وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ [البقرة/42]

Pembela Kesesatan dan Sindroma Robin Hood

Rusaknya pemahaman telah merambah ke berbagai lapisan.

— Bila ada kumpul-kumpul dan anggotanya banyak maka hampir identik dengan yang rusak pemahamannya. Sampai penataran yang paling menonjol di Indonesia pun yang rusak pemahamannya, sesat dan berbahaya bagi pemahaman Islam.Sebaliknya, bila murni tak mencampurkan yang haq dengan yang batil maka anggotanya minim dan dimusuhi.

— Karena para sarjananya terkontaminasi maka belum tampak ada yang berani meneliti dengan kesimpulan bahwa kumpulan orang yang terbanyak justru yang mendukung kesesatan.

— Agar masyarakat tidak semakin rusak maka jalan keluarnya harus dididik generasi baru yang tidak mencampur adukkan yang haq dengan yang batil.

Pada sebagian kecil masyarakat kita ada yang menjadi pembela paham sesat Syi’ah yang merupakan induk kesesatan. Mereka berpendapat, Syi’ah itu ada yang sesat namun ada pula yang tidak, sehingga tidak boleh disamaratakan. Pendapat seperti itu jelas menyesatkan. Namun itu merupakan fakta yang hidup di tengah-tengah masyarakat kita.

Fakta lain yang juga hidup di tengah-tengah masyarakat kita adalah fakta yang berkaitan dengan koruptor. Ada koruptor yang baik hati dan dermawan, namun ada juga yang tidak. Koruptor yang baik hati dan dermawan, biasanya membelanjakan uang hasil korupsinya selain untuk bermewah-mewah (punya rumah mewah, mobil mewah dan sebagainya), juga untuk kepentingan kemanusiaan dan ibadah.

Ada koruptor yang dengan uang hasil korupsinya menjadi donatur tetap rumah ibadah tertentu, dan menjadi donatur tetap kegiatan kemanusiaan lainnya. Namun sebaliknya, ada koruptor yang membelanjakan uang hasil korupsinya hanya untuk kepentingan dirinya dan keluarganya semata, dan sama sekali tidak peduli dengan kegiatan sosial maupun keagamaan.

Koruptor jenis pertama tadi, biasanya tidak dimusuhi masyarakat. Ia bagaikan perampok dermawan yang lebih sering didudukkan pada tempat terpuji: dijadikan Ketua RT, Ketua RW, Pengurus Rumah Ibadah dan Yatim Piatu, serta sejumlah kegiatan sosial-keagamaan lainnya. Ia diperlakukan bagai Robin Hood.

Faktanya memang demikian. Meski Robin Hood merupakan cerita rakyat dari Inggris, namun rakyat Indonesia mengenalnya dengan baik. Bahkan boleh jadi, sebagian dari rakyat Indonesia ada yang justru lebih mengenal cerita rakyat asal Ingris ini ketimbang cerita rakyat lokal.

Robin Hood digambarkan sebagai seorang bangsawan yang prihatin terhadap perilaku korupsi sebagian pejabat di Nottingham. Ia keluar dari lingkaran kehidupan bangsawan dan memilih hidup di hutan bersama sejumlah pengikutnya. Dari hutan, Robin Hood melakukan perlawanan terhadap para koruptor. Robin Hood dalam salah satu bentuk perlawanannya adalah melakukan perampokan, dan hasil rampokannya dibagi-bagikan kepada rakyat jelata.

Di Indonesia, ada sejenis cerita rakyat dengan semangat yang sama, misalnya sebagaimana bisa dilihat pada produk komik tahun 1960-1970-an karya Djair Warniponakanda berjudul Bajing Ireng, dengan setting lokasi di sekitar Indramayu-Cirebon, Jawa Barat. Komik ini pada masanya sangat digemari masyarakat di sekitarnya.

Menurut si empunya cerita, Bajing Ireng adalah pendekar wanita dengan nama asli Roijah, berasal dari Desa Kandang Haur. Salah satu darma bakti sang pendekar wanita ini adalah merampok harta orang-orang kaya, kemudian hasil rampokannya itu dibagikan kepada rakyat miskin yang menderita.

