Ilustrasi/voa-islam.com

Dalam tipu dayanya, pendeta gereja itu mengatakan kepada bocah perempuan yang jadi korbannya ketika si bocah menolaknya: “Kamu ini ‘gembala’ Tuhan. Kamu harus disucikan. Sudah nurut saja, jangan durhaka,” cerita korban yang juga anak yatim tersebut.

Ketika bocah perempuan yang jadi korban ini ternyata hamil, pendeta gereja yang sudah bercucu dua itu berkata: ‘Tau gak, kamu ini mengandung anak iblis. Anak iblis yang menjelma dalam rahim kamu,…’

Inilah beritanya.

***

Bermula Bimbingan Rohani Jemaat Oknum Pendeta di Bekasi Tega Hamili Bocah 13 Tahun Hingga Melahirkan 

Posted on 10:16 pm, September 9, 2015 by Redaksi

BERITA BEKASI – Seorang bocah perempuan berinisial CV (15) mengaku telah menjadi korban persetubuhan hingga berjalan selama 2 tahun. Al-hasil dari hubungan terlarang tersebut, korban akhirnya melahirkan seorang bayi berjenis kelamin laki-laki, Rabu (9/9/2015).

Ironisnya, sang pelaku diketahui adalah salah seorang tokoh agama berinisial DM (57) seorang pendeta di Gereja GPPS Filadelfia, Jalan Ampera, Durenjaya, Kota Bekasi.Tak hanya itu, DM pun diketahui telah berkeluarga dan memiliki 2 orang cucu.

Pendeta di Gereja GPPS Filadelfia  itu berzina mesum dengan cara tipu daya terhadap anak tersebut, kesemuanya (selama 2 tahun ) dilakukan di sebuah Hotel kelas melati di Bekasi.

Dalam tipu dayanya, pendeta gereja itu mengatakan kepada korbannya tersebut ketika si bocah perempuan ini menolaknya: “Kamu ini ‘gembala’ Tuhan. Kamu harus disucikan. Sudah nurut saja, jangan durhaka,” cerita korban yang juga anak yatim tersebut.

Selanjutnya korban pun mengandung. Saat di tes, korban diketahui positif telah mengandung seorang bayi. “Tes kehamilanya tiga kali, di hotel tesnya. Ternyata dari 3 kali tes, satu alat kesehatan, hasilnya enggak positif. Lalu om bilang, ‘Tau gak, kamu ini mengandung anak iblis. Anak iblis yang menjelma dalam rahim kamu, karena hasilnya bisa beda-beda,” jelas korban menirukan perkataan sang Pendeta Gereja yang sering menggagahinya itu.

Korban pun hanya pasrah. Ia tak berani menceritakan hal tersebut kepada ibu kandungnya, yang sehari-hari bersama korban di rumah. Pasalnya, pelaku berucap, jika korban akan bisa tidak hamil, jika dia mau puasa tiga hari, 3 malam lamanya di Bukit Doa, Semarang, Jawa Tengah.

“Katanya saya bisa gak jadi hamil jika saya puasa dan berdoa ke Tuhan di sana. Bahkan, kandungan itu bisa pindah ke rahim orang. Karena katanya kandungan saya jelmaan iblis,” jelasnya.

Korban pun menurut. Ia lalu dibekali ongkos untuk pergi ke Semarang. Korban pun akhirnya, kabur dari rumah. Meninggalkan ibunya seorang diri.

“Saya diminta ke Semarang. Saya di kasih uang dan HP baru. HP lama saya dibuang dia. Katanya, gak usah kabarin ke rumah. Biar om yang bilang ke ibu,” ucap korban.

Nah, setelah sampai di Semarang itulah, korban selama 5 bulan meninggalkan rumah. Ia pun akhirnya, terpaksa melahirkan jabang bayinya. “Nah, selama di Semarang, saya hanya bisa berhubungan dengan om. Karena HP saya yang lama kan sudah dibuang. Nah, lewat telepon itu terus, om mengarah dan menyetir saya harus kos dan lahiran di mana,” ucapnya.

Sedihnya, saat proses melahirkan itulah, pelaku rupanya mencari seseorang ibu untuk mengadopsi sang bayi. “Pas mau bersalin, sudah ada Ibu-ibu yang mau adopsi. Temennya om juga. Om cerita ke dokter dan ibu ibu itu, jika saya ini adalah anaknya, yang dihamili pacar tak bertanggung jawab,” kata dia.

“Anak saya laki-laki, saya hanya bisa mencium nya sekali saja, setelah itu diadopsi Ibu-ibu,” tangis korban.

Pasca melahirkan itulah, pelaku untuk akhirnya berjanji akan membawa pulang korban ke orang tuanya. “Sehari melahirkan, saya di bawah om ke Surabaya. Dia malah ‘minta’ lagi. Yah, saya gak mau, kan sakit habis lahiran. Yah, dia marah-marah lagi,” ucapnya.

Kasus inipun, akhirnya terkuak setelah korban mau bercerita kepada orang tuanya pada Juni 2015. “Saya gak tahan lagi, karena sampai sekarang pelaku terus sms-sms nakal, dan minta lagi,” pungkas korban.

Disisi lain, Kasus inipun ditangani oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kota Bekasi. “Kasus ini sudah dilaporkan ke pada unit pengaduan KPAI Kota Bekasi, dan akan terus kawal hingga tuntas,” ucap Komisioner KPAI Kota Bekasi, Rury Arief Rianto.  (Indra) beritaekspres.com, Posted on 10:16 pm, September 9, 2015 by Redaksi/ diringkas.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.594 kali, 1 untuk hari ini)