Spanduk: Tolak Simposium, PKI Musuh Rakyat


Massa Front Pancasila mengenakan atribut saat menggelar aksi demo menolak diselenggarakan Simposium Membedah Tragedi 1965 di Jakarta, 18 April 2016. Aksi tersebut bersamaan dengan diadakannya “Simposium Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan”. TEMPO/Subekti/ tempo.co

Inilah beritanya.

***

 Enam Alasan Front Pancasila Menolak Dan Meminta Simposium Dibubarkan.

Ali Hamzah selaku koordinator demo menyatakan ada enam alasan Front Pancasila menolak dan meminta simposium dibubarkan. Pertama, simposium dilaksanakan dengan tujuan mendapatkan legitimasi bahwa PKI merupakan korban pelanggaran hak Azasi Manusia (HAM).

Kedua, simposium dimanfaatkan  untuk menekan pemerintah agar menyatakan permintaan maaf, memberikan rehabilitasi dan kompensasi terhadap eks PKI. Ketiga, simposium dimanfaatkan untuk menghidupkan kembali paham komunis yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Keempat, simposium hanya akan membuka luka lama sejarah sehingga menimbulkan perpecahan baru. Kelima, rekonsiliasi telah berjalan alamiah dan tidak dapat dipaksakan. “Sehingga para anggota PKI telah hidup damai dan bermasyarakat,” ujar Ali.

Keenam, hak-hak politik dan perdata para anggota PKI serta keturunannya telah dikembalikan. Hal ini ditunjukkan dengan penghilangan tanda ET di KTP. Juga, banyak yang menjadi anggota dewan dan kepala daerah di berbagai wilayah./ republika.co.id/

***

Hancurkan Paham Komunis di NKRI!

Simposium “Membedah Tragedi 1965” Berakhir Rusuh, Ini Kronologis Lengkapnya

Unjuk rasa

 Unjuk rasa yang menentang Simposium Nasional “Membedah Tragedi 1965 melalui Pendekatan Sejarah” di Jakarta (Foto: Ist/ Ilustrasi)

Jakarta, Aktual.com — Dalam unjuk rasa yang menentang Simposium Nasional “Membedah Tragedi 1965 melalui Pendekatan Sejarah” pada Senin (18/04), di Hotel Aryaduta Jakarta Pusat, akhirnya berlangsung rusuh. Hal itu disebabkan karena para demonstran tidak mau dipindahkan dari Tugu Tani ke Patung Kuda Arjuna Wiwaha.

Mereka (para demonstran yang menolak PKI, red) menolak dan bersikeras ingin berdemostrasi di depan Hotel Aryaduta.

Dalam unjuk rasa tersebut, Alvian Tanjung sebagai sumber suara di atas mobil memprovokasi massa agar terus mengarah ke depan Hotel. Sebelumnya para demonstran yang tergabung dalam Front Pancasila ini berkumpul dari Jalan Menteng Raya Nomor 58, yang dipimpin langsung oleh Alvian Tanjung.

Setelah terjadi bentrokan dengan aparat Kepolisian, Alvian sempat berorasi bahwasannya Kantor Lembaga Bantuan Hukum Jakarta menjadi markas mantan anggota dan simpatisan PKI, yang mana selama ini kegiatan simpatisan komunis itu dilakukan di kantor LBH Jakarta.

“Markas PKI itu ada di kantor LBH,” ucap ia dengan lantang dan tegas.

Sementara itu, sejumlah pengunjuk rasa tidak mau pindah ke tempat yang diperintahkan oleh kepolisian. Terpaksa, Kepala Bagian Operasional Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Susatyo Purnomo Condro memerintahkan polisi untuk mengangkat tubuh sejumlah pengunjuk rasa yang tidak patuh.

Saat itulah sebenarnya kericuhan dimulai. Karena para demonstran yang diangkat mencoba melawan. Dan, pengunjuk rasa yang berada di atas mobil pun marah dan meneriaki serta menunjuk polisi sebagai “PKI”.

“PKI, polisi PKI, kalian semua PKI” teriak para pengunjuk rasa sambil menunjuk ke arah polisi.

“Itu saudara kami, lihat saja kalau terjadi sesuatu dengan saudara kami,” teriak demonstran yang lain sambil menyaksikan rekannya dibawa polisi.

Dan, tak lama berselang mobil para demonstran pun dipaksa maju agar berpindah ke Patung Kuda Arjuna Wiwaha.

Untuk diketahui, Alvian pernah menuturkan, bahwasanya kantor LBH merupakan markas PKI. Ia mengatakan itu dengan suara tegas saat Front Pancasila mengadakan konferensi pers pada Sabtu (16/04) lalu di Graha 66 Menteng.

