Penampilan Jeyskia yang tidak menggunakan jilbab (dalam kontes Puteri Indonesia 2015) itu tidak mencerminkan budaya dan bertolak belakang dari penerapan syariat Islam di Aceh.

Dikatakan, pihaknya (Pemrov Aceh) harus menyikapi dengan serius terhadap kontestan Putri Indonesia yang mewakili Aceh agar tidak muncul polemik di kalangan masyarakat.
sementara itu Tgk Mustafa Husen Woyla tokoh ormas Islam di Aceh bersuara lantang, bahwa Aceh menolak perhelatan mengekploitasi wanita tersebut.

Dia juga menyebut Liliana Tanoesoedibjo selaku Chairwoman of Miss Indonesia Organization sebagai tidak berprikemanusiaan.

“Itulah kata-kata yang tepat kita alamatkan kepadanya. Liliana memang selalu kloe prip (keras kepala) demi menghasilkan rupiah. Tak peduli dengan moralitas bangsa,” sindirnya keras.

Inilah beritanya.

***

Pemprov Aceh Protes Kontestan Puteri Indonesia 2015

 

Bisnis.com, JAKARTA— Pemerintah Provinsi  (Pemprov) Nanggroe Aceh Darussalam menyatakan tidak pernah merekomendasikan Jeyskia Ayunda Sembiring sebagai perwakilan provinsi itu untuk mengikuti kontes Puteri Indonesia 2015.

“Kami sangat menyesalkan sikap panitia penyelenggara Puteri Indonesia yang tidak berkoordinasi dengan Pemerintah Aceh terkait kontestan asal provinsi ini. Seharusnya panitia dapat berkoordinasi dengan instansi terkait jika membawa nama daerah,” kata Kepala Biro Humas Sekretaris Daerah Aceh Dr Mahyuzar di Banda Aceh, Senin (16/2/2015).

Jeyskia Ayunda Sembiring, yang mukim di Pekan Baru, Riau, ikut kontes Putri Indonesia 2015 sebagai wakil Provinsi Aceh.

“Kami tidak ingin nama Aceh dimanfaatkan oleh sebagian pihak yang justru tidak menggambarkan identitas Aceh yang sebenarnya. Jangan sampai masyarakat terluka karena sikap dari sebagian pihak,” kata Mahyuzar.

Mahyuzar mengatakan sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam, kontestan yang mewakili Aceh, seperti kontes Puteri Indonesia, harus dapat mencerminkan semangat syariat Islam dan memahami budaya Aceh.

Menurut dia, penampilan Jeyskia yang tidak menggunakan jilbab itu tidak mencerminkan budaya dan bertolak belakang dari penerapan syariat Islam di Aceh.

Dikatakan, pihaknya harus menyikapi dengan serius terhadap kontestan Putri Indonesia yang mewakili Aceh agar tidak muncul polemik di kalangan masyarakat.

“Penampilan kontestan Puteri Indonesia mewakili Aceh itu kini juga banyak menuai kritikan di media sosial karena yang bersangkutan tidak representasi dari masyarakat Aceh,” kata Mahyuzar./ Selasa, 17/02/2015 08:08 WIB

***

Coreng Serambi Mekkah, FPI desak Pemerintah Aceh tuntut kontestannya pada Miss Indonesia

Tgk Mustafa Husen Woyla, Jubir FPI Aceh

BANDA ACEH (Arrahmah.com) – Front Pemberla Islam (FPI) Aceh mendesak Pemerintah Aceh untuk menuntut kedua kontestan illegal yang mengaku berasal dari Aceh yang sudah mencoreng nama baik Serambi Mekkah.

“Ini persoalan serius. Jika tidak ada respon, kita (FPI) akan menempuh jalur hukum untuk menuntut panitia dan kontestan yang mengatasnamakan Aceh,” tegas Tgk Mustafa Husen Woyla, Jubir FPI Aceh kepada Arrahmah.com, pagi ini.

Apalagi, imbuh Tgk Mustafa, salah satu kontestan asal Aceh Jeyskia Ayunda Sembiring, pernah melontarkan statmen di media sosial, “Wanita Aceh tidak identik dengan jilbab.” Jadi, jika mewakili Aceh sah-sah saja tidak berjilbab.

“Itu tafsiran dari kata-kata Jeyskia,” katanya.

Secara khusus FPI Aceh mengecam dipilihnya wakil Aceh di Miss Indonesia, Ratna Nurlia, model asal Surabaya yang berdarah Aceh dan Jeyskia Ayunda Sembiring di kontes Puteri Indonesia.

“Baik dipilih secara prosedur apalagi main comot-comot,” jelas Tgk Hesen.

“Aceh tidak akan rugi dengan tidak adanya keterwakilan di ajang ala manusia jahiliyah tersebut. Jika menghargai kemajemukan maka hargai Aceh dengan keislaman yang dianut oleh mayoritas rakyat Aceh. Malah rakyat Aceh bangga dengan ketidakikutsertaan ke ajang maksiat itu. Tidak adanya peminat dari dara Aceh asli, sebenarnya sudah menjadi indokator bahwa Aceh menolak perhelatan mengekploitasi wanita tersebut,” ungkapnya.

Dia juga menyebut Liliana Tanoesoedibjo selaku Chairwoman of Miss Indonesia Organization sebagai tidak berprikemanusiaan.

“Itulah kata-kata yang tepat kita alamatkan kepadanya. Liliana memang selalu kloe prip (keras kepala) demi menghasilkan rupiah. Tak peduli dengan moralitas bangsa,” katanya. (azm/arrahmah.com) A. Z. MuttaqinSelasa, 27 Rabiul Akhir 1436 H / 17 Februari 2015 10:33

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.367 kali, 1 untuk hari ini)