“I have announced the reward because Zakir Naik is not a religious preacher, but a terrorist,” Prachi later told The Indian Express. (Source: The Indian Express)


AntiLiberalNews – Pemimpin Pro-Hindutva Sadhvi Prachi pada Rabu (14/7/2016) mengumumkan hadiah sebesar Rs 50 lakh (50 juta rupee) atau sebesar 97 miliar rupiah untuk setiap orang “yang dapat memenggal kepala” cendekiawan dan pengkhotbah Islam Dr. Zakir Naik. Prachi membuat pengumuman ketika berbicara kepada jurnalis di Roorkee di Uttarakhand.

“Saya telah mengumumkan hadiah karena Zakir Naik bukan seorang pengkhotbah agama, tapi teroris,” Prachi kemudian sesumbar kepada The Indian Express.

Prachi yang merupakan mantan pemimpin Vishwa Hindu Parishad (VHP), menjelaskan bahwa dia telah membuat pengumuman dalam kapasitas pribadi dan itu tidak dikaitkan dengan organisasi tersebut.

Selain mengancam pembunuhan Dr. Zakir Naik, Prachi juga menyatakan ancaman kepada para ustadz bahwa pemerintah harus menyelidiki link teror semua “pengkhotbah yang bekerja di madrasah” di seluruh negeri.

Prachi juga mengklaim bahwa segera setelah pengumuman sayembara pemenggalan Dr. Zakir Naik itu, dia menerima telepon ancaman (balik) dari orang-orang tak dikenal, mungkin berasal dari beberapa negara lain. “Penelepon itu memperkenalkan dirinya sebagai Shahid dan mengancam akan menculik saya,” kata Prachi, menambahkan bahwa dia akan mengajukan keluhan dengan polisi Kamis pagi (14/7).

Tonton video Pernyataan Dr. Zakir Naik terkait Serangan Dhaka: Saya Tidak Mempengaruhi Siapapun

Pengumuman sayembara pembunuhan itu datang sehari setelah kelompok Syiah, mengidentifikasi dirinya sebagai Hussaini Macan, menawarkan Rs 15 lakh (15 juta rupee) sebagai hadiah untuk pemenggal kepala Dr. Zakir Naik.

“Dia (Naik) adalah ‘penjahat’. Dia telah menghina Nabi dan siapa yang membunuhnya akan diberi pengharagaan tidak hanya dalam kehidupan … tetapi juga akan mendapatkan hadiah uang tunai dari kami,” kata kepala organisasi Syiah, Syed Kalbe Hussain Naqvi, mengatakan dalam sebuah postingFacebook.

Red: Adiba Hasan/antiliberalnews.com

(nahimmunkar.com)