KH Hasan Abdullah Sahal, pendiri dan pimpinan Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor


JAKARTA (Arrahmah.com) – Pendiri pondok pesantren modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal memberikan nasihat kepada masyarakat agar hati-hati dengan zaman modern, karena sekarang ini bukan lagi zaman modern, tetapi zaman kebinatangan modern.

“Sekarang bukan lagi zamannya brainwashing (pencucian otak), tetapi sudah mengarah kepada “brain destroying” (penghancuran otak/pola pikir-red),” katanya dalam Silaturahim Nasional Kyai dan Pimpinan Pesantren Alumni Gontor di Hotel Siti Tangerang, Jumat (22/1/ 2016), seperti dilaporkan Mahfudz dan Bowo.

Karena itu, Gontor mengajarkan nilai-nilai yang tidak boleh berubah. Nilai disiplin, keikhlasan, akhlaqul karimah untuk membentengi diri dari zaman kebinatangan modern ini. “Maka materi, sistem di Gontor boleh berubah, tetapi nilai tidak boleh berubah,” jelas Kiai.

“Pesantren ini terdiri dari tiga hal; keislaman, keilmuan, kemasyarakatan. Maka anak-anak Gontor harus bisa menguasai ketiga hal ini. Dan dari dulu kita katakan, secara keilmuan, Gontor itu 100% ilmu agama, dan 100% ilmu umum. Kita mempelajari ilmu agama 100%, ilmu umum juga 100%,” paparnya.

“Kyai itu di atasnya Allah, di bawahnya tanah. Kita itu kuat, besar. Yang membuat kita lemah, takut, ya kita sendiri,” tambahnya.

KH. Hasan Abdullah Sahal menegaskan, pesantren itu bukan sarang teroris. Pesantren, katanya, harus menanggung secara keseluruhan karena beberapa orang dianggap teroris. Kiai justru balik bertanya;

“Sebenarnya teroris yang lebih berbahaya itu siapa? Kalau negara meneror rakyat, apa itu bukan teroris? Apa itu bukan kejahatan kemanusiaan?”

Lebih jauh nasehatnya, bangsa Indonesia harus mandiri. Katanya, silakan pilih kaya tapi dianggap miskin sehingga merasa terus harus dibantu, disuapi, dikasih seperti pengemis. Atau, miskin tapi dianggap kaya sehingga merasa cukup bahkan membantu. Kalau memilih yang pertama, berarti mentalmu masih mental miskin, mental pengemis, mental peminta-minta. Jadi, lebih baik miskin tapi kaya jiwa.

Katanya, Gusti Allah tidak tidur, akan melihat apa yang kita lakukan. Karena itu, kalau sedang di atas kita tidak boleh sombong, dan pada saat di bawah kita tidak boleh putus asa. Allah Subhanahu wa Ta’ala, pasti akan memberikan pertolongan.

“Kata orangtua, anakmu yang nakal, yang sakit, yang bandel, jangan dimarahi, tapi sayangilah. Indonesia ini anak kita, sedang sakit atau sedang sehat? Nah, tetap sayangilah Indonesia dan binalah menjadi benar. Karena dari Gontor kita akan mendidik para pemimpin dunia agar tidak sakit. Karena negara yang sakit akibat pemimpinnya yang sakit,” ujar Kiai.

KH Hasan Abdullah Sahal dilahirkan di Desa Gontor, Ponorogo, pada 24 Mei 1947. Putra keenam dari KH Ahmad Sahal. Salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor ini alumnus Universitas Islam Madinah dan Universitas Al-Azhar Kairo. (azmuttaqin/arrahmah.com) – Selasa, 15 Rabiul Akhir 1437 H / 26 Januari 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 9.087 kali, 1 untuk hari ini)