Pendukung Kritis Jokowi Akhirnya Meratapi Kenyataan: Jokowi Presiden yang Menghabisi KPK

 

Salah satu pendukung kritis Jokowi di sosial media @PartaiSocmed akhirnya harus menerima kenyataan… meratapi Jokowi yang akan dikenang sebagai Presiden yang menghabisi KPK.

“Yang paling kami takutkan akhirnya terjadi juga.. Apa daya, Jokowi akan dikenang sejarah sebagai Presiden yg menghabisi KPK,” kicau @PartaiSocmed, 17 September 2019.

Yang paling kami takutkan akhirnya terjadi juga.. Apa daya, Jokowi akan dikenang sejarah sebagai Presiden yg menghabisi KPK. pic.twitter.com/n884RtZBNt

— #99 (@PartaiSocmed) September 17, 2019

Dalam karikatur yang diunggah @partaisocmed:
Presiden Habibie – membuat UU Anti Korupsi
Gusd Dur – merancang KPK
Megawati – membentuk KPK
SBY – menjaga KPK
Jokowi – menghabisi KPK

Seperti diketahui, DPR RI telah mengesahkan revisi Undang-Undang KPK dalam rapat paripurna pada hari Selasa (17/9/2019) kemarin.

Pengesahan Revisi UU KPK ini setelah ada persetujuan dari Presiden Jokowi.

Menkum HAM Yasonna Laoly yang mewakili pemerintah mengatakan Presiden Joko Widodo menyetujui revