.

Seperti diketahui, pembangunan Kedubes AS di Jakarta terus mendapatkan penolakan dari umat Islam. Pasalnya, pembangunan Kedubes megah tersebut disinyalir digunakan sebagai markas militer. Sebab dalam dokumen kontrak pembangunan gedung tersebut  (Department of State 2012 Design-Build Contract for US Embassy Jakarta, Indonesia) memang nyata-nyata disebut bahwa pembangunan gedung itu berikut markas satuan pengaman laut  atau Marine Security Guard Quarters (MSGQ).  [Widad/tmp] Kamis, 09 Aug 2012

(nahimunkar.com)

(Dibaca 320 kali, 1 untuk hari ini)