Ilustrasi


Suatu pendidikan yang baik, melatih agar jadi lebih baik, kadang disalahfahami. Tidak diikuti dengan ikhlas lilLahi Ta’ala, namun diikuti dengan terpaksa, sebal, dan bahkan benci. Itupun masih diadukan pula kepada pihak yang lebih tinggi.

Itu pernah dialami oleh seseorang, dan mengakibatkan adanya korban. Ayahnya di desa jadi tuli seketika, ketika mendapat pengaduan salah satu anaknya. Bahwa sang anak diperlakukan oleh keluarga abangnya yang diikutinya selama ini, tiba-tiba mengharuskannya kost di tempat lain, dan hanya boleh makan di abangnya satu hari dalam sepekan. Tadinya tinggal dan makan di situ biasa saja.

Yang mengadu kepada sang ayah itu hanya satu anak. Sedangkan kejadian harus kost dan sebagainya itu diberlakukan untuk beberapa anak (sesaudara) ketika mereka semua sudah mulai bekerja, sejak beberapa bulan. Jadi masing-masing sudah punya penghasilan.

Kasus tulinya sang ayah itu didengar pula oleh sang abang yang diikuti adik-adiknya tersebut, namun tidak tahu apa penyebabnya. Ketika sang ayah sudah meninggal agak lama, suatu saat abang dan adik-adiknya pulang kampung bersama-sama dalam satu mobil. Dalam perjalanan, mereka bercerita ini dan itu. Tibalah ungkapan yang mengagetkan sang abang, bahwa sang ayah tiba-tiba jadi tuli (sampai beberapa bulan) gara-gara dulu mendengar anak- anaknya disuruh kost sendiri, tidak boleh lagi di rumah abangnya. Dan hanya boleh makan di rumah abangnya satu hari dalam sepekan.

Mendengar penuturan salah satu adik ini, sang abang kaget sekali. Di depan adik-adiknya itu dia menjelaskan, bahwa adik-adik sampai disuruh kost, dan kemudian boleh makan ke rumah tapi hanya sehari dalam sepekan karena semuanya sudah bekerja, itu adalah pendidikan, melatih agar mandiri. Bukan karena sayang tempat dan makanan untuk dimakan. Sebagaimana sang abang dulu setiap mengantar adik-adik ke mana tujuan yang dituju (karena harus ditunjuki tempatnya), maka sang abang berjalannya sangat cepat, setengah lari. Itu bukan karena cara jalan sang abang seperti itu, tetapi itu adalah pendidikan, latihan agar gesit.

Tetapi semua itu tidak bisa abang ucapkan bahwa itu hanya pendidikan, hanya untuk melatih. Karena, kalau diucapkan begitu, otomatis akan aber, tidak bermakna, dan tidak dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Sayangnya, itu telah disalahfahami, hingga sampai mengadu ke sang ayah, hingga beliau jadi tuli. (Meski demikian) ya alhamdulillah, hanya tuli sementara, kemudian Allah sembuhkan. Nah, ini pelajaran berharga bagi kita semua.

Demikianlah sekelumit kisah nyata. Pendidikan baik, kadang disalahfahami, karena tidak bisa dijelaskan kandungannya, lantaran akan tidak bermakna lagi bila dijelaskan (bahwa itu sekadar latihan belaka). Walau mungkin mengakibatkan adanya korban, namun pendidikan itu sendiri alhamdulillah bisa berhasil.

Berbeda masalahnya, ketika latihan itu ditujukan kepada banyak orang, maka pihak pelatihnya “terbebani” untuk menjelaskan, kenapa mendidik kok begitu.

Berikut ini salah satu contoh anyar yang nyata.

***

Hasan Al-Jaizy

Karena masih ada yang salah faham, maka ditegaskan bahwa pengaturan 10-10 di salah satu majelis kami sampai pukul 08:30 WIB itu untuk ta’dib dan tarbiyah, bukan untuk kejar kuantitas dan target. Beberapa majelis kami di tempat lain ada yang hanya 5 orang dan sekitarnya dan lanjut konsisten. Beda.

Adapun yang ada peraturan 10-10, itu karena dulunya hadirin penuh. Mereka semua digratiskan kitab-kitab. Mereka tandatangan komitmen belajar. Dan lama-lama mengikis. Lalu belakangan ini ada sebagian teman-teman baru. Kita carikan kitab dan kita bantu. Siap komitmen. Silakan masuk semampunya asal jangan meremehkan. Boleh telat asal jangan jadi kebiasaan apalagi kebangetan.

Peraturan itu khusus di majelis R. Kalau di majelis-majelis lain, baik Cilangkap di beberapa tempat, Cililitan, Kebayoran, Tendean, dan lainnya, kami tidak menerapkan peraturan serupa. Medan dan audiensnya beda. Tidak ada agreement sebelumnya.

Jadi, moga tidak ada lagi yang menyangka bahwa kami mengejar kuantitas, lalu mengkiaskan dengan beberapa asatidzah perintis yang dulunya juga hadirinnya sedikit. Teman-teman, kami mah sudah biasa harian ngaji dengan jumlah thullab ga seberapa. Kuantitas urusan belakangan, tapi amanah, keseriusan dan belajar urusan diutamakan. Saya diamanahkan dana buat stabilitas kajian, semua digunakan untuk Ranah keilmuan dan kajian dan harus diseriuskan setiap hari. Adapun kuantitas peserta, itu diserahkan pada Allah. Tapi untuk menjaga amanah dan stabilitas, kita juga harus tegas.

Juga kalau dianggap kami anti-memberi udzur, maka ini juga salah.

Ala kulli hal, rekan yang tidak memahami secara lengkap, cukup mengetahui saja ibrahnya bahwa kita perlu tegas kalau mau serius. Bagi yang memahami lebih lengkap, semoga ibrahnya lebih banyak didapat.

Warning kembali: kami akan tetap mengenyampingkan perasaan tidak tega kalau ke depannya para hadirin masih telat parah atau tidak hadir padahal dulunya mengharap kesempurnaan dari kami. Siap dibubarkan lagi dan ditunda lagi jika terjadi lagi. Ketegasan tidak berasas perasaan. Kalau mau menagih di mana perasaan, tanyakan kepada mereka yang sudah tanda tangan dan berjanji maksimal namun minimal. Di mana perasaan mereka.

Afwan, rekan-rekan FB, saya tulis ini kembali. Ibrahnya sangat banyak insya Allah. Sangat banyak bagi yang mau ambil ibrahnya. Saya berharap ke depannya, anak-anak ngaji ini siapapun mereka lebih sadar bahwa ngaji itu urusan agama. Kalau Allah beri keluasan dan kendaraan mudah, jangan meremehkan dan main-main sekehendaknya. Karena kalau ini tidak disadarkan berkali-kali, kita tidak akan sadar-sadar.

We will see insha Allah. Zaadakumullaahu ilma wa hirsha. Semoga Allah menambahkan ilmu dan semangat antum.

Ingat amanah.

facebook.com/hasaneljaizy?

(nahimunkar.com)

(Dibaca 894 kali, 1 untuk hari ini)