• Kalau seperti itu, yang keliru yang menyuruh atau yang disuruh?
  • Kemudian kalau pemuja setan yang jadi ikon porno itu tetap diberi izin untuk konser music di Jakarta, ada yang sampai menulis begini: Jadi, kalau sudah tahu, Lady Gaga menolak tampil sopan—sesuai persyaratan dari kalian yang setuju konser ini—apakah masih ngotot untuk menggelar konser dan mengeluarkan izinnya? Dan, jika diizinkan, lalu terjadi rusuh, siapa yang bertanggungjawab? Lebih jauh lagi,  jika otak generasi ini kian rusak, siapa yang bertanggung jawab dunia-akhirat?!

Inilah tulisan yang dimaksud.

***

Lady Gaga nyatakan tolak tampil sopan, apakah konser tetap digelar?

JAKARTA  –  Ini lagi kenyataan bahwa pihak Lady Gaga tak mau kompromi agar si penyanyi pembawa misi Zinois  itu tampil sopan, sebagaimana diminta oleh kalangan di Indonesia yang setuju  konsernya digelar di Jakarta.

Untuk Menkopolhukam Djoko Suyanto hingga musisi yang pro Gaga konser di republik yang mayoritas penduduknya Muslim ini, tuh satu realita lagi bahwa Lady Gaga dan manajemennya menolak tampil sopan.

Padahal, sebut misalnya, Djoko Suyanto bilang konser si pemuja setan itu bisa berlangsung di sini, asal disepakati lirik lagu yang akan dibawakan, penampilan, kostum dan aksi panggungnya, sesuai dengan budaya Indonesia. Bahkan ada saja yang bilang agar Lady Gaga tampil dengan busana daerah Indonesia. Nah, pendapat yang ini sama saja dengan melecehkan budaya Indonesia—di samping pastinya Gaga juga menolak.  Mungkin dalam hati Lady Gaga, “Mimpi kali yee…?!”

Pihak manajemen Lady Gaga bilang, kalau harus manggung dengan syarat-syarat seperti itu, mereka lebih memilih membatalkan konser daripada harus mematuhi peraturan sensor dan tekanan kelompok tertentu.

Manajer Lady Gaga, Troy Carter, menegaskan hal ini. Carter mengatakan bila dipaksa menggelar konser secara lebih sopan, Lady Gaga akan membatalkan jadwal konser.

“Kami akan menggelar konser sesuai rencana awal. Ini konser khusus dengan penonton yang sangat khusus pula,” kata Carter saat jumpa pers di Singapura, Kamis (24/5/2012), seperti dikutip kantor berita AFP.

Ia menegaskan kelompok-kelompok garis keras di Korea Selatan, Filipina, dan Indonesia tidak akan bisa dipuaskan dan karena itu Lady Gaga tidak akan mengubah penampilan. Jelas kan?

Nah, apalagi, sebenarnya penolakan terhadap Lady Gaga bukan sekadar lantaran  ia tampil erotis, vulgar dan umbar aurat, bukan! Tak hanya itu! Sebab, kalau cuma itu alasannya, betapa banyaknya di negeri ini para penyanyi yang manggung, penampilannya na’uudzubillaahi mindzaalik! Tapi tertolaknya Gaga di negeri yang penduduknya mayoritas Islam ini,  sebab utamanya adalah si Gaga ini punya misi khusus untuk membentuk opini, mempengaruhi dan menghancurkan cara berpikir dan perilaku generasi muda, terutama Muslim, agar sikap, otak dan kelakuan mereka sesuai dengan keinginan Zionis.

Sasaran misi Lady Gaga ini tak hanya ditujukan pada kaum Muslimin, tapi juga untuk kalangan non-Yahudi lainnya. Sebut misalnya, kelompok Kristen konservatif di Korea Selatan dan Filipina, ini termasuk sasaran misinya Lady Gaga. Seperti diketahui kelompok Kristen konservatif di Filipina dan Korsel menyebut Lady Gaga melecehkan keyakinan mereka, sehingga si penyanyi keras kepala—karena membawa misi, suka tak suka harus ngotot—ini tampil sesuai dengan maunya, tak peduli disebut melecehkan keyakinan tertentu atau tampil tak selaras dengan budaya setempat.

Meskipun, konon, Mabes Polri  sejauh ini belum mengeluarkan izin konser Lady Gaga di Jakarta—yang rencananya akan diselenggarakan pada 3 Juni mendatang—toh  umat Islam bersama orams-ormas Islam bertekad  akan membubarkan konser ini jika jadi berlangsung.

Nah, rupanya pihak manajemen Lady Gaga sendiri menyadari bahwa penolakan terhadap penyanyi penganut paham seks bebas itu bukan sekadar disebabkan oleh busana atau gaya panggungnya, tetapi lantaran visi dan misi penyanyi yang memiliki nama asli Stefani Joanne Angelina Germanotta tersebut—yang berkaitan erat dengan gerakan Illuminati Zionisnya.

“Ada kesenjangan budaya dan generasi yang besar di sini. Kemudian muncul aspek politik dan agama. Persoalan ini lebih rumit dari sekadar baju-baju yang dikenakan Lady Gaga,” ungkap Carter.

Pekan ini melalui akun Twitter, Lady Gaga mengatakan akan tampil solo bila diperlukan daripada memenuhi peraturan sensor dari kelompok-kelompok penolak konsernya di Jakata.

Jadi, sebenarnya, pihak Lady Gaga sudah tahu, penolakan terhadap penyanyi ini terutama lantaran misinya, bukan sekadar kostum dan aksi panggung. Kostum dan aksi panggung yang vulgar dan umbar aurat, hanyalah sebagai ‘alat’ untuk melancarkan misi Zionis Yahudi. Sayangnya, cukup banyak pihak yang tak sadar atau tak mau tahu.

Menkopolhukam Djoko Suyanto dan kalangan yang setuju atas konser Gaga ini digelar—meskipun harus mengorbankan dicucinya otak generasi muda kita oleh misi Zionis yang sesat dan menyesatkan—bukalah hati, pikiran, mata dan pendengaran kalian. Pihak Lady Gaga saja tahu alasan penolakan itu bukan sekadar tampilan, kostum dan aksi panggung, lalu mengapa kalian tak tahu, atau tak peduli akan kehancuran generasi ini? Atau sengaja dibelokkan seakan penolakan itu hanya karena kostum dan aksi panggung? Semacam ‘kura-kura dalam perahu’ alias ‘pura-pura tak tahu’, begitu? Ini bukan perkara sesaat, tapi berefek jauh ke depan!

Jadi, kalau sudah tahu, Lady Gaga menolak tampil sopan—sesuai persyaratan dari kalian yang setuju konser ini—apakah masih ngotot untuk menggelar konser dan mengeluarkan izinnya? Dan, jika diizinkan, lalu terjadi rusuh, siapa yang bertanggungjawab? Lebih jauh lagi,  jika otak generasi ini kian rusak, siapa yang bertanggung jawab dunia-akhirat?!

Redaksi Salam-Online – Jum’at, 4 Rajab 1433 H / 25 Mei 2012 07:23:00

Ilustrasi: voa-islam.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 836 kali, 1 untuk hari ini)