Pendeta GBI Bandung yang Meninggal Kena Corona Pernah ke Israel

  • Umar bin Khatthab Memanggil Pendeta/ Pastur di Gereja Lalu Memandangnya dan Menangis
  • Menelusuri Jejak Pasien Positif Corona dari Seminar GPIB Sinode di Bogor yang Memakan Korban Jiwa
  • Usai Acara Seminar di GPIB Bogor 2 Pendeta Meninggal Walikota Arya Bima Positif Virus Corona, 21 Jemaat Gereja Sakit

  • Wabah penyakit itu azab bagi orang kafir dan yang berdosa besar, tapi rahmat bagi orang mukmin

     

Berikut ini berita dan ulasannya.

***

Pendeta GBI Bandung yang Meninggal Kena Corona Pernah ke Israel

 

Ilustrasi kebaktian di gereja. IDN Times/Fariz Fardianto

Seorang pendeta yang meninggal di RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung pada Sabtu lalu (21/3/2020) dinyatakan positif virus corona. Ia masuk dalam klaster seminar keagamaan Gereja Bethel Indonesia (GBI) di Lembang, Bandung Barat, yang digelar 3-5 Maret lalu.

Jumlah peserta seminar keagamaan GBI di Lembang mencapai 2 ribu orang. “Bahkan saya dengar (di Lembang) pesertanya ada 2 ribu orang dibagi empat sesi seminar,” ujar Gubernur Jabar Ridwan Kamil.

Masuknya pendeta itu dalam klaster di Lembang sesuai dengan keterangan Sekretaris Dinkes KBB, Nanang Ismantoro saat dihubungi, Selasa (24/3/2020). Bahkan istri sang pendeta pun dinyatakan positif corona, seperti diberitakan detikcom Selasa, 24 Mar 2020 21:10 WIB

Dari hasil penelusuran Dinkes KBB (Kabupaten Bandung Barat), menurut Sekertaris Dinas Kesehatan (Dinkes) KBB Nanang, pendeta tersebut memiliki mobilitas yang cukup tinggi. Di tengah pandemi COVID-19 di berbagai belahan dunia, pendeta tersebut masih sempat berkunjung ke negara terjangkit.

“Pendeta itu memang mobilitasnya tinggi. Dia pernah ke luar negeri ke Israel. Yang bahayanya, jemaat yang hadir di acara itu ikut tertular bahkan ada yang meninggal juga,” tuturnya

Pendeta tersebut asal Desa Cihanjuang, Kecamatan Parongpong, KBB. Istri dari seorang pendeta itu juga dinyatakan positif dan tengah dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung./ IDN Times
24 Maret 202

***

Umar bin Khatthab Memanggil Pendeta/ Pastur di Gereja Lalu Memandangnya dan Menangis

{هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ (1) وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ (2) عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (3) تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً (4) تُسْقَى مِنْ عَيْنٍ آنِيَةٍ (5) [الغاشية: 1 – 5]

1. Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? [Al Ghashiyah:1]

2. Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, [Al Ghashiyah:2]

3. bekerja keras lagi kepayahan, [Al Ghashiyah:3]

4. memasuki api yang sangat panas (neraka), [Al Ghashiyah:4]

5. diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. [Al Ghashiyah:5]

Petikan dari Tafsir Ibnu Katsir:

… dari Amr ibnu Maimun, bahwa Nabi Saw. melewati seorang wanita yang sedang membaca firman-Nya: Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? (Al-Ghasyiyah: 1) Maka beliau bangkit dan mendengarkannya serta menjawab: Benar, telah datang kepadaku (beritanya).

Adapun firman Allah Swt.:

{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ}

Banyak muka pada hari itu tunduk terhina. (Al-Ghasyiyah: 2)

Yang dimaksud dengan khusuk di sini adalah terhina, menurut Qatadah. Juga dikatakan oleh Ibnu Abbas, bahwa wajah-wajah tersebut tunduk terhina karena amal perbuatannya tidak bermanfaat bagi dirinya.

