kyai liberal

Ilustrasi cover buku Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs

Contoh kasusnya adalah peristiwa berikut ini:

Kuburan Tua Dipertahankan, Aqidah Ditelantarkan

 Upaya massa mempertahankan mati-matian kuburan tua dari penggusuran yang akan dilakukan Satpol PP (satuan Polisi Pamong Praja) menimbulkan bentrok berdarah dan bakar-bakaran. Bentrokan berdarah antara Satpol PP dan pendukung Makam Mbah Priok di Jakarta Utara membara dari pagi sampai tengah malam, Rabu 14 April 2010.

Akibatnya, korban berjatuhan di antaranya 3 anggota Satpol PP tewas, 158 orang luka (69 Satpol PP, 23 Polisi, 66 Warga). Kerugian materiil: 81 kendaraan dibakar: 6 bus polisi, 16 truk polisi, 36 truk dan mobil Satpol PP, 1 water canon polisi, 2 ekskavator, 2 bus steady safe, 2 truk trailer, dan 16 kendaraan lain. (sumber: Republika, Jum’at 16/ 4 2010).

Peristiwa berdarah yang menelan korban tewas 3 jiwa dan menderita luka 200 orang lebih serta 81 kendaraan dibakar hangus itu tentunya menimbulkan aneka perasaan duka, memilukan, sekaligus memalukan. Dan yang lebih memalukan dan tambah memilukan adalah munculnya “rayap-rayap” yang bergembira ria yang bancaan bangkai kendaraan. “Rayap-rayap” itu bergegas mempreteli besi bangkai kendaraan yang tadinya dibakar itu dengan modal kunci Inggris dan semacamnya.

Secara gampangnya kata, ini adalah drama keserakahan lawan keserakahan dan menyisakan munculnya bentuk keserakahan pula.

Demikianlah peristiwanya. Itu semua di antaranya karena adanya pembodohan dan penyesatan terhadap Umat Islam, dan ketika upaya pembodohan itu masuk menjadi kepentingan kelompok tertentu dan mampu merasuk ke keyakinan masyarakat, maka mereka pertahankan mati-matian.

Berikut ini contoh nyata pula, adanya makam yang dikeramatkan, diadakan pembodohan terhadap Umat Islam dengan cerita-ceita “luar biasa”, lalu merasuk ke keyakinan masyarakat, lalu tokoh-tokoh pun dengan kepentingan tertentunya menyemarkkan pembodohan itu, kemudian diekspose oleh media dengan kepentingan tertentu pula. Maka terjadilah pembodohan dan penyesatan yang dilaksanakan secara gotong royong antara aneka unsure yang punya kepentingan. Akibatnya, rusaklah keyakinan Umat Islam. Coba kit abaca saja uraian berikut ini.

Makam Keramat Luar Batang

Luar Batang adalah nama sebuah perkampungan (kini menjadi nama jalan) yang terletak di kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Di sini konon terletak sebuah makam sesosok anak manusia yang dipercaya sebagai wali Allah, bernama habib Husein Abubakar Alaydrus. Lebih sering disebut sebagai Habib Keramat Luar Batang.

Sosok habib Husein Abubakar Alaydrus ini kelahiran Migrab, Hadramaut, tiba di Betawi sekitar tahun 1746 M dan meninggal dunia pada tanggal 24 Juni 1756 M (bertepatan dengan 17 Ramadhan 1169 Hijriyah), di kawasan yang kemudian bernama Luar Batang. Ia meninggal pada usia 35 tahun.

Ada berbagai versi berkenaan dengan asal-usul nama luar batang. Salah satu di antaranya adalah: “…saat habib Husein meninggal, jenazahnya berubah menjadi batang pisang saat ditandu. Perubahan ini diketahui orang-orang yang hendak memasukkan jenazah ke liang lahat. Warga tetap mengubur batang pisang itu dan menganggapnya sebagai jenazah habib Husein Abubakar Alaydrus…” (Koran Tempo, 25 April 2010)

Sedangkan versi lain, menurut penuturan para pemuja habib Husein Abubakar Alaydrus, konon sewaktu habib Husein masih hidup, ia pernah berkata kepada seorang opsir Belanda: “Suatu saat kamu akan jadi orang besar.” Namun, opsir Belanda itu sama sekali tidak mengindahkan kata-kata habib Husein, sampai kemudian ia kembali ke negeri asalnya.

Barulah ketika sang opsir Belanda itu kembali ditugaskan ke Hindia Belanda dengan jabatan tinggi, ia teringat ‘ramalan’ sang habib tempo hari. Dari situlah konon sang opsir Belanda itu tergerak hatinya untuk memberikan sejumlah hadiah berupa uang, emas dan sebagainya. Namun habib Husein tidak bersedia menerimanya.

Namun, akhirnya terjadi kesepakatan, bahwa habib Husein mau menerima hadiah dari opsir Belanda bila itu berupa kepemilikan areal (yang kemudian menjadi situs keramat). Areal ini pada masa itu merupakan kawasan terendam air bila laut pasang. Setelah kesepakatan dicapai antara habib Husein dengan sang opsir Belanda, maka dibuatlah sejumlah patok dari batang kayu sebagai tanda dan batas wilayah kepemilikan untuk sang habib. Dari sinilah kawasan itu dinamakan luar batang. Karena, seolah-olah dari laut keluar sejumlah batang (pohon).

Menurut penuturan para pengagumnya, habib Husein ini pernah bersikap tidak patuh kepada Belanda sehingga ia harus ditangkap dan dijebloskan ke penjara Glodok. Konon, habib Husein hanya terlihat berada di dalam sel tahanan pada siang hari saja, sedangkan pada malam hari sang habib seperti menghilang tanpa jejak. Keadaan yang bernuansa mistis ini membuat sipir penjara menjadi ketakutan, sehingga sang habib pun disuruh pulang. Namun habib Husein tidak menghiraukan, sampai akhirnya ia sendiri yang memutuskan keluar dari sel tahanan Glodok.

Kehebatan habib Husein juga dapat dirasakan melalui penuturan berikut ini: “… pada suatu waktu, ada seorang warga pergi ke pasar untuk membeli daging (mentah). Ketika menuju rumah, ia mendengar kabar bahwa habib Husein bin Abi Bakar Al Idrus meningal dunia. Maka ia pun bergegas menuju masjid untuk ikut bersama-sama sejumlah orang melaksanakan shalat jenazah.

Tak hanya ikut melaksanakan shalat jenazah, ia juga ikut hingga ke pemakaman. Usai itu, ia pun kembali ke rumahnya dan menyerahkan daging mentah yang dibelinya di pasar untuk dimasak oleh istrinya di rumah. Namun, hingga beberapa saat daging itu tidak juga matang dan masih terlihat seperti daging segar.

Peristiwa ganjil itu membuat ia menjadi teringat sebuah pesan yang diterimanya ketika ia mengikuti majlis ta’lim yang dipimpin habib Husein bin Abi Bakar Al Idrus. Konon, pada suatu ketika habib Husein bin Abi Bakar Al Idrus dalam salah satu ceramahnya pernah mengatakan, “… barangsiapa yang menshalati aku sewaktu aku meninggal dunia nanti, maka dia tidak akan bisa tersentuh oleh api neraka.”

Jadi, daging mentah itu tak kunjung matang meski sudah digodok beberapa lama, karena daging mentah yang dibeli di pasar tadi ikut terbawa ketika ia melaksanakan shalat jenazah hingga ke pemakaman. Cerita pembodohan seperti ini nampaknya mujarab dalam meyakinkan orang-orang jahil (bodoh) untuk mempercayai kehebatan yang dimiliki sang habib, sampai-sampai meski hanya sepotong daging, karena ikut terbawa (tanpa sengaja) dalam shalat jenazah dan pemakaman sang habib sehingga daging itu kebal api dan kebal panas.

Cerita kehebatan seperti di atas jelas mengusik akidah. Karena, keputusan masuk neraka atau tidak hanya berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang habib, meski ia punya garis keturunan langsung dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun, sama sekali tidak punya kewenangan membebaskan umat manusia dari ancaman api neraka. Yang memprihatinkan, banyak orang yang percaya akan hal itu. Sehingga, makam habib Husein tidak pernah sepi selama 24 jam dikunjungi para peziarah yang selalu membaca Al Qur’an atau sekedar berzikir.

