Pendidikan
Kader Ulama Perempuan Masjid Istiqlal Berbau Feminisme?

  • Laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya, oleh karena itu, kita akan lakukan pendidikan keluarga ini berbasis masjid,” kata KH Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal di Jakarta.
  • Selanjutnya, KH Nasaruddin Umar juga berharap, bahwa PKUMI nantinya bisa menjadi wadah dalam menyediakan ulama-ulama perempuan di setiap provinsi di Indonesia. “Sehingga pembacaan Alquran itu juga memiliki kesetaraan gender.”
  • Perkataan Laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya,” itu arahnya berbau ke feminisme, sehingga dia tegaskan: “Sehingga pembacaan Alquran itu juga memiliki kesetaraan gender.”

    Apakah perkataan Nasaruddin Umar itu seusia dengan ayat2 Al-Qur’an?

Dalam Al-Qur’an ditegaskan:

وَلَيْسَ
الذَّكَرُ
كَالْأُنْثَى

…dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan… [Al ‘Imran:36]

يُوصِيكُمُ
ٱللَّهُ
فِيٓ
أَوۡلَٰدِكُمۡۖ
لِلذَّكَرِ
مِثۡلُ
حَظِّ
ٱلۡأُنثَيَيۡنِۚ [ النساء:11-11]

11. Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; [An Nisa”:11]

***

Nasaruddin Umar Menurut Buku Membongkar Kedok Liberal dalam Tubuh NU: Agen Feminis!


Posted on 28 April 2016

by Nahimunkar.org


Salah satu tokoh yang ikut campur dalam penyusunan AHWA PBNU adalah Nasaruddin Umar. Bagaimana keliberalan seorang Nasaruddin Umar menurut buku membongkar kedok liberal dalam tubuh NU?

NASARUDDIN UMAR

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA. Lahir di Ujung-Bone, 23 Juni 1959, menyelesaikan S1 di IAIN Alauddin Makassar dan melanjutkan pendidikan pasca sarjana hingga memperoleh gelar doktor di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. dia tercatat sebagai salah satu senior Islam Liberal di Indonesia yang mengusung ide Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme agama.

Selain sebagai dosen di Fakultas Ushuluddin pasca sarjana IAIN Jakarta dan pembantu Rektor III IAIN Jakarta juga sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia dan Universitas Paramadina. Jabatan formal terakhir sebagai Dirjen

Bimas Islam Departemen Agama RI. (Waktu lalu, kini dia diangkat oleh Menag Lukman jadi Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, red NM https://www.nahimunkar.org/innaa-lillaahi-menag-lukman-angkat-nasaruddin-umar-penyanjung-anand-krishna-jadi-imam-besar-masjid-istiqlal/).

Berbagai pekerjaan dan jabatan telah ia geluti, antara lain:

Sebagai sekjen Lembaga Study Ilmu-ilmu Kemasyarakatan (LSIK), Staf pengajar program Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta 1997 sampai sekarang, Anggota Majlis Ulama Indonesia (MUI), 2000-2004, Katib Aam PBNU 2003-
2008, Anggota The UKA Indonesia Advisory Team, yang didirikan PM Tony Blair dan presoden SBY, 2005-2008, guru besar Tafsir al-Quran fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah, Januari 2002, dan lain-lainnya. [wildanhasan.blogspot.com.]

Dalam menyelesaikan program doktoralnya, ia telah melakukan Vissiting Student for Ph.D program, di McGill University, Montreal, Canada (1993-1994), Vissting Student for Ph.D program di Leiden University Nedherlands (1994-1995), setelah selesai ia mendapat

undangan sebagai Vissiting Scholar di Shopia University Tokyo (2001), Vissiting Scholar di SAOS, University Of London (2001-2002), Vissiting Scholar di Georgetown University, Washington DC (2003-2004).

Beberapa karya tulis dan buku tentang Islam dan feminisme sudah banyak diterbitkan diantaranya: Paradigma Baru Teologi
Perempuan (Fikahati Aneska, Jakarta, 2002), Bias Gender dalam Penafsiran Kitab Suci (Fikahati, 2000), Argumen Kesetaraan Gender:
Perspektif Al-Qur’an (Paramadina, 1999), Agama dan Seksualitas dan beberapa karya lain tersebar di beberapa media masa dan jurnal ilmiah hingga sekarang dikenal sangat konsisten sebagai pakar feminisme dalam Islam.