Firman Allah Swt.:

{عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ}

bekerja keras lagi kepayahan. (Al-Ghasyiyah: 3)

Yakni mereka telah banyak melakukan kerja keras yang memayahkan diri mereka, tetapi pada akhirnya di hari kiamat mereka dimasukkan ke dalam neraka yang amat panas.


{وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ}

Banyak muka pada hari itu tunduk terhina. (Al-Ghasyiyah: 2)

Yang dimaksud dengan khusuk di sini adalah terhina, menurut Qatadah. Juga dikatakan oleh Ibnu Abbas, bahwa wajah-wajah tersebut tunduk terhina karena amal perbuatannya tidak bermanfaat bagi dirinya.

Firman Allah Swt.:

{عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ}

bekerja keras lagi kepayahan. (Al-Ghasyiyah: 3)

Yakni mereka telah banyak melakukan kerja keras yang memayahkan diri mereka, tetapi pada akhirnya di hari kiamat mereka dimasukkan ke dalam neraka yang amat panas.

 

… Abu Imran Al-Juni mengatakan bahwa Umar ibnul Khattab r.a. melewati sebuah gereja yang dihuni oleh seorang rahib, maka Umar memanggilnya, “Hai rahib!” Lalu si rahib muncul; maka Umar memandangnya dan menangis. Kemudian ditanyakan kepada Umar, “Mengapa engkau menangis, hai Amirul Mu’minin?” Umar menjawab, bahwa ia teringat akan firman Allah Swt. yang mengatakan: 

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (3) تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً

bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas. (Al-Ghasyiyah: 3-4) Itulah yang menyebabkan aku menangis.

Imam Bukhari mengatakan bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: bekerja keras lagi kepayahan. (Al-Ghasyiyah: 3) Bahwa mereka adalah orang-orang Nasrani. Telah diriwayatkan dari Ikrimah dan As-Suddi, bahwa makna yang dimaksud ialah bekerja keras di dunia melakukan perbuatan-perbuatan maksiat, dan kepayahan di dalam neraka karena azab dan siksaan yang membinasakan.

Ibnu Abbas, Al-Hasan, dan Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: memasuki api yang sangat panas (neraka). (Al-Ghasyiyah: 4) Artinya, yang panasnya tak terperikan.

{تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً}

diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. (Al-Ghasyiyah: 5)

yang panasnya tak terkira dan titik didihnya melebihi puncaknya sampai tingkatan yang tak terbatas; demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Al-Hasan, dan As-Suddi./ ibnukatsironline.com

 

***

Menelusuri Jejak Pasien Positif Corona dari Seminar GPIB Sinode di Bogor yang Memakan Korban Jiwa


via twitter/GPIB Sinode

Acara ini kurang lebih dihadiri oleh 685 orang dari 26 provinsi di Indonesia. Dari acara inilah penyebaran ke beberapa provinsi dicurigai menjadi penyebab munculnya korban baru di berbagai daerah Indonesia. Dari klaster Bogor ini pula peserta di Kalimantan Timur, Lampung, Sukoharjo hingga Wonogiri dan Solo positif COVID-19.

 

Klaster penelusuran peserta seminar di Bogor yang terinfeksi mulai terungkap satu persatu. Sempat tertutupi karena tidak ada transparansi untuk tracking kasus pasien positif Corona yang sudah menyebar ke beberapa wilayah di Indonesia kasus ini mulai terbuka karena kejelasan korban yang meninggal diungkap oleh pemilik acara.

Adalah konfirmasi dari pihak GPIB yang menguak tabir ini terkait kejelasan salah satu peserta acara tersebut yang positif COVID-19 dan juga yang meninggal dunia sekaligus mengkonfirmasi 2 peserta lain yang meninggal namun tidak positif COVID-19.

 

 

Pelaksana acara mengkonfirmasi bahwa acara yang melibatkan ratusan orang pendeta tersebut di hotel Aston Sentul, Bogor empat orang dinyatakan positif COVID-19. Namun pihak GPIB juga mengkonfirmasi bahwa 1 pasien meninggal di Solo tidak terikat sama sekali dengan acara yang mereka adakan.