Peziarah yang mendatangi makam habib Husein berasal dari berbagai daerah di tanah air bahkan dari mancanegara. Saat-saat favorit berziarah biasanya jatuh pada hari Kamis malam Jum’at kliwon atau pada saat perayaan tertentu seperti maulid nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang selalu diadakan setiap akhir minggu di bulan Rabiul Awwal, serta pada saat haul habib husein yang diadakan setiap akhir minggu di bulan Syawwal. Itu semua sama sekali tidak ada tuntunannya. Tidak hanya tergolong bid’ah tetapi juga sesat menyesatkan, karena diliputi keyakinan batil berlandaskan cerita pembodohan seperti tersebut.

Menurut Zainuddin (petugas penjaga makam), makam ini menjadi langganan pejabat, antara lain Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Presiden RI. Hingga kini, SBY masih rutin berziarah ke makam ini. Biasanya, kata Zainuddin, SBY datang pada pukul 02 pagi. Selain SBY, menurut Zainuddin, hal serupa juga dilakukan oleh Fauzi Bowo, Gubernur Pemprov DKI Jakarta. (Koran Tempo, 25 April 2010).

Selain pejabat, menurut Zainuddin para artis seperti Tarzan Srimulat, Ayu Azhari, Camelia Malik, dan beberapa nama artis lainnya termasuk peziarah tetap makam ini.

Seandainya berziarahnya para artis (perempuan) itu tanpa ada niat-niat dan keyakinan batil –misalnya niat minta berkah karena berkeyakinan bahwa kuburan dan isinya berupa mayat itu memberi berkah dan manfaat— pun telah dilaknat. karena dalam hadits telah ditegaskan:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ (وَفِيْ لَفْظٍ : لَعَنَ اللهُ) زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ

“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam (dalam sebuah lafadz Allah melaknat) wanita-wanita yang banyak berziarah kubur”.(Sunan Al-Baihaqy 4/6996, Sunan Ibnu Majah no.1574, Musnad Ahmad 2/8430, 8655). (Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede, Pendangkalan aqidah Berkedok Ziarah,Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2010, halaman 99-103).

Berdalil dengan hadits palsu

Pembodohan dan penyesatan yang telah sebegitu rupa itu masih ditambah lagi oleh para “agen-agennya” yang bahkan atas nama penyemarakan agama. Diberilah pembodohan dan penyesatan itu landasan dalil agar lebih laris lagi. Mereka pun ketemu saja dalil dustanya untuk membodohi Umat Islam itu.

Seorang penggerak tour ziarah ke kubur-kubur –yang mereka sebut kuburan wali– dalam pengajian di satu masjid di Jakarta, saya dengar langsung, dia mengatakan: Kita boleh minta kepada Nabi untuk didoakan, demikian pula para wali yang sudah wafat. Karena ada hadits Nabi:

 من حج فزار قبري بعد وفاتي كان كمن زارني في حياتي

Siapa yang berhaji lalu menziarahi kuburku setelah wafatku maka dia seperti orang yang menziarahiku dalam hidupku.

Lalu penggerak tour ziarah itu bertanya kepada jamaah yang dihadapi: Ketika Nabi hidup, boleh atau tidak, kita minta didoakan? Jamaah menjawab: boleh.

Ya, kalau boleh, maka setelah Nabi wafat pun boleh. Karena adanya hadits tersebut.

Demikianlah, seakan ajaran itu benar. Padahal berbahaya. Sebab, hadits itu adalah hadits maudhu’ (palsu). ) Menurut Syeikh Al-Albani dalam Dha’if Al Jami’ no. 5553. juga dalam Silsilah Al-Ahaadits Ad-Dho’ifah 1/120(.

Di samping itu, qiyas (analog/ perbandingan) minta doa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam waktu hidup boleh maka waktu sudah wafat juga boleh itu qiyas batil. Karena tidak sama antara hidup dan mati tetapi dia samakan. Buktinya, orang yang berziarah kepada Nabi waktu hidupnya maka jadi sahabat Nabi bila dia dalam keadaan Muslim sampai matinya. Sedangkan orang yang berziarah ke kubur Nabi sama sekali tidak dapat disebut sahabat Nabi hanya karena ziarah itu. Jadi minta doa kepada Nabi atau orang shaleh atau wali setelah wafatnya itu sama dengan tindakan orang musyrikin dalam QS Az-Zumar/ 39:3, menurut Fatwa Al-Lajnah Ad-Daaimah pimpinan Syekh Bin Baaz nomor 9027. ) Hartono Ahmad Jaiz, Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2010, halaman 23-24)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.782 kali, 1 untuk hari ini)