Boleh jadi, sosok perampok dermawan asal Kandanghaur (Indramayu, Cirebon) pada komik karya Djair tersebut terinsipirasi dari cerita perampok dermawan asal Inggris, Robin Hood. Karena, bila melihat tahun kelahirannya, Robin Hood jauh lebih senior dari Bajing Ireng yang dalam aksinya menutupi wajahnya dengan kain penutup sejenis selendang. Tokoh perampok dermawan ini kemudian pada awal 1980-an difilmkan

Mungkin pada sebagian orang, fenomena perampok dermawan ala Robin Hood sudah diadopsi menjadi nilai-nilai yang inherent dengan kultur dan watak kebangsaannya. Penerimaan masyarakat terhadap tokoh Robin Hood, kemudian dilokalisir menjadi semacam Bajing Ireng, boleh jadi merupakan salah satu petunjuk bahwa karakter perampok dermawan sudah internal (sudah diterima menjadi bagian dari nilai diri yang bersangkutan) sejak lama.

Melalui komik dan film seolah-olah ditanamkan nilai-nilai bahwa menjadi perampok itu boleh-boleh saja asal dermawan. Yaitu, untuk dibagikan kepada rakyat miskin yang membutuhkan, seperti dilakukan Robin Hood. Padahal, dalam ajaran Islam sama sekali tidak dibenarkan mencampur-adukkan persoalan yang hak dan batil dalam satu kemasan. Menolong rakyat kecil tidak boleh ditempuh dengan cara merampok, meski yang dirampok adalah harta orang kafir, orang kaya yang bakhil atau penguasa yang dzalim.

Cara-cara itu bertentangan dengan firman Allah ta’ala:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ [البقرة/42]

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah: 42).

Kedoknya macam-macam, sindromanya hampir sama

Sindroma Robin Hood (mencampuradukkan antara yang hak dengan yang batil) ternyata juga menjangkiti sebagian kecil kalangan pergerakan berlabel Islam. Misalnya, ada yang menjustifikasi perampokan dengan sebutan fa’i. Padahal, fa’i dan perampokan adalah dua hal yang berbeda. Perampokan yang dibungkus fa’i ini antara lain dijadikan alasan untuk membiayai gerakan-gerakan kekerasan dengan dalih melawan musuh Islam, melawan zionis Israel, melawan kafirin Amerika dan sebagainya.

Sindroma Robin Hood juga bisa dilihat pada pendukung Ahmadiyah. Ada yang berpendapat, Ahmadiyah yang sesat adalah Ahmadiyah yang menjadikan Mirza Ghulam Ahmad (MGA) sebagai Nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Ahmadiyah yang ‘hanya’ menjadikan MGA sebagai pembaharu, disebut tidak sesat bahkan dianggap sama saja dengan umat Islam pada umumnya. Bahkan ada yang jauh lebih parah, seperti didengungkan kaum liberalis, bahwa Ahmadiyah (Lahore maupun Qadian) sama-sama tidak sesat, sama-sama Islam, hanya berbeda di dalam menafsirkan konsep kenabian.

Di kalangan sebagian kyai juga ada yang terjangkiti sindroma Robin Hood. Misalnya, ada kyai yang berusaha meyakinkan kepada umat Islam, bahwa LDII yang sesat itu berada di masa lalu sedangkan LDII yang ada sekarang sudah tidak sesat, sama dengan umat Islam pada umumnya. Padahal, LDII (Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia alias Islam Jama’ah) dari dulu hingga kini, ya sama saja, sesat dan menyesatkan. Yang berbeda, LDII masa kini lebih canggih menggunakan jurus-jurus penipuannya, sehingga sejumlah kyai pun tertipu.

Meskipun sebagian kyai ada yang tertipu, namun alhamdulillah, masalah Ahmadiyah dan LDII sudah ada kejelasan dari MUI.

MUI dalam Musyawarah Nasional VII di Jakarta, 21-29 Juli 2005, merekomendasikan bahwa aliran sesat seperti Ahmadiyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan sebagainya agar ditindak tegas dan dibubarkan oleh pemerintah karena sangat meresahkan masyarakat. Bunyi teks rekomendasi itu sebagai berikut:

Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah.