Tertutupnya transparansi penelusuran korban meninggal membuat banyak orang kini menduga-duga karena kesimpangsiuran informasi. Beruntung GPIB membuka informasi ini sehingga orang-orang yang menjenguk atau anggota keluarga pasien kasus COVID-19 di wilayah Jawa Tengah dan beberapa daerah lain mulai dalam pemantauan.

Sejauh ini klaster Bogor merupakan klaster pembawa (carrier) yang cukup banyak menginfeksi korban lain. Apalagi acara tersebut yang berlangsung 28-29 Februari 2020 ini merupakan acara berlevel nasional yang sempat dibuka oleh Ketua MPR Bambang Soesetyo.

Acara ini kurang lebih dihadiri oleh 685 orang dari 26 provinsi di Indonesia. Dari acara inilah penyebaran ke beberapa provinsi dicurigai menjadi penyebab munculnya korban baru di berbagai daerah Indonesia. Dari klaster Bogor ini pula peserta di Kalimantan Timur, Lampung, Sukoharjo hingga Wonogiri dan Solo positif COVID-19.

Sumber.com Indoyanu Muhamad | 20 Maret 2020, 20:50

 

***

Usai Acara Seminar di GPIB Bogor 2 Pendeta Meninggal Walikota Arya Bima Positif Virus Corona, 21 Jemaat Gereja Sakit

 


 

Puluhan jemaat gereja GPIB mengalami sakit setelah mengikuti seminar di Hotel Aston Bogor pada akhir Februari 2020. Seminar tersebut diikuti puluhan jemaat gereja GPIB dari berbagai daerah, seperti Bogor, Lampung, Jakarta, Jawa Tengah dan berbagai daerah lainnya.

 


Peserta PST GPIB 2020 yang berasal dari seluruh Indonesia di Hotel Aston, Bogor, Jawa barat

 

Sebanyak 21 peserta seminar dinyatakan sakit. Dua di antaranya meninggal dunia setelah menjalani perawatan. Keduanya adalah pendeta berinisial MP dan Pdt Ong.

Salah satu peserta kini dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Moeloek Bandar Lampung.

Setelah menjalani pemeriksaan, dia dinyatakan positif virus Corona atau Covid-19. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Reihana mengungkap jejak riwayat perjalanan yang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 tersebut.

Berdasarkan keterangan Reihana, pasien tersebut memiliki riwayat mengikuti seminar di Bogor, Jawa Barat.

Menurut Reihana, anak pasien melapor lantaran ayahnya menderita gejala virus Corona. Sang anak khawatir lantaran dia mendapatkan informasi bahwa pada tanggal 14 Maret 2020, ada seorang jemaat Gereja GPIB yang meninggal dunia dengan diagnosa Covid-19.

Selain itu, dia juga mendapatkan kabar bahwa ada satu jemaat sedang dirawat di Jakarta dan Jawa Tengah.

“Kedua jemaat tersebut merupakan peserta seminar di Hotel Aston Bogor, di mana ayahnya juga sebagai peserta di acara seminar tersebut,” ungkapnya.

Reihana menjelaskan riwayat penyakit warga Lampung yang positif terinfeksi Corona. “Perjalanan penyakitnya, tanggal 25 sampai dengan 28 Februari, laki-laki 62 tahun tersebut menghadiri seminar di GPIB Hotel Aston Bogor,” kata Reihana.

“Dan tanggal 29 Februari, pasien kembali ke Bandar Lampung. Mulai merasakan gejala tanggal 3 Maret 2020. Panas, batuk, makan ninum mau, susah menelan sedikit, suhu 37 derajat celcius,” katanya.

Selain itu, Ada dua pejabat yang menghadiri acara tersebut, antara lain, Walikota Bogor Arya Bima yang saat ini juga dinyatakan Positif terjangkit virus corona, selain itu itu ada Ketua MPR RI bambang seosatyo

namun dari hasil Pemeriksaan, bambang Soesatyo negatif.(Ilm)

 

Realitarakyat.com – 20 March 2020 By  Ilham

 

***

Wabah penyakit itu azab bagi orang kafir dan yang berdosa besar, tapi rahmat bagi orang mukmin

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa wabah penyakit yang menyebar di suatu daerah itu pada dasarnya merupakan azab bagi orang-orang yang tak beriman. Selain itu, pelaku dosa besar juga termasuk azab baginya bila terjadi suatu wabah penyakit yang menimpanya. Namun, ini merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Pasalnya, orang beriman akan diberikan pahala setara orang yang mati syahid.

