Sebuah video yang diunggah ke Youtube setahun yang lalu tepatnya pada 29 Nopember 2013 menampilkan aksi konyol seorang pendeta Syiah. Dalam video singkat berdurasi 2 menit 12 detik tersebut tampak seorang pendeta Syiah bernama Muhammed Al-Aradi memberikan ceramah agama mengenai fadhilah (keutamaan) nikah mut’ah.
Mengawali uraiannya, Muhammed Al-Aradi mengatakan mut’ah memiliki pahala yang besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian pendeta konyol tersebut membacakan teks kitab yang nada kalimatnya mirip matan hadits. Tidak diketahui kitab apa yang dibacanya, meskipun dia sangat gagah dan percaya diri dalam mengupas keutamaan nikah mut’ah.
Dari paparannya, tampak nikah mut’ah dalam konsep Syi’ah sebagai suatu amalan yang sangat mulia. Namun diujung video tersebut, penceramah dengan pakaian khas pembesar agama Syi’ah tersebut mendapatkan secarik kertas berisi pertanyaan yang dia baca sendiri, “Apakah engkau dan para imam Syi’ah ridha memberikan anak-anak perempuan mereka untuk dinikahi mut’ah?” Dengan gesit pendeta Syi’ah tersebut menjawab, “Ini seperti mengizinkan orang asing datang dan meminta saya untuk memberikan anak perempuan saya. Dia akan menikahinya selama satu jam, mengotori kesuciannya kemudian membuang anak perempuan saya. Anda pikir saya akan mengizinkan? Jawaban Anda pikirkan adalah sebagaimana jawaban saya.”
Sungguh, logika mereka benar-benar menggelikan. Tak ada gunanya pendeta Syi’ah tersebut memaparkan keutamaan nikah mut’ah menurut ‘aqidah Syi’ah secara menggebu-gebu tapi kemudian menolaknya mentah-mentah. Ini bukti nyata kebodohan penganut agama Syi’ah yang mau dibohongi oleh para tokoh mereka.
Menyertai video tersebut, tampak banyak komentar dari para netizen. Mayoritas mengutuk Syi’ah. Ada satu akun yang mencoba membela, ditengarai dari kalangan Syi’ah. Akun bernama Setyawan Sety menulis, “Orang itu jangan mudah ketipu. pelajari dulu, fahami dulu..mut ah itu apa, sejarahnya bagaimana, daging babi itu haram, tapi dalam situasi tertentu bisa halal. aneh …dikit dikit sesat, dikit dikit sesat.. geli aku.”

***
Tak jauh berbeda, Emilia Renita AZ, istri pembesar Syi’ah Indonesia Jalaluddin Rakhmat, juga menolak keras nikah mut’ah.

Emilia Renita AZ Tidak Mau Mut’ah Karena Menjaga Kesucian

Adalah seorang dai Sunni, Muhammad Abdurrahman Al Amiry, memberikan pertanyaan kepada istri dedengkot Syiah Indonesia Jalaluddin Rakhmat, “Sudahkah Anda melakukan nikah mut’ah atau sudah berapa kali Anda melakukan nikah mut’ah?”
Pertanyaan itu diajukannya dalam debat mengenai kebenaran ajaran Syiah, utamanya dalam persoalan nikah mut’ah yang menjadi barang jualan Syiah di kalangan pengikut syahwat 1 Maret 2014 lalu.
Istri Jalaluddin Rakhmat, Emilia Renita AZ menjawab, “Itu pertanyaannya vulgar banget. Aku gak pernah mut’ah, dan aku gak minat mut’ah. Apa gak ada pertanyaan yang lebih normal? Aku ini Syiah, yang sangat menjaga iffah. Aku juga gak tersentuh laki-laki selain muhrimku (maksudnya mahram-red).”
Tentu saja pernyataan Emilia Renita AZ yang tidak pernah dan tidak ingin nikah mut’ah itu bertentangan dengan ajaran Syiah yang dianutnya.
Dalam sebuah kitab Syiah, Tafsir Manhaj Ash Shadiqin 2/489, salah seorang Imam mereka mengatakan, “Barang siapa yang keluar dari dunia (wafat) dan dia tidak nikah mut’ah, maka dia datang pada hari kiamat sedangkan kemaluannya terpotong.”
Menanggapi alasan Emilia Renita AZ yang tidak mau melaksanakan nikah mut’ah dengan alasan menjaga kesucian, ustadz Muhammad Abdurrahman Al Amiry menanggapi, “Berarti menurutnya, Syiah yang nikah mut’ah tidak menjaga iffahnya. Padahal Imam Khumaini (imam besarnya Syiah dan pemimpin revolusi Syiah Iran) nikah mut’ah tanpa malu, berarti dalam kata lain Imam Khumaini tidak memiliki iffah. Berarti Syiah memang bukan agama yang menjaga iffah penganutnya, karena Syiah mengajari nikah mut’ah dan mengancam yang tidak nikah mut’ah. Berarti Emilia pun meyakini Syiah tidak memiliki kehormatan.”
Sebagaimana diketahui, Ayatullah Khumaini, pernah melakukan nikah mut’ah dengan seorang anak perempuan yang masih sangat kecil.
Khumaini pernah berkata dalam Tahrir Al Wasilah hal. 854 Kitab An Nikah Masalah ke 12, “Adapun segala cara untuk mencari kenikmatan seperti menyentuh-nyentuh dengan syahwat, dan memeluk, serta menggesek-gesek kemaluan ke paha maka tidak mengapa ,walaupun yang menjadi objek adalah seorang bayi berkelamin wanita yang masih menyusui.”
(Baca: Emilia Renita AZ: Nikah Mut’ah Solusi Menjaga Kesucian Wanita)
http://news.fimadani.com/ Selasa, 4 November 2014 (07:28)

 

(br/nahimunkar.com)