LOMBOK UTARA (voa-islam.com)—Kepala Dinas Sosial Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Ahsanul Khalik membenarkan beredarnya video yang diduga upaya pemurtadan kepada korban gempa di Lombok Utara.

Video yang viral di media sosial tersebut merekam kegiatan trauma healing yang dilakukan sejumlah relawan kepada korban gempa.

Dalam video itu, nampak jelas seorang relawan memercikan air dari gelas air mineral kepada anak-anak dan orang dewasa yang mengikuti kegiatan trauma healing.

Sontak, video tersebut bikin heboh jagat maya. Karena aktivitas memercikan air ini seperti sedang melakukan pembaptisan dalam ajaran Kristen.

Menurut Ahsanul, aktivitas pada video tersebut terjadi di Desa Onggong Lauk, Desa Teniga Kecamatan Tanjung, Lombok Utara. Berdasar informasi dari perangkat desa diketahui pada Jumat (24/8/2018), sekelompok relawan datang membawa bantuan paket sembako serta mengadakan trauma healing kepada anak-anak.

“Pada saat trauma healing ada diantara mereka memercikkan air seperti sedang membaptis, akan tetapi tidak memakai lagu-lagu rohani,” ungkap Ahsanul saat dikonfirmasi Voa Islam, Sabtu (25/8/2018).

Kemudian ditemukan pula tikar yang dibagi-bagikan, di dalamnya bergambar ajaran agama Nasrani.

“Terhadap kasus di Dusun Onggong Lauk Desa Teniga Kecamatan Tanjung kami menyimpulkan ada indikasi kristenisasi walaupun tidak dilakukan secara langsung,” jelas Ahsanul.* [Syaf/voa-islam.com] – Sabtu, 16 Zulhijjah 1439 H / 25 Agutus 2018

***

55 Orang Meninggal Dunia, Para Orangtua Korban Vaksin akan Mengadu ke MUI

Posted on 25 Agustus 2018 – by Nahimunkar.com

JAKARTA (voa-islam.com)—Rencananya, para orangtua yang anaknya menjadi korban vaksin atau kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) akan menyampaikan aduan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Mereka akan diterima KH Tengku Zulkarnain, Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat di kantor MUI, Jalan Proklamasi 51, Jakarta Pusat, pekan depan. Pertemuan ini diinisiasi oleh Komunitas Halal Corner.

Angelin Rike Hadiana, relawan pencatat data KIPI menerangkan pihaknya akan menyerahkan data-data korban KIPI kepada MUI. Kemudian diharapkan MUI dapat meninjau kembali fatwa Nomor 33 Tahun 2018 yang membolehkan (mubah) penggunaan vaksin MR meski jelas mengandung babi.

“Rencananya kami ingin menyampaikan uneg-uneg berupa pelanggaran tenaga kesehatan (nakes) tentang pelintiran fatwa MUI No 33 tahun 2018, data KIPI, dan sharing korban KIPI. Semoga ulama MUI dapat menimbang kembali atau menyempurnakan kembali fatwa tersebut,” kata Angelin kepada Voa Islam, Jumat (24/8/2018).

Angelin melanjutkan, dalam catatannya hingga 2018 ini ada 55 orang korban KIPI yang meninggal dunia. Ratusan orang diopname, dan sebagian mengalami kelumpuhan.

‘Kebanyakan orangtua tidak mau memperpanjang masalah KIPI yang menimpa anak mereka. Banyak di antara mereka mengaku ikhlas karena memang sudah suratan atau jalannya dari Allah seperti itu. Namun ada juga beberapa orangtua yang memiliki keinginan untuk menempuh jalur hukum. Namun terkendala biaya dan pengetahuan hukum yang sangat minim,” ungkap Angelin.* [Syaf/voa-islam.com] – Sabtu, 14 Zulhijjah 1439 H / 25 Agutus 2018

(nahimunkar.org)

(Dibaca 454 kali, 1 untuk hari ini)