MUI mendesak Pemerintah untuk bertindak tegas terhadap munculnya berbagai ajaran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membubarkannya, karena sangat meresahkan masyarakat, seperti Ahmadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), dan sebagainya. MUI supaya melakukan kajian secara kritis terhadap faham Islam Liberal dan sejenisnya, yang berdampak terhadap pendangkalan aqidah, dan segera menetapkan fatwa tentang keberadaan faham tersebut. Kepengurusan MUI hendaknya bersih dari unsur aliran sesat dan faham yang dapat mendangkalkan aqidah. Mendesak kepada pemerintah untuk mengaktifkan Bakor PAKEM dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya baik di tingkat pusat maupun daerah.” (Himpunan Keputusan Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia, Tahun 2005, halaman 90, Rekomendasi MUI poin 7, Ajaran Sesat dan Pendangkalan Aqidah).

Yang agak rumit mengenai kesesatan yang beredar di masayarakt adalah masalah bikinan baru dalam ibadah. Di kalangan komunitas tertentu, yaitu di kalangan para praktisi bid’ah, dikenal istilah bid’ah dhalalah dan bid’ah hasanah. Pembagian seperti ini mirip juga dengan sindroma Robin Hood. Logika berfikirnya sama dengan pengusung paham sesat Syi’ah yang membagi Syi’ah ke dalam dua aliran. Yaitu, Syi’ah yang sesat dan tidak sesat. Pemaknaan bid’ah dhalalah dengan bid’ah hasanah, seperti logika perampok dermawan atau koruptor dermawan. Karena, pada dasarnya bid’ah itu adalah dhalalah.

Agak rumit pula ketika bentuknya semacam penataran, mengaku tidak mendakwahkan agama tetapi mencampur aduk yang haq dengan yang batil. Di masyarakat yang memang sudah rancu dan para tokohnya tidak sedikit yang oke-oke saja terhadap kesesatan, maka jenis penataran semacam itu menjadi sangat laris. Sampai dalam kenyataannya, penataran yang paling menonjol di Indonesia pun yang rusak pemahamannya, sesat dan berbahaya bagi pemahaman Islam. Dan yang mampu mengendus (mencium) kesesatannya justru Mufti di Malaysia. Ini tidak aneh, ibarat orang di dalam kakus akan diam dan tenang-tenang saja dengan baunya. Sedang yang mampu mencium baunya justru orang di luar kakus itu. (Lihat artikel: Buku Rekayasa Pembusukan Islam memuat Bahaya ESQ, nahimunkar.com, 1:00 am,

https://www.nahimunkar.org/buku-rekayasa-pembusukan-islam-memuat-bahaya-esq/#more-2817)

Mengenai kesesatan Syi’ah, alhamdulillah sudah ada pula surat edaran dari Departemen Agama (kini Kementerian Agama/ Kemenag).

Surat Edaran Departemen Agama:

Syiah Imamiyah Bertentangan dengan Ajaran Islam

Secara resmi, Departemen Agama (kini Kementerian Agama) telah mengeluarkan Edaran tentang Syi’ah melalui Surat Edaran Departemen Agama Nomor D/BA.01/4865/1983, tanggal 5 Desember 1983 perihal “Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah”

Pada poin ke-5 tentang Syi’ah Imamiyah (yang di Iran dan juga merembes ke Indonesia, red) disebutkan sejumlah perbedaannya dengan Islam. Lalu dalam Surat Edaran Departemen Agama itu dinyatakan sbb:

“Semua itu tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Dalam ajaran Syi’ah Imamiyah pikiran tak dapat berkembang, ijtihad tidak boleh. Semuanya harus menunggu dan tergantung pada imam. Antara manusia biasa dan Imam ada gap atau jarak yang menganga lebar, yang merupakan tempat subur untuk segala macam khurafat dan takhayul yang menyimpang dari ajaran Islam.” (Surat Edaran Departemen Agama No: D/BA.01/4865/1983, Tanggal: 5 Desember 1983, Tentang: Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah, butir ke 5).