Gelar akademik tertinggi sebagai guru besar dalam bidang ilmu tafsir Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah diperoleh pada tanggal 12 Januari 2002 dengan judul pidato ilmiah “Bias Gender dalam Penafsiran Al-Qur’an”.

Nasaruddin Umar adalah ilmuwan yang rajin melakukan riset tentang perempuan di dalam teks-teks suci agama. Bahkan ia pernah melakukan riset pustaka selama satu tahun lebih di perpustakaan universitas di Inggris dan Amerika.

Seperti diwawancarai oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) dan dimuat di situsnya, menurut Pak Nas, demikian panggilan akrabnya, “Semua kitab suci bias gender!”. Pengakuannya tentang aktivitas kajian perempuan dalam kitab suci tersebut dia katakan, “Kajian saya mungkin juga tidak terlalu serius, hanya saja tetap konsisten . Artinya apa yang saya katakan tentang kitab suci, dari dulu sampai sekarang tetap pada pendirian semula. Tapi saya akan terus meneliti dan meneliti lagi untuk mengetahui apakah temuan saya -yang akan diperkenalkan kepada masyarakat- mengandung kelemahan, perlu direvisi, dan sebagainya.

Di Inggris kemarin, saya mencoba meneliti kitab Talmud, dan kitab- kitab sumber Yahudi lainnya. Di SOAS Univercity of London, literatur-literatur, khususnya tentang Yahudi sangat bagus. Menurut saya kajian literatur Yahudi ini penting untuk menunjang kajian saya tentang perempuan.”

Pembelaan Pak Nas terhadap perempuan terlihat dalam kasus poligami. Bahkan ketika ramai-ramai kasus Aa’ Gym melakukan poligami, Nasaruddin yang setelah menjadi Dirjen Bimas Islam Depag jarang berkomentar akhirnya mengeluarkan pernyataannya juga. Ia pengulang kata-kata yang pernah di muat dalam wawancara di atas, “Jadi ada masa transisi yang digagas Islam sebagaimana juga persoalan poligami tadi. Yaitu transisi bagaimana Islam membebaskan umatnya dari masyarakat poligami. Dulu ada orang Arab yang punya istri sepuluh, lalu Nabi mensyaratkan untuk memilih empat diantara mereka kalau mau masuk Islam. Kalau Nabi mengatakan untuk memilih satu saja, tentu terlalu drastis.”

Selain tentang perempuan, ada beberapa pendapat Nasaruddin Umar yang perlu dicatat, salah satu tentang pengertian Nabi yang “ummi”. Pendapat tersebut dapat dijumpai pada sebuah artikel yang ditulis pada edisi September 2005 majalah az-Zikra tentang definisi

“ummi” bagi Nabi Muhammad SAW. Menurut Nasaruddin Umar, “ummi” bukanlah berarti “tidak dapat membaca dan menulis, “sebagaimana yang dipahami para ulama Islam selama ini. Tapi, tulisnya, makna “ummi” yang benar ialah yang disebutkan dalam bahasa Ibrani, yakni “pribumi” (native).

Kata Nasaruddin Umar, Profesor ilmu Tafsir di Universitas Islam Negeri Jakarta yang pernah mengatakan perlunya rekontruksi tafsir ayat soal poligami itu berkata, “Saya cenderung memahami kata ummi dalam arti pribumi, mengingat suku dan keluarga Nabi Muhammad tidak termasuk golongan pembaca kitab. Yang masyhur sebagai pembaca kitab (Qori’) pada waktu itu ialah komunitas Yahudi dan Nashrani. Mereka bukan warga native di dunia Arab.

Jika pemahaman kita seperti ini, Nabi Muhammad tentu bukan sosok yang belum menganut paham salah satu kitab suci. Karenanya ia dipilih tuhan untuk menjadi Nabi dan Rasul. Orang secerdas Nabi sulit dipahami sebagai orang yang buta huruf atau orang yang tidak diperkenankan untuk membaca dan menulis. [Budi Hadrianto, 50 Tokoh Islam Liberal di Indonesia]

Dari biografi diatas, tidak salah lagi, bahwa Nasaruddin Umar adalah agen Liberalisme Islam di Indonesia. Untuk ukuran Indonesia, bisa dikatakan Nasaruddin Umar adalah “Mbah-nya” kalangan feminis yang berhasil menyusup atau disusupkan ke Departemen Agama untuk mengegolkan berbagai agenda Liberalisme, satu diantaranya adalah penghapusan syari’at poligami.

