Bahwa kristenisasi dan adanya missionaris sudah sejak dulu sebelum Indonesia merdeka, dan lebih parah lagi setelah Indonesia merdeka. Jadi merdeka dan tidaknya Indonesia itu sama saja, yakni tetap diatur oleh kepentingan asing (waktu itu Komunis) yang digerakkan oleh Soekarno lewat NASAKOM-nya. Jadi, meski umat Islam yang berjuang demi kemerdekaan Indonesia, tetapi yang merasakan itu adalah orang-orang missionaris.

***

SOLO- Maraknya aksi kristenisasi atau pemurtadan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini -meskipun sejak dulu sudah ada- ternyata mengetuk kepedulian kaum muda khususnya aktivis kampus, untuk ikut andil dalam mencari solusi problematika umat yang tak bisa diselesaikan oleh pemerintah, baik daerah maupun pusat.

Ahad (1/12), aktivis kampus dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang tergabung dalam Jama’ah Masjid Fadhlurrahman (JMF) UMS mengadakan seminar nasional kristologi bertajuk “Konspirasi Kristen Terhadap Muslim Indonesia dan Upaya Antisipasinya”. Acara sendiri dilangsungkan di gedung pasca sarjana lantai 5 Fakultas Psikologi UMS dari pukul 09.00 WIB – 12.30 WIB.

Acara yang didukung oleh Rumah Sakit Islam (RSI) Yarsi Surakarta, Baitul Maal DINAR Peduli Solo dan Percetakan IVORIE ini menghadirkan pemateri Ust. Abu Al ‘Izz, Lc. (Ketua FAPB) dan Ust. Sholekhan M.C, Lc. (Ketua DDII Jawa Tengah). Peserta yang hadir sendiri, kebanyakan terdiri dari akademisi dan aktivis kampus yang berasal dari universitas se-Solo raya.

Dalam pemaparannya dengan judul “Sejarah dan Perkembangan Missionaris”, Ust. Sholekhan memaparkan kepada kalangan kaum muda dari aktivis kampus, bahwa kristenisasi dan adanya missionaris sudah ada sejak dulu sebelum Indonesia merdeka dan lebih parah lagi setelah Indonesia merdeka. Jadi merdeka dan tidaknya Indonesia itu sama saja, yakni tetap diatur oleh kepentingan asing (waktu itu Komunis) yang digerakkan oleh Soekarno lewat NASAKOM-nya. Jadi, meski umat Islam yang berjuang demi kemerdekaan Indonesia yang merasakan itu adalah orang-orang missionaris.

Setelah era Soekarno, muncullah era Orde Baru yang dikuasai oleh Soeharto. Tak jauh beda dari pendahulunya, Soeharto malah lebih parah lagi dengan memaksakan kehendaknya agar rakyat menggunakan konsep PANCASILA-nya.

“Kalau tadi Ustadz dari Bekasi itu (Ust. Abu Al ’Izz, red) mengatakan bahwa sekarang ini agamanya orang Kristen itu adalah agama Paulus, kalau orang Indonesia waktu zaman Orba pakai agamanya Soeharto, jadi rakyat waktu itu nasibnya tak jauh beda dengan nasib orang Kristen,” ujarnya.

Era Reformasi yang dielu-elukan oleh sebagian besar orang Islam yang tidak tahu sejarah sebagai titik awal kebangkitan Islam ternyata juga sama saja. Menurut beliau, kristenisasi yang sekarang terjadi seperti di Malang, Magelang, Klaten, Bogor, Bekasi dan lain-lain adalah kristenisasi kelas kecil. Kristenisasi terbesar yang ada di negara kita ini adalah di Pemerintahan.

“Sekarang kalau kita mencermati Undang-Undang tentang pendidikan pasal 9, di situ jelas sekali disebutkan bahwa rakyat harus mendapatkan pendidikan agamanya sesuai dengan agama yang dipeluknya. Tapi coba kita lihat sekarang, contoh di Klaten saja, 60 % anak-anaknya sebagaimana data yang saya dapat itu sekolah di sekolah Kristen.

Jadi, mereka (sekolah-sekolah Kristen) tidak mau memberikan pelajaran agama Islam kepada anak yang beragama Islam. Apa yang mereka lakukan bukan tidak ada dalilnya, mereka melakukan itu  karena mengikuti pasal 7 tentang Pendidikan. Dan ini parahnya adalah hal tersebut berlangsung puluhan tahun tanpa ada dari pihak Pemerintah untuk mencegahnya. Kalau ini bukan Kristenisasi terbesar yang dilegalkan, lalu namanya apa?”  jelasnya.

Maka pelajaran yang bisa dipetik dari seminar tersebut di antaranya kita wajib waspada dengan segala tipu daya dari orang-orang Kristen sekitar kita, jangan sampai lengah pengawasan kita kepada mereka. Sebab mereka juga mengawasi kita dan berupaya bagaimana cara meng-Kristenkan umat lain selain mereka sebagaimana yang ada di dalam injil Matius 28 : 19-20. Lebih spesifik lagi, jangan sampai kita sekolahkan anak-anak kita ke sekolah Kristen, meskipun masuk ke sekolah tersebut GRATIS. (Bekti Sejati/KRU FAI) Ahad, 01 Jan 2012 voa-Islam.com.

(nahimunkar.com)

 

(Dibaca 2.052 kali, 1 untuk hari ini)