Acara deklarasi nasional anti Syiah di Bandung, Ahad (20/4/2014)

.

  • “Pemprov Jawa Barat memberi dukungan kepada umat Islam yang berupaya menjaga nilai-nilai agar tidak tercemar aliran sesat,” terang Ahmad Hadadi dalam sambutannya mewakili Gubernur Jawa Barat
  • Ulama Dan Umat Padati Masjid Al Fajr Bandung Untuk Deklarasi Nasional Anti Syiah
  • Kiai Athian Ali: Antara Ahlus Sunnah dan Syiah tak akan Pernah Ketemu
  • “Bagaimana mungkin kita, umat Islam yang mengharamkan zina dapat bertemu dengan pihak yang menghalalkan zina dengan cara mut’ah,” tegas Athian Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah.
  • Ketua MPU: Di Aceh Tidak Ada Tempat Bagi Syiah
  • Musyawarah para ulama (Dewan Syura dan Dewan Pakar) Aliansi Nasional Anti Syiah menyepakati untuk mendesak MUI agar mengeluarkan fatwa sesatnya syiah. Juga akan menempuh jalur hukum sebagaimana  kasus Syiah Sampang, terbukti Tajul Muluk pentolan syiah menodai agama, melanggar pasal 156a KUHP, menganggap Al-Qur’an diragukan kemurniannya.  Tajul Muluk dikenai vonis penjara 2 tahun di Pengadilan Nergeri Sampang, Juli 2012. Naik banding ke Pengadilan Tinggi Surabaya divonisd 4 tahun penjara, September 2012. Kemudian kasasi ke MA dan ditolak, maka MA menetapkan vonis pengadilan tinggi Surabaya, penjara 4 tahun, Januari 2013.

Inilah berita tentang acara deklarasisanti syiah  di Bandung yang dilanjutkan dengan musyawarah.

***

Ulama Dan Umat Padati Masjid Al Fajr Bandung Untuk Deklarasi Nasional Anti Syiah

 

BANDUNG– Sekira 7 ribu kaum Muslimin memadati masjid Al-Fajr Cijagra, Buahbatu, Bandung Jawa BaratAhad (20/4/2014) untuk menjadi saksi mata dan badan deklarasi aliansi anti Syiah nasional. Acara yang berlangsung dari pukul 08.30 hingga waktu Zhuhur tiba ini dihadiri oleh para aktivis dakwah dari seluruh penjuru tanah air, seperti dari Aceh, Sumatera Barat, Madura, Balikpapan dan Makassar.

Tuan Rumah acara deklarasi ini KH. Athian Ali Muhammad Dai mengatakan, tempat ini (masjid dua lantai dan area halaman) dapat menampung 5 sampai 7 ribu, “Sekarang sudah terisi penuh,” ujarnya.

Saat arrahmah.com tiba di lokasi pukul 08.00 jamaah sudah memadati tempat terbuka yang dipasangi layar lebar di sebelah selatan masjid Al Fajr. Sementara kaum Muslimin terus berdatangan, antusias mengikuti acara.

Ketua panitia acara Ustadz Tarjono Abu Muas menyebut beberapa ormas Islam dan laskar umat Islam yang hadir dan menjadi barisan pengamanan pada acara ini, diantaranya NU, Muhammadiyah, MMI, JAT, FPI Jawa Barat, LPAS (Laskar Pemburu Aliran Sesat), Pemuda Persis, GARIS, GARDAH, Pendekar Gajah Putih, Pendekar Siliwangi, Tarung Derajat, Syufu Thai Sukan, Tifan, Fokan, Grup Romli (Rombogan lillahi Ta’ala).

Dalam sambutannya KH Athian Ali menegaskan bahwa pertemuan pada hari Ahad ini bukan lagi untuk memperdebatkan atau mempertemukan ajaran sesat Syiah dengan Islam. Tapi untuk menegaskan kembali kesesatan ajaran agama Syiah yang berkedok Islam.