“Markas PKI itu ada di kantor LBH. Catat itu,” ceplos ia.

Dalam demonstrasi tersebut terlihat belasan orang yang terdiri dari sejumlah pria yang mengenakan peci dan wanita yang mengenakan kerudung dengan membentangkan spanduk yang berbunyi “Tolak Simposium, PKI Musuh Rakyat”. (Ferro Maulana)

Sumber: aktual.com/Refli Mulyadi/19 April 2016 12:20 AM

***

Demo Simposium: Polisi Diteriaki PKI, LBH Dituduh Pro-Komunis

aktivis dari Front Pancasila

Sejumlah aktivis dari Front Pancasila berunjuk rasa di kawasan Tugu Tani terkait Simposium Membedah Tragedi 1965 yang berlangsung di Hotel Aryaduta Jakarta, Senin, 18 April 2016. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Jakarta, CNN Indonesia — Unjuk rasa menentang Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 melalui Pendekatan Sejarah yang hari ini digelar Hotel Aryaduta, Jakarta, berlangsung rusuh. Massa dari Front Pancasila terlibat bentrok dengan aparat kepolisian.

“Polisi PKI, Polisi PKI,” teriak orator Alvian Tanjung dari atas mobil pikap yang mengangkut pengeras suara. Pengunjuk rasa memaksa menggelar aksinya di depan Hotel Aryaduta, Jalan Prapatan, Jakarta Pusat.

Aparat kepolisian meminta pengunjuk rasa tidak menggelar aksinya di depan Hotel Aryaduta. Polisi terus menggiring ke arah Stasiun Gambir dan Patung Kuda. Namun Alvian yang memegang sumber suara dari atas mobil memprovokasi massa agar terus mengarah ke depan hotel.

“Kami bukan ke Patung Kuda, kami akan ke markas PKI yang saat ini berlangsung simposium di Hotel Aryaduta,” kata Alvian mengompori massa. Adu fisik pun terjadi. Polisi dan pengunjuk rasa saling tarik menarik spanduk dan atribut aksi lain. Dua orang peserta aksi diamankan pihak kepolisian. Ketegangan itu sempat membuat laju perjalanan di sekitar lampu merah terhenti.

Barisan motor yang dikendarai polisi menggiring mereka ke arah stasiun Gambir. Polisi hendak mengarahkan massa ke kawasan Patung Kuda, Monas. Massa lantas menjauh ke arah Patung Kuda.

Massa aksi yang tergabung dalam Front Pancasila menggelar unjuk rasa di depan Tugu Tani, Jakarta Pusat. Mereka datang dari arah Cikini. Sebelumnya, massa berkumpul di Jalan Menteng Raya Nomor 58.

Mereka berjumlah belasan orang. Sejumlah lelaki berpeci dan wanita berkerudung ikut membentangkan spanduk. Salah satu spanduk berbunyi “Tolak Simposium, PKI Musuh Rakyat”.

Dalam orasinya, Alvian juga menuding kantor Lembaga Bantuan Hukum Jakarta sebagai markas eks anggota maupun simpatisan PKI. Selama ini, kata Alvian, kegiatan simpatisan komunis itu dilakukan di kantor LBH.

“Markas PKI itu ada di kantor LBH. Catat itu,” katanya dengan lantang.

Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 sedang berlangsung di Hotel Aryaduta. Front Pancasila berniat membubarkan kegiatan tersebut. (obs)

Sumber: cnnindonesia.com/Prima Gumilang/Senin, 18/04/2016

***

Bertentangan Dengan Norma Dan Undang-Undang Yang Berlaku

Apapun alasannya, pelaksanaan Simposium Nasional yang membedah fakta-fakta tentang korban PKI 1965 dilarang di Indonesia, karena bertentangan dengan norma dan Undang-Undang yang berlaku sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945, terutama TAP MPRS No. XXV/MPRS Tahun 1966 tentang larangan Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta underbownya serta ajaran Komunisme/Marxisme/Leninisme.

Kemudian  bertentangan dengan TAP MPR RI Nomor 1 Tahun 2003 dan Undang-Undang  Nomor 27 Tahun 1999 tentang perubahan KUHP yang berhubungan dengan kejahatan dan keamanan negara yang mengatur tentang pelarangan faham komunisme di Indonesia.

Pantauan Cendana News, pelaksanaan Simposium Nasional tentang korban PKI 1965 dibuka pada pukul 09:00 WIB bertempat di Hotel Arya Duta, kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat. Beberapa pejabat tinggi negara tampak terlihat hadir dalam acara pembukaan Simposium Nasional tersebut, antara lain Kapolri Jendral Badrotin Haiti, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri  Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dan Jaksa Agung H.M. Prasetyo.

Sumber: cendananews.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.891 kali, 1 untuk hari ini)