***

Kesimpulan: Pantas saja AHWA tercium aroma liberal dengan memasukkan perempuan sebagai rumusan anggota karena unsur kesetaraan gender karena tokoh agen feminis ikut campur merumuskannya. Wallahu A’lam.

NUGarisLurusCom/04/07/2015

https://www.nahimunkar.org/nasaruddin-umar-menurut-buku-membongkar-kedok-liberal-tubuh-nu-agen-feminis/

***

Adapun berita tentang
Program Kader Ulama Perempuan Masjid Istiqlal (PKUMI) adalah sebagai berikut.

***

Istiqlal akan Adakan Pendidikan Kader Ulama Perempuan

JAKARTA — Imam Besar/Ketua Harian Badan Pengelola Masjid Istiqlal Prof KH Nasaruddin Umar mengatakan pihaknya akan mengadakan pendidikan kader ulama perempuan sebagai salah satu tindak lanjut nota kesepahaman dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

“Banyak ulama, tetapi yang perempuan sangat langka. Di seluruh dunia, tidak pernah kita dengar ada majelis ulama yang ketuanya perempuan, padahal tidak diharamkan,” kata Nasaruddin pada acara penandatanganan nota kesepahaman dengan Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak yang diliput secara daring dari Jakarta, Jumat (19/2).

IHRAM.CO.ID,Jumat , 19 Feb 2021, 17:47 WIB Redaktur : Muhammad Fakhruddin

***

Program Kader Ulama Perempuan Masjid Istiqlal (PKUMI)

BPMI (Badan Pengelola Masjid Istiqlal) membuat program Kader Ulama Perempuan Masjid Istiqlal (PKUMI) pada ‘New Istiqlal’ nanti. “Kita (BPMI) ingin kedepannya perempuan punya kekayaan intelektual, untuk mengkaji kitab suci Alquran, dan juga hadist,” ucap KH Nasaruddin Umar.

KH Nasaruddin Umar juga mengatakan, bahwa sebagaimana hadist Nabi SAW,  “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim (laki-laki dan perempuan).”

“Laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya, oleh karena itu, kita akan lakukan pendidikan keluarga ini berbasis masjid,” kata KH Nasaruddin Umar.

Selanjutnya, KH Nasaruddin Umar juga berharap, bahwa PKUMI nantinya bisa menjadi wadah dalam menyediakan ulama-ulama perempuan di setiap provinsi di Indonesia. “Sehingga pembacaan Alquran itu juga memiliki kesetaraan gender.”

Pada setiap program di BPMI, KH Nasaruddin Umar juga berkata, bahwa pada setiap bidang yang didistribusikan, akan bisa bermuara pada penguatan keluarga. “Disamping PKUMI, sejumlah program kami sudah kami persiapkan di beberapa bidang, bagaimana nanti ujungnya bisa sampai pada penguatan keluarga.”

Meninjau hal itu, KH Nasaruddin Umar juga berpendapat, bahwa dalam mewujudkan penguatan keluarga dan memberdayakan perempuan, pemerintah bisa menggunakan bahasa agama. “Karena bangsa dan umat (di Indonesia) religius, dengan menggunakan bahasa agama, efektifitasnya luar biasa.”

“Kalau bahasa agama kita pakai untuk mengangkat isu pemberdayaan perempuan, saya yakin ini akan sangat efektif. maka itu, bahasa agama sangat diperlukan pemerintah dalam rangka mewujudkan cita-cita program bangsa dan negara kita ini,” lanjut KH Nasaruddin Umar.

Oleh karenanya, KH Nasaruddin Umar mengatakan, sebagaimana masjid Istiqlal yang bertujuan untuk menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan dan anak, Beliau berharap hal ini bisa disusul oleh rumah ibadah agama yang lain di Indonesia. “Mungkin nanti akan disusul oleh rumah ibadah lain untuk melakukan hal yang sama.”

Senada dengan Imam Besar, Menteri I Gusti Ayu Bintang berharap bahwa nantinya BPMI dan Kementerian PPPA bisa komitmen dan bertanggung jawab, dalam memberdayakan perempuan dan memberikan perlindunga penuh kepada anak.

“Saya harap kesepakatan (MoU) ini tidak hanya menjadi dukungan semata, tapi harus jadi komitmen dan tanggung jawab kita bersama dalam memberdayakan perempuan, dan memberikan perlindungan kepada anak-anak kita, (dan kerja nyata ini bisa kita wujudkan ke depan).” ujar Bintang, di Jakarta, Jumat, (19/2/2021)

https://istiqlal.or.id/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 416 kali, 1 untuk hari ini)