Ilustrasi / instahu.com

Silakan simak berikut ini.

Tokoh jahat (fiksi) di pewayangan.

Durna dan Sengkuni

Durna

DI dalam sekotak wayang, kira-kira ditampilkan 200 karakter yang ada dalam kehidupan manusia. Ada yang berkarakter sebagai Rahwana, Bima, Kumbakarna, Cakil, Arjuna dan lain-lainnya. Ada juga berkarakter Durna yang hidup di negeri Astina.

Dia memiliki jabatan sebagai ”Penasihat Raja Astina”. Karena kepiawaianya dia juga diambil sebagai guru oleh Kurawa dan Pandawa. Karena keahliannya di dalam mengolah kata, mengolah siasat, memberi pendidikan yang abu-abu, kadang-kadang dari Pandawa terkesima oleh tingkah laku Durna.

Yang jelas Durna adalah pro-Kurawa, sehingga suatu saat ketika ia memberi nasihat kepada Bima yang dalam benaknya Durna ingin menjerumuskan Bima untuk mati. Maka karena Bima menganggap Durna sebagai guru, nasihat-nasihat itu dicamkannya, seakan nasihat-nasihat Durna memberikan jalan hidup yang baik kepada Bima.

Sengkuni

Ada karakter lain dalam pewayangan yaitu Sengkuni. Orang yang lemah lembut, sopan tapi dibalik itu mempunyai rencana yang jahat, suka mengadu domba, suka menjadi provokator suka mengembangkan siasat buruk.

Itulah antara lain karakter wayang yang sudah diciptakan ribuan tahun yang lalu, dan karakter-karakter itu masih relevan hingga sekarang.

http://poskotanews.com

***

Tokoh Munafik (Nyata) di Zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

***

Abdullah bin Ubay bin Salul: Potret Munafiq di Zaman Rasulullah

Kisah Rasulullah ini akan membuatmu berpikir

M. Alvin Nur Choironi 25 Mei 2017

Ketika terjadi pertengkaran antara Jahjah bin Mas’ud al-Ghifari dan Sinan bin Mas’ud al-Juhani yang akhirnya menyulut pertengkaran antara kelompok Muhajirin dan Anshar, datanglah seorang Abdullah bin Ubay bin Salul yang memafaatkan situasi tersebut untuk memecah belah muslim Muhajirin dan Anshar.

Ibn Ubay kemudian berpidato di depan kaum Anshar.

“Lihatlah! Orang-orang yang telah kalian tolong dan diberikan tempat tinggal ternyata telah mengkhianati kalian. Wahai kaumku, jika kalian mencintai diri kalian, janganlah kalian menolong kaum Muhajirin lagi.”

Provokasi yang dilakukan oleh Ibn Ubay mulai berefek pada kepercayaan Anshar kepada Muhajirin.

Peristiwa provakasi yang dilakukan oleh Ibn Ubay itu diketahui oleh seorang pemuda hebat yang bernama Zaid bin Arqam.

Seketika Zaid melaporkan ulah Ibn Ubay kepada Rasulullah Saw. Muka Rasulullah memerah tanda kemarahan Rasulullah telah memuncak.

Rasulullah pun langsung mendatangi kaum Muhajirin dan Anshar yang tadi bertikai dan kembali mempersatukannya.

Kedatangan Rasulullah menjernihkan kembali fikiran-fikiran mereka yang telah diracuni oleh kalimat-kalimat Ibn Ubay.

Rasulullah kemudian memanggil Abdullah bin Ubay bin Salul. Ia menanyakan apakah tindakan yang dilaporkan Zaid bin Arqam benar adanya.

Rasulullah pun memastikan kepada Zaid bin Arqam bahwa peristiwa yang ia laporkan kepadanya itu benar adanya.

“Apakah kau memiliki dendam dengan Ibn Ubay wahai Zaid?”

“Tidak punya wahai Rasul.”

“Apakah peristiwa yang engkau laporkan itu benar wahai Zaid?”

“Benar wahai Rasul.”

Mendengar jawaban yang begitu tegas dari Zaid bin Arqam, Rasul kemudian beralih bertanya kepada Ibn Ubay.

“Wahai Ibn Ubay, benarkah yang dikatakan Zaid?”

“Tidak Rasul, demi Allah dan demi Al-Quran yang telah diturunkan kepadamu sesungguhnya Zaid adalah orang yang berbohong. Dia telah melakukan kebohongan.”

Mendengar perkataan Ibn Ubay, masyarakat yang menyaksikan hal itu kemudian meragukan Zaid bin Arqam.

Umar bin Khatab yang ada di sana saat itu ingin membunuh Ibn Ubay. Ia mengetahui bahwa Ibn Ubay sering melakukan kebohongan dan fitnah. Sayangnya, Rasul selalu mencegahnya.

Seketika turunlah ayat al-Munafiqun ayat 1-8. Rasul pun membacanya dihadapan seluruh kaum muslimin dan membisiki telinga Zaid bin Arqam seraya berkata:

“Telingamu benar wahai anak muda, dia lah yang melakukan kebohongan.”

https://islami.co

***

﴿إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ  (١)

اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِۚ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ  (٢)

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ  (٣)

۞وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْۖ وَإِن يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْۖ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌۖ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْۚ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُۖ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ  (٤)

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا يَسْتَغْفِرْ لَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ وَرَأَيْتَهُمْ يَصُدُّونَ وَهُم مُّسْتَكْبِرُونَ  (٥)

سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ  (٦)

هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ لَا تُنفِقُوا عَلَىٰ مَنْ عِندَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّىٰ يَنفَضُّواۗ وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ  (٧)

يَقُولُونَ لَئِن رَّجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الْأَعَزُّ مِنْهَا الْأَذَلَّۚ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ  (٨) ﴾ [ الـمنافقون:1-8]

  1. Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. [Al Munafiqun:1]
  2. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. [Al Munafiqun:2]
  3. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. [Al Munafiqun:3]
  4. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? [Al Munafiqun:4]
  5. Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. [Al Munafiqun:5]
  6. Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. [Al Munafiqun:6]
  7. Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada disisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)”. Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. [Al Munafiqun:7]
  8. Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya”. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. [Al Munafiqun:8]

﴿إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا  (١٤٥) ﴾ [ النساء:145-145]

  1. Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. [An Nisa”:145]

(nahimunkar.org)

(Dibaca 15.911 kali, 2 untuk hari ini)