Untuk lebih jelasnya, yang dimaksud Semua itu tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya adalah:

5. SYI’AH IMAMIYAH

Sebutan lengkapnya adalah syi’ah Imamiyah Isna Asyariyah, tetapi biasa disingkat menjadi Syi’ah Imamiyah. Sekte ini mengakui pengganti Ja’far Sodiq adalah Musa Al-Kadzim sebagai Imam ketujuh, yaitu anak dari Ja’far dan saudara dan saudara dari Ismail almarhum. Imam mereka semuanya ada 12 dan Imam yang kedua belas dan yang terakhir adalah Muhammad. Pada suatu saat pada tahun 260H Muhammad ini hilang misterius. Menurut kepercayaan mereka ia akan kembali lagi ke alam dunia ini untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Muhammad tersebut mendapat sebutan sebagai Muhammad al-Mahdi al-Muntadzar.

Yang berkuasa di Iran sekarang ini adalah golongan Syi’ah Imamiyah. Di antara ajaran-ajaran Syi’ah Imamiyah adalah sebagai berikut:

1. Mereka menganggap Abu Bakar dan Umar telah merampas jabatan Khalifah dari pemiliknya, yaitu Ali. Oleh karena itu mereka memaki dan mengutuk kedua beliau tersebut. Seakan-akan laknat (mengutuk) di sini merupakan sebagian dari ajaran agama.

2. Mereka memberikan kedudukan kepada Ali setingkat lebih tinggi dari manusia biasa. Ia merupakan perantara antara manusia dengan Tuhan.

3. Malahan ada yang berpendapat bahwa Ali dan Imam-imam yang lain memiliki sifat-sifat Ketuhanan.

4. Mereka percaya bahwa Imam itu ma’shum terjaga dari segala kesalahan besar atau kecil. Apa yang diperbuat adalah benar, sedang apa yang ditinggalkan adalah berarti salah.

5. Mereka tidak mengakui adanya Ijma’ kesepakatan ulama Islam sebagai salah satu dasar hukum Islam, berbeda halnya dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka baru mau menerima Ijma’ apabila Ijma’ ini direstui oleh Imam. Oleh karena itu di kalangan mereka juga tidak ada ijtihad atau penggunaan ratio/intelek dalam pengetrapan hukum Islam. Semuanya harus bersumber dari Imam. Imam adalah penjaga dan pelaksana Hukum.

6. Mereka menghalalkan nikah Mut’ah, yaitu nikah untuk sementara waktu, misalnya satu hari, satu minggu atau satu bulan. Nikah mut’ah ini mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan nikah yang biasa kita kenal, antara lain sebagai berikut:

  • Dalam akad nikah ini harus disebutkan waktu yang dikehendaki oleh kedua belah pihak, apakah untuk satu hari atau dua hari misalnya.
  • Dalam akad nikah ini tidak diperlukan saksi, juga tidak perlu diumumkan kepada khalayak ramai.
  • Antara suami-istri tidak ada saling mewarisi.
  • Untuk memutuskan nikah ini tidak perlu pakai thalak. Apabila waktu yang ditentukan sudah habis, otomatis nikah mut’ah tersebut menjadi putus.
  • Iddah istri yang menjadi janda ialah 2X haid atau 45 hari bagi yang sudah tidak haid lagi. Adapun iddah karena kematian adalah sama dengan nikah biasa.
  • Mereka mempunyai keyakinan bahwa imam-imam yang sudah meninggal itu akan kembali ke alam dunia pada akhir zaman untuk memberantas segala perbuatan kejahatan dan menghukum lawan-lawan golongan Syi’ah. Baru sesudah Imam Mahdi datang, alam dunia ini akan kiamat. (Surat Edaran Departemen Agama No: D/BA.01/4865/1983, Tanggal: 5 Desember 1983, Tentang: Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah, butir ke 5).

Menjangkiti kalangan luas

Kembali kepada masalah pembela kesesatan dan sindroma Robin Hood, ternyata Sindroma Robin Hood menjangkiti kalangan yang luas termasuk seniman. Misalnya, Oppie Andaresta. Penyanyi kelahiran Jakarta, 20 Januari 1973 ini pernah sukses dengan lagu berjudul Cuma Khayalan.

