.

  • Pengambil alihan paksa Masjid Muhammad Ramadhan di Bekasi dilakukan secara kasar. Satu orang jamaah masjid babak belur dihajar FBR hanya karena menanyakan apa yang terjadi di masjid tempat ia selalu shalat jamaah.
  • Masjid Muhammad Ramadhan berdiri di atas lahan fasilitas sosial (Fasos) yang telah diserahkan pemerintah kota Bekasi kepada Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Muhammad Ramadhan.
  •  “Penyerahannya resmi. Oleh karena itu secara yuridis sah dan tak ada yang janggal.”
  •  Nanang Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Muhammad Ramadhan tak dapat menutupi rasa sedihnya ketika sejumlah jemaah yang hendak menggunakan masjid itu untuk taklim, tapi mereka tak diperbolehkan masuk ke dalam karena masjid terkunci. Lalu kalau umat Islam tak boleh menggunakan masjid umat Islam yang mana yang menjadi jemaah masjid itu?
  •  “Ini betuk ketidakadilan Walikota Bekasi (Rahmat Effendi) bahkan wakilnya yang notabene dari Partai Islam (Ahmad Syaikhu) kepada umat. Ia telah bertindak semena-mena terhadap umat Islam. “Kita mau ajak mereka bicara, tapi mereka tak mau. Lantas apa maksud pengambilalihan ini” paparnya.

 .

Miris memang atas apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bekasi-Prov. Jawa Barat. Mereka membiarkan kemaksiatan tersebar di daerah kekuasaannya dan menghalangi syiar Islam. Masih kah anda ingat pristiwa ditangkapnya ustadz Adam Amrullah (Mantan LDII) hanya karena membentengi umat dari penyesatan yang dilakukan oleh aliran sesat LDII-Lembaga Dakwah Islam Indonesia?. Bukan hanya itu.

Pagi Ahad, 20-04-2014 Pemerintah Kota Bekasi mengambil alih Masjid Muhammad Ramadhan (MMR) yang terletak di Taman Galaxy, Bekasi Selatan; padahal masjid ini merupakan pusat kegiatan aktifis muslim Kota Bekasi dan sekitarnya. Bukan hanya sekedar mengambil alih namun mereka juga membubarkan acara bedah buku yang akan dimulai, bahkan mereka mencopot spanduk yang menghimbau agar wanita berjilbab. Apakah berjilbab menurut pemkot Bekasi itu salah? Mereka mencopot spanduk tentang anjuran berjilbab, dan mereka membiarkan cabe-cabean merebak di Kota Bekasi. Menghalangi Islam dan membiarkan kemaksiatan.

Semboyan Kota Bekasi sebagai Kota Beriman kini telah dirubah menjadi Kota Bekasi Kota Patriot. Nampaknya ada pihak anti Islam yang mendalangi semua ini. Terbukti dengan bebasnya aliran sesat, kemaksiatan dan pemurtadan bercokol di Bekasi dan di sisi lain menghadang kegiatan umat Islam.

Apakah pemerintah Kota Bekasi menginginkan Bekasi menjadi Kota Seribu Kemaksiatan? Naudzubillah. Kenapa mereka tidak memberantas narkoba, cabe-cabean yang semakin hari semakin merebak?. Kalau hal seperti ini diteruskan maka marilah kita bertakbir 4 kali untuk kematian hati pemerintah Kota Bekasi, Pemkot yang kurang kerjaan dan tidak tahu kerjaan.

Ingat Bekasi Kota Bersyuhada dan Bersyariah lantaran cikal bakal Ulama ada di Bekasi semisal KH. Noer Ali Rahimahulloh (Pejuang Bekasi) dan Bekasi menang lantaran kalimat Takbir bukan kalimat selainnya entah haleluya, dll…???

Save MMR-Masjid Muhammad Ramadhan

Oleh: Muhammad Faisal, S.Pd, M.MPd

(Aktivis Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat, Pengamat PAUDNI-Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal)

***

Ketua DKM Muhammad Ramadhan Tak Terima Pengambilalihan Masjid Oleh Pemkot Bekasi

Ketua DKM Muhammad Ramadhan, Ustadz Dr. Ir. Nanang Prayudianto, M.Sc  tak dapat menerima perlakukan pemerintah kota Bekasi yang mengambil alih secara paksa masjid Muhammad Ramadhan. Karena tak ada yang salah dalam pengelolaan masjid tersebut.

Penolakan itu disampaikan Nanang Prayudianto  (23/4/12).

“Kita tak pernah diundang untuk membicarakan pengambilalihan masjid ini. Kita siap berbicara dan musyawarah jika dinilai ada yang janggal dalam pengelolaan masjid. Masjid ini adalah otonom. Kita juga bukan Yayasan” kata Nanang.

Yang membuat Nanang miris adalah tindakan pemerintah kota Bekasi yang mengarahkan pengambil alihan masjid secara paksa dengan mengerahkan kekuatan Satpol PP, Polisi, FBR, bahkan konon katanya juga mendatangkan densus-detasemen khusus 88 anti teror.

Menurut Nanang, pengambil alihan masjid dilakukan secara kasar. Satu orang jamaah masjid babak belur dihajar FBR hanya karena menanyakan apa yang terjadi di masjid tempat ia selalu shalat jamaah.

Ketua DKM masjid Muhammad Ramadhan, tak dapat menduga-duga apa dibalik pengambilalihan paksa masjid yang ia kelola. Dalam pengajian katanya tak ada yang salah sebab yang dikaji adalah  Al-Qur’an dan Sunnah. “Tak ada pelanggaran dari sisi aqidah” tegasnya.

Masjid Muhammad Ramadhan berdiri di atas lahan fasilitas sosial (Fasos) yang telah diserahkan pemerintah kota Bekasi kepada Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Muhammad Ramadhan.

“Penyerahannya resmi. Oleh karena itu secara yuridis sah dan tak ada yang janggal” ungkapnya.

Nanang tak dapat menutupi rasa sedihnya ketika sejumlah jemaah yang hendak menggunakan masjid itu untuk taklim, tapi mereka tak diperbolehkan masuk ke dalam karena masjid terkunci. Lalu kalau umat Islam tak boleh menggunakan masjid umat Islam yang mana yang menjadi jemaah masjid itu? ujarnya dengan nada bertanya.

Kita mecoba meminta ijin agar jemaah bisa masuk ke dalam masjid untuk taklim, tapi ditolak dengan alasan yang tak jelas.

“Ini betuk ketidakadilan Walikota Bekasi (Rahmat Effendi) bahkan wakilnya yang notabene dari Partai Islam (Ahmad Syaikhu) kepada umat. Ia telah bertindak semena-mena terhadap umat Islam. “Kita mau ajak mereka bicara, tapi mereka tak mau. Lantas apa maksud pengambilalihan ini” paparnya.***

Laporan M.Faisal (Warga Jawa Barat)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.216 kali, 1 untuk hari ini)