 

Wabah penyakit yang menyebar di suatu wilayah tertentu membuat khawatir para penduduknya. Wabah penyakit ini terkadang mematikan. Oleh karena itu, orang yang bersabar menghadapi wabah penyakit, dan sampai meninggal itu digolongkan sebagai orang yang mati syahid.

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa beliau pernah bertanya pada Rasulullah mengenai wabah penyakit atau tho’un. Rasulullah saw. memberi isyarat demikian:

أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ» تَابَعَهُ النَّضْرُ، عَنْ دَاوُدَ

Artinya:

(tho’un) itu azab yang Allah timpakan pada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya rahmat bagi mukminin. Tidaklah seorang hamba yang di situ terdapat wabah penyakit, tetap berada di daerah tersebut dalam keadaan bersabar, meyakini bahwa tidak ada musibah kecuali atas takdir yang Allah tetapkan, kecuali ia mendapatkan pahala seperti orang yang mati syahid. Hadis ini diperkuat riwayat al-Nadhr dari Daud (HR Bukhari). (Tafsir Surah Yasin Ayat 18-19: Mengaitkan Musibah dengan Kesialan Bukan Ajaran Islam)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa wabah penyakit yang menyebar di suatu daerah itu pada dasarnya merupakan azab bagi orang-orang yang tak beriman. Selain itu, pelaku dosa besar juga termasuk azab baginya bila terjadi suatu wabah penyakit yang menimpanya. Namun, ini merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Pasalnya, orang beriman akan diberikan pahala setara orang yang mati syahid.

Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar yang berpesan, “Wabah penyakit itu di antaranya disebabkan kemaksiatan yang merajalela” (HR Ibnu Majah)*. Dalam riwayat lain disebutkan dengan redaksi demikian,

شعب الإيمان (5/ 22)

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بها إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ

“Kemaksiatan tidak akan tampak di suatu masyarakat sama sekali, sampai mereka sudah terang-terangan melakukan kemaksiatan itu, maka menimpa mereka wabah penyakit dan kelaparan yang tidak pernah terjadi sebelumnya” (HR Baihaqi).

*[tambahan dari redaksi NM: Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallah anhuma menyampaikan sabda Rasulullah,

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

“Tidaklah fahisyah (perbuatan keji) tersebar pada suatu kaum kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada kaum sebelum mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 4019. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibn Majah no. 3262), red NM].

Apakah orang yang mukmin atau muslim yang terdampak dari kemaksiatan yang menyebar di suatu daerah itu termasuk yang mendapatkan pahala mati syahid? Jawabannya iya. Ini adalah bentuk rahmat Allah untuk umat Nabi Muhammad yang beriman.

Namun, sebagaimana hadis di atas, orang yang mendapatkan pahala setara orang yang mati syahid itu harus bersabar, tidak mengeluh, dan pasrah pada ketentuan Allah saat wabah penyakit tersebut menimpanya.

Menurut Imam Ibnu Hajar terdapat tiga gambaran mengenai orang yang terkena wabah penyakit ini berkaitan dengan pahala mati syahid. Pertama, orang yang terkena wabah penyakit, kemudian dia meninggal itu otomatis tergolong mati syahid. Kedua, orang yang terkena wabah penyakit, namun tidak sampai meninggal, ia mendapatkan pahala setara orang mati syahid. Ketiga, orang yang di daerahnya tidak terdapat wabah penyakit, namun ia tertular wabah penyakit dari orang lain, ini pun bila meninggal akan mendapatkan pahala mati syahid. Wallahu a’lam bis shawab.

Penulis

 Ibnu Kharish dalam judul ‘Pahala Orang Mukmin yang Sabar Menghadapi Wabah Penyakit’ (Kajian Hadis Shahih Bukhari Nomor 5734)

 

 –

BincangSyariah.Com – 28 Januari 2020

 

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 5.527 kali, 1 untuk hari ini)