عَنْ أَسْمَاءَ، جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: إِنَّ لِي ضَرَّةً فَهَلْ عَلَيَّ جُنَاحٌ أَنْ أَتَشَبَّعَ مِنْ مَالِ زَوْجِي بِمَا لَمْ يُعْطِنِي؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ، كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ»

Asmaa’ berkata : aku mendengar seorang wanita bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “aku memiliki seorang madu, dan aku melebihkan penampilanku dihadapannya seolah-olah aku diberi perhatian lebih oleh suamiku. Apakah aku berdosa karenanya?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

«الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ، كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ»

“Seorang yang melebihkan penampilan dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya, seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” Muttafaqun ‘alaihi.

Berkata Imam An-Nawawi : berkata Abu Ubaidah dan lainnya,
“dalam hal ini termasuk seorang yang menampilkan kezuhudan, namun tujuannya adalah hanya untuk dipandang manusia bahwa dirinya layak menyandang sifat Zuhud tsb, dia menampakkan kekhusyu’an dan Zuhud lebih dari apa yang didalam hatinya, maka sejatinya dia sedang mengenakan dua pakaian : pakaian dusta dan pakaian riya’.”

أبو العباس أمين الله

***

Kehidupan palsu lagi semu kemungkinan menjadi gaya hidup bagi sebagian (banyak?) orang.

Ada yang biar dianggap kaya.
Ada yang agar dianggap pintar.
Ada yang agar dianggap alim.
Ada yang agar dianggap agamis, religius.
Ada yang agar dianggap jujur lagi manusiawi.

Mungkin itu yang belakangan disebut pencitraan. Ternyata ada hadits, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

«الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ، كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ»

“Seorang yang melebihkan penampilan dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya, seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” Muttafaqun ‘alaihi.

Via Fb Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)

(Dibaca 980 kali, 1 untuk hari ini)