“Bagaimana mungkin kita bisa mempersatukan ajaran yang haq dan bathil. Bagaimana mungkin kita bisa mempersatukan dengan ajaran yang menghina Rasulullah. Bagaimana mungkin mempertemukan umat Islam dengan orang-orang yang menganggap para sahabat sebagai kafir. Bagaimana mungkin kita bisa bersatu dengan ajaran yang menghalalkan zina lewat mut’ah dengan ajaran Islam yang murni, ” tegas Athian di hadapan para ulama dan ribuan ummat di masjid Al-Fajr. (azm/arrahmah.com) A. Z. Muttaqin Ahad, 19 Jumadil Akhir 1435 H / 20 April 2014 14:43

***

Gubernur Jawa Barat Dukung Terbentuknya Aliansi Nasional Anti Syiah

Gubernur menugaskan Ahmad Hadadi, Asisten Kesra Pemprov Jawa Barat untuk memberi sambutan mewakili Aher dalam acara Deklarasi Nasional Anti Syiah di Masjid Al-Fajri Bandung, Ahad 2o/4 2014.

Sekarang Pak Aher ada kunjungan ke Sukabumi,” kata Ahmad Hadadi dengan menjelaskan, Gubernur Aher tetap memberi dukungan atas terbentuknya Aliansi Nasional Anti Syiah ini.

“Pemprov Jawa Barat memberi dukungan kepada umat Islam yang berupaya menjaga nilai-nilai agar tidak tercemar aliran sesat,” terang Ahmad seperti dikutip hidayatullah.com.

Pada deklarasi aliansi ini dihadiri sejumlah tokoh Islam dan ulama. Seperti KH Abdul Hamid Baidlowi (ulama NU), Prof. Dr. KH Muslim Ibrahim (Ketua MPU Aceh), KH Muhammad Said Abdus Shamad Lc (Ketua LPPI Makassar), Prof. Dr. KH Maman Abdurrahman(Ketua Persis), Drs. KH Abdul Muis Abdullah (Ketua MUI Balikpapan), KH Ahmad Cholil Ridwan Lc (Ketua MUI Pusat), Alhabib Zein Al Kaff (tokoh PWNU  Jawa Timur),  Muhammad Alkhathath (Sekjen FUI), Farid Ahmad Okbah MA (pakar Syiah), Prof. DR. Muhammad Baharun (pakar Syiah), Ustadz Bachtiar Nasir (Sekjen MIUMI), dan KH Athian Ali M Da’i Lc. MA (Ketua FUUI).*

***

Kiai Athian Ali: Antara Ahlus Sunnah dan Syiah tak akan Pernah Ketemu

Ahad, 20 April 2014 – 11:49 WIB

  • “Bagaimana mungkin kita, umat Islam yang mengharamkan zina dapat bertemu dengan pihak yang menghalalkan zina dengan cara mut’ah.

Aliansi Nasional Anti Syiah ini didirikan untuk merealisasikan amanah-amanah musyarawah ulama tahun 2012 di Bandung

Hidayatullah.com–Sampai kapan pun antara Ahlus Sunnah dan Syiah tidak akan pernah bisa bersatu. Pernyataan ini disampaikan Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah, KH Athian Ali M Dai, Lc MA dalam sambutan deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah di Masjid Al-Fajr Buah Batu, Bandung, Jawa Barat, Ahad (20/04/2014) pagi.

Kiai Athian mengatakan jika Syiah bukan bagian dari Islam (al-haq). “Yang haq itu haq, yang batil itu batil. Tidak bisa disatukan,” kata Kiai Athian.

Menurut Kiai Athian, antara Ahlus Sunnah dan Syiah tidak ada titik temu.

“Bagaimana mungkin kita umat Islam yang meyakini khususnya 10 sahabat yang dijamin surga dapat sejalan dengan pihak-pihak yang menganggap para sahabat Rasulullah itu kafir,” ujar Kiai Athian.

