ilustrasi


Oleh : Dr. Slamet Muliono*

 Latar belakang perang Shiffin didasari oleh adanya penolakan Muawiyah untuk berbaiat kepada Ali bin Abi Thalib. Alasan Muawiyah menolak baiat karena Ali tidak segera menegakkan hukum Qishash terhadap para pembunuh Utsman. Sementara Ali melihat bahwa baiat Muawiyah merupakan prioritas utama dan mengqishash para pembunuh Utsman akan segera dilakukan jika persoalan baiat sudah tuntas. Dengan kata lain, Ali menginginkan agar Muawiyah berbaiat pada dirinya terlebih dahulu, dan nanti akan dirundingkan penyelesaian terbaik terhadap para pembunuh Utsman.

Dalam peperangan itu, Ali membawa 100 ribu pasukan sementara Muawiyah menyiapkan 70 ribu pasukan. Setelah mendengar Ali mengirim pasukan perang, Muawiyah naik mimbar dan berpidato di hadapan rakyat guna meminta pandangan mereka. Setelah mendengar pidato Muawiyah, Dzulkala Al-Khiyali, salah seorang tokoh Syam mengatakan : “Katakan saja apa keputusanmu, kita akan mengikutinya.” Artinya, penduduk Syam satu kata dan bertekad bulat mematuhi apa yang menjadi keputusan pemimpinnya, Muawiyah.

Sementara sebelum memberangkatkan pasukannya, Ali juga berpidato di hadapan pasukannya guna meminta pandangan mereka. Begitu mendengar pidato Ali, maka suasana berubah menjadi gaduh. Mereka berpendapat yang berbeda soal peperangan ini, dan melemahkan satu sama lain. Intinya, mereka menunjukkan perbedaan pandangan dalam menghadapi perintah khalifah. Sehingga Ali berkata Innalillahi  Wa Inna ilaihi raojiun. Ini menunjukkan kekesalan Ali tehadap watak masyarakatnya.

Dari dua realitas di atas menunjukkan bahwa Muawiyah memiliki penduduk yang sangat taat pada pemimpinnya. Hal ini berbeda dengan penduduknya Ali yang menunjukkan sikap membangkang dan sulit untuk bersatu dalam menghadapi musuh. Watak buruk penduduk Kufah inilah yang nantinya mendorong untuk membunuh Ali.

Peperangan dan Peristiwa Tahkim

Dalam perang ini, pasukan Ali berangkat dan tiba di sebuah tempat namanya Shiffin, di  Syam. Peperangan yang berlangsung pada 37 H ini cukup dahsyat, hingga pasukan Ali berhasil mendesak pasukan Muawiyah. Merasa terdesak, pihak Muawiyah meminta damai dengan mengangkat Al-Qur’an. Oleh karena melihat Al-Qur’an yang diangkat, maka pihak Ali menghentikan serangan untuk merespon keinginan damai. Dua pasukan yang siap berdamai inilah yang disebut di dalam sejarah dengan “Peristiwa Tahkim”.

Dalam peristiwa Takhim inilah berkembang cerita yang populer di kalangan kaum muslimin bahwa Ali dan Muawiyah masing-masing mengutus juru runding, yakni Abu Musa Al-Asy’ari dan Amr bin Ash. Atas kesepakatan mereka berdua, maka Abu Musa naik mimbar dan menyatakan mencopot Ali sebagai Khalifah sebagaimana dia mencopot cincin dari jemarinya. Setelah itu, Amr bin Ash berpidato dan menyatakan tidak mengakui kepemimpinan Ali serta  menetapkan Muawiyah sebagai pemimpin kaum muslimin.

Cerita di atas mengandung beberapa kelemahan mendasar. Pertama, adanya tuduhan bahwa para sahabat sangat culas dan menghalalkan segala cara dalam memperoleh kekuasaan. Apa yang dilakukan oleh Amr bin Ash tergambar sebagai sosok politisi yang piawai dalam berpolitik, sehingga bisa melakukan tipu muslihat serta berhasil mecopot Ali dan menetapkan Muawiyah sebagai pemimpin kaum muslimin.

Kedua, ada problem dengan Abu Mihnaf. Abu Mihnaf dikenal sebagai seorang pembohong. Sehingga periwayatannya penuh degan kebohongan dan tendesius. Oleh karena itu cerita ini mengada-ada dan mengandung unsur penghinaan terhadap karakter sahabat yang culas dalam berpolitik.

Ketiga, sosok Abu Musa yang dikenal sahaja. Dalam ccerita ini menunjukkan kelancangan Abu Musa dianggap mengambil keputusan yang jauh daari sifat dan pribadinya yang sedehana. Dalam kasus dzikir bersama yang dilakukan oleh orang yang berkumpul di suatu tempat, menghitung-hitung dengan kerikil untuk dzikir. Ketika menyaksikan hal itu, Abu Musa tidak berani menegur langsung, tetapi pergi meninggalkan mereka dan melaporkannya pada Abdullah bin Mas’ud. Saat itulah Abdullah bin Mas’ud menylahkan Abu Musa mengapa tidak mengur langsung. Saat itu Abu Musa menyatakan dirinya kurang pantas untuk menegurnya dan meminta Abdullah bin Mas’ud untuk meluruskannya. Dalm kasus seperti ini saja Abu Musa taak berani mengambil keputusan, maka mustahil dia memutuskan untk mencopot Ali dalam peristiwa tahkim itu.

Peristiwa itu berjalan alami, dan setelah mengadakan perundingan disepakati untuk kembaali ke tempatnya masing-masing. Dengan adanya kesepakatan itu maka kedua pasukan itu kembali ke wilayahnya masing masing, dimana Muawiyah kembali ke Syam, dan Ali ke Kufah. Artinya, penghentian perang itu dirasakan hancurnya kekuatan internal umat Islam, sehingga mereka kembali ke wilayahnya masing-masing.

Dalam situasi seperti itu, ada kabar dari negeri Romawi yang sudah menyiapkan pasukan perang dan siap menyerang Syam. Mendengar hal itu, Muawiyah langsung bereaksi dan mengancam pasukan Romawi untuk segera menarik pasukanmu. Bahkan ada versi lain yang menyatakan bahwa ketika Romawi mengetahui Muawiyah berperang dengan Ali, maka Romawi siap membantu untuk melumpuhkan pasukan Ali. Mendengar hal itu, Muawiyah marah dan mengatakan bahwa dirinya siap berdamai dengan saudaranya (Ali) dan akan menyerang balik pasukan Romawi.

Ali sendiri tidak bergembira dalam perang ini, dan kecintaan Muawiyah terhadap Ali bin Abi Thalib demikian besar. Sehingga bisa dikatakan bahwa keduanya menyesali peperangan ini. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan Muawiyah, ketika ada pasukan Romawi yang siap menyerangnya, maka dia akan siap berdamai dengan Ali dan siap menyerang pasukan Romawi. Ini juga membuktikan ukhuwah Islamiyah mereka begitu kuat dan tidak ambisius terhadap kekuasaan dan menghalalkan cara meraih kekuasaan.

*Penulis adalah Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Direktur PUSKIP (Pusat Kajian Islam dan Peradaban)

Surabaya, 8 Mei 2019

(nahimunkar.org)

(Dibaca 905 kali, 1 untuk hari ini)