Pembesar-pembesar yang Jahat


 

{وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنْفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ [الأنعام: 123،]

Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri pembesar-pembesar yang jahat agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak menyadarinya.

[Al An’am:123]

 

Tafsir Ibnu Katsir:

 

Allah Swt. berfirman, “Sebagaimana Kami jadikan di dalam negerimu, hai Muhammad, pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar yang jahat serta orang-orang yang menyeru kepada kekafiran dan meng­halang-halangi jalan Allah, mereka semua menentang dan memusuhimu. Sesungguhnya di masa lalu di kalangan para rasul sebelum kamu, mereka mendapat cobaan yang sama. Akan tetapi, akibat yang terpuji pada akhirnya bagi para rasul.” Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

{وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ}

Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. (Al-Furqan: 31). hingga akhir ayat.

Firman Allah Swt. lainnya mengatakan:

{وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا }

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. (Al-Isra: 16), hingga akhir ayat.

Menurut suatu pendapat, makna ayat ialah Kami perintahkan kepada mereka untuk taat, tetapi mereka menentang; akhirnya Kami binasakan mereka. Menurut pendapat lain, makna yang dimaksud ialah Kami perintahkan mereka, yakni perintah yang berdasarkan takdir. Seperti yang disebutkan dalam ayat ini melalui firman-Nya:

{لِيَمْكُرُوا فِيهَا}

agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. (Al-An’am: 123)

****

Mengenai firman Allah Swt.:

{أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا}

 

pembesar-pembesar yang jahat agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. (Al-An’am: 123)

Ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: pembesar-pembesar yang jahat agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. (Al-An’am: 123) Yakni Kami jadikan orang-orang jahat mereka berkuasa, lalu mereka melakukan kedurhakaan di dalamnya. Apabila mereka melakukan hal tersebut, maka kami binasakan mereka dengan azab.

Mujahid dan Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: pembesar-pembesar yang jahat. (Al-An’am: 123) Maksudnya, para pembesar dan para pemimpinnya.

Menurut kami, hal ini sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:

{وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ * وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالا وَأَوْلادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ}

Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kalian diutus untuk menyampaikannya.” Dan mereka berkata, “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kalian) dan kami sekali-kali tidak akan diazab.” (Saba”: 34-35)

{وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ}

Dan demikianlah Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak mereka.” (Az-Zukhruf: 23)

Yang dimaksud dengan istilah makar atau tipu daya di sini ialah seruan mereka yang mengajak kepada kesesatan dengan melalui perkataan-perkataan yang indah-indah dan perbuatan-perbuatan yang menggiurkan. Perihalnya sama dengan pengertian yang diungkapkan dalam firman Allah yang menceritakan perihal kaum Nabi Nuh, yaitu:

{وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا}

Dan mereka melakukan tipu daya yang amat besar. (Nuh: 22)

http://www.ibnukatsironline.com/2015/05/tafsir-surat-al-anam-ayat-123

***

Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah:

123. وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا فِى كُلِّ قَرْيَةٍ أَكٰبِرَ مُجْرِمِيهَا (Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar) Mereka adalah para pemimpin dan pembesar, Allah mengkhususkan penyebutannya karena mereka lebih leluasa untuk berbuat kerusakan.


لِيَمْكُرُوا۟ فِيهَا ۖ( agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu) Makna (المكر) yakni tipu daya untuk melanggar ketaatan.


وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنفُسِهِمْ (Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri) Yakni akibat dari tipu daya mereka menimpa mereka sendiri.

وَمَا يَشْعُرُونَ (sedang mereka tidak menyadarinya) Yakni tidak menyadari akibat itu disebabkan kebodohan mereka yang berlebihan dan perbuatan mereka yang mengikuti hawa nafsu.

Referensi: https://tafsirweb.com/2247-quran-surat-al-anam-ayat-123.html

***

Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H:

123. Orang-orang yang kebingungan dalam kegelapan dan buta di dalam kebatilan serta yang berada di dalam keadaan bimbang tidaklah sama. Di antara mereka adalah pemimpin, para kepala dan figure publik, serta ada pula pengikut yang dipimpin. Yang pertamalah yang beruntung mendapatkan keadaan paling sengsara. Oleh karena itu Allah berfirman, “Dan demikian lah kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang besar.” Maksudnya, para pemimpin dimana kejahatannya besar dan pembangkangannya sangat parah. “Agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu,” dengan tipuan dan seruan ke jalan setan, memusuhi para Rasul, dan pengikutnya dengan ucapan dan perbuatan. Hanya saja tipu daya dan makar mereka justru kembali kepada diri mereka sendiri karena mereka mebuat makar sementara Allah juga membuat makar dan Dia adalah sebaik-baik pembuat makar.

Begitu juga Allah menjadikan imam-imam besar dalam hidayah dan orang-orang mulia yang melawan para penjahat itu, yang membantah pendapat-pendapat mereka, yang berjihad di jalan Allah melawan mereka, dan meniti jalan-jalan yang mengantarkan kepadanya. Allah membantu mereka, meluruskan pendapat mereka dan meneguhkan kaki mereka. Allah menjadikan hari-hari silih berganti di antara mereka dengan musuh-musuh mereka sehingga akhir perkaranya adalah kemenangan dan keunggulan mereka, dan akibat baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Referensi: https://tafsirweb.com/2247-quran-surat-al-anam-ayat-123.html

***

Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI:

Allah lalu menenangkan hati nabi Muhammad dengan menjelaskan bahwa para pembesar yang jahat tidak hanya terdapat di mekah saja, tetapi juga di setiap negeri. Dan demikianlah pada setiap negeri kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu karena mereka lebih mampu menipu daya bawahannya, dan dalam kebiasaan, masyarakat akan mengikuti atasannya apakah dalam hal kebaikan atau keburukan. Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya, akibat dari perbuatan mereka akan mengenai mereka sendiri.

Kemudian Allah menjelaskan tentang salah satu bentuk tipuan pemuka quraisy agar penduduk Mekah tidak mengikuti Rasulullah. Dan apabila datang suatu ayat kepada mereka yang menjelaskan tentang kebenaran nabi Muhammad, mereka berkata, kami tidak akan percaya, yakni beriman, sebelum diberikan kepada kami seperti apa yang diberikan kepada rasul-rasul Allah, yaitu wahyu yang dengan itu mereka menjadi nabi, sehingga menjadi orang yang diikuti, bukan yang mengikuti. Mereka dengki kepada kenabian nabi Muhammad.

Allah lebih mengetahui di mana dia menempatkan tugas kerasulan-Nya. Penunjukan seseorang menjadi nabi adalah hak Allah semata sebagai anugerah dari-Nya terhadap orang tersebut, bukan sesuatu yang diminta, bukan karena keturunan, kecerdasan, dan banyaknya harta. Kemudian Allah menjelaskan tentang nasib mereka yang berdosa, seperti pemuka quraisy. Orang-orang yang berdosa nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan azab yang keras karena tipu daya yang mereka lakukan. Mereka menghalangi masyarakat untuk beriman kepada nabi Muhammad.

Referensi: https://tafsirweb.com/2247-quran-surat-al-anam-ayat-123.html

Ilustrasi screen dari sebuah artikel di nahimunkar.org

(nahimunkar.org)

(Dibaca 427 kali, 1 untuk hari ini)