Lebih lanjut Kiai Athian mengatakan, “Bagaimana mungkin kita, umat Islam yang mengharamkan zina dapat bertemu dengan pihak yang menghalalkan zina dengan cara mut’ah. Bahkan tiga kali bermut’ah maka akan terbebas dari dosa dan masuk surga.”

Itu sebabnya pendirian aliansi ini sebagai upaya membendung bahaya Syiah yang sesat dan menyesatkan. Aliansi ini didirikan untuk merealisasikan amanah-amanah musyarawah ulama tahun 2012 di Bandung.

“Dengan wadah ini kita berharap bersatu padu, satu khittah al-Quran dan Sunnah. Mari bersama kita menyelamatkan akidah umat dari Syiah yang sesat dan menyesatkan,” demikian Kiai Athian.*

Rep: Ibnu Syafaat

Editor: Cholis Akbar

***

Ketua MPU: Di Aceh Tidak Ada Tempat Bagi Syiah

Ahad, 20 April 2014 – 19:34 WIB

Prof Dr Tengku Muslim berharap daerah-daerah lain mewaspadai bahayanya gerakan Syiah.

 

Hidayatullah.com–Prof Dr Tengku Muslim Ibrahim, Ketua Majelis Permusyawaran Ulama (MPU) Aceh, menegaskan bahwa Nanggroe Aceh Darussalam adalah bumi ahlus sunnah wal jamaah.

“Sesuai dengan Perda akidah umat, maka akidah yang bisa berjalan di Aceh adalah akidah ahlus sunnah wal jama’ah. Syiah tidak ada tempat di Aceh,” kata Tengku Muslim saat berorasi pada deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah di Masjid Al-Fajr Bandung, Jawa Barat, Ahad (20/4/2014).

Fatwa ulama Aceh juga menyebutkan, Syiah merupakan aliran di luar Islam.

“Jadi secara organisasi Syiah dilarang di Aceh,” tegas Tengku Muslim.

Tengku Muslim berharap daerah-daerah lain juga mewaspadai bahayanya gerakan Syiah.

“Aliansi Anti Syiah ini diharapkan dapat berkembang ke pelosok-pelosok,” kata Tengku Muslim.*

Rep: Ibnu Syafaat

Editor: Syaiful Irwan

***

Mendesak MUI dan menempuh jalur hukum

Musyawarah para ulama (Dewan Syura dan Dewan Pakar) Aliansi Nasional Anti Syiah menyepakati untuk mendesak MUI agar mengeluarkan fatwa sesatnya syiah. Juga akan menempuh jalur hukum sebagaimana  kasus Syiah Sampang, terbukti Tajul Muluk pentolan syiah menodai agama, melanggar pasal 156a KUHP, menganggap Al-Qur’an diragukan kemurniannya.  Tajul Muluk dikenai vonis penjara 2 tahun di Pengadilan Nergeri Sampang, Juli 2012. Naik banding ke Pengadilan Tinggi Surabaya divonisd 4 tahun penjara, September 2012. Kemudian kasasi ke MA dan ditolak, maka MA menetapkan vonis pengadilan tinggi Surabaya, penjara 4 tahun, Januari 2013.

Kasus proses Tajul Muluk sampai terbukti bahwa syiah yang dibawanya itu jelas menodai agama dan divonis pengadilan (sampai tiga tingkat pengadilan) itu dituturkan secara rinci dalam musyawarah di Bandung ini oleh Ulama dari Madura. Dari situlah disepakati, berbagai kasus penodaan agama oleh Syiah yang selama ini telah meresahkan masyarakat tidak boleh dibiarkan, maka perlu ditempuh jalur hukum, dan mensosialisasikan kepada umat bahwa Syiah jelas-jelas menodai agama. Sedangkan Pemerintah tidak boleh mendiamkan terhadap pihak-pihak bahkan kelompok yang menodai agama yang sah. Karena tugas pemerintah adalah melindungi warganya.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 706 kali, 1 untuk hari ini)