Pada salah satu wawancara dengan Farhan (host salah satu mata acara di TVONE), sekitar Juni 2010, Oppie pernah mengutarakan pendapatnya, bahwa ia lebih bisa menerima dan menghargai seorang perempuan yang karena pilihannya sendiri memutuskan untuk menjadi pelacur, ketimbang pelaku korupsi.

Melacurkan diri, apapun motif yang melatar belakanginya, termasuk untuk alasan-alasan ekonomis dan kemanusiaan, sama buruknya dengan korupsi. Mungkin, Oppie dapat langsung mencerna akibat langsung dari korupsi, yaitu merugikan rakyat. Namun ia belum mampu mencerna dampak langsung melacurkan diri, meski itu dengan alasan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Sayangnya, ia sudah berani berpendapat, bahkan terkesan ‘menggurui’ penonton.

Logika berfikir seniman liberal macam Oppie, sama berbahayanya dengan logika berfikir para koruptor dermawan yang membagi-bagikan hasil korupsinya untuk rakyat miskin, sama berbahayanya dengan para teroris yang melakukan perampokan untuk membiayai aksinya. Juga, sama berbahayanya dengan para pemikir liberal yang menyamakan paham sesat (seperti Syi’ah, Ahmadiyah dan LDII) dengan Islam. Mereka sama-sama tidak bertanggung jawab dengan sikap dan pernyataannya.

Di Indonesia sebenarnya banyak doctor yang menggeluti ilmu social dan agama. Tetapi yang jadi pertanyaan, ketika gejala yang ada semacam itu, mestinya ada peneliti-peneliti yang mampu menghasilkan data dan fakta bahwa ternyata orang kumpul-kumpul, yang biasanya diikuti banyak orang justru yang mendukung kesesatan atau kerancuan, mencampur aduk yang haq dan yang batil. Dan sebaliknya, yang sering dimusuhi justru yang tidak mau mencampur kebenaran dengan kebatilan.

Kalau para sarjana social dan agama belum terkontaminasi atau bahasa Islamnya belum terkena pemurtadan di dalam negeri maupun luar negeri, tentunya mereka akan secara gagah dan bertanggung jawab berani meneliti dan membuat kesimpulan seperti itu.

Jadi di sini ada gejala dua masalah. Masyarakatnya sudah terkontaminasi, sedang para sarjananya pun demikian. (Bisa dibaca di buku Ada Pemurtadan di IAIN oleh Hartono Ahmad Jaiz, dan buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia penulisnya sama, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta. Dan buku Rekayasa Pembusukan Islam, penulisnya sama, Pustaka Nahi Munkar, Jakarta 2009). Sehingga, bukannya perubahan dari keadaan buruk (mencampur adukkan antara yang haq dengan yang batil) agar menjadi murni menegakkan kebenaran dan memberantas kebatilan, namun justru menambahi hitungan makin banyaknya orang yang seperti itu dan mengentalkannya. Makanya terasa sekali dalam kehidupan di Indonesia ini dari segi moral semakin rusak, dan dari segi kesesatan makin banyak pula.

Untuk menyehatkan Indonesia, kita tidak sekedar perlu menegakkan hukum, tetapi juga menghilangkan sindroma Robin Hood di dalam jati diri bangsa kita. Kalau masayarakatnya dan para sarjananya sudah rusak, perlu dididik dan ditumbuhkan yang sama sekali tidak mewarisi kerusakan itu. Kalau tidak, maka kerancuan dan kerusakan senantiasa akan berlanjut bahkan lebih dahsyat lagi.

Dari tulisan singkat ini perlu disadari bahwa yang namanya maling tetap maling, dan tidak ada maling budiman. Juga, yang namanya bid’ah tetaplah dholalah (sesat), tidak ada hasanah (baik). Begitu juga dengan Syi’ah, sebagai induk kesesatan tidak ada yang bisa membebaskannya dari kesesatan kecuali kalau mereka sendiri melepaskan diri dari kesesatan dan mengikuti kebenaran. (haji/tede)

(Dibaca 617 kali, 1 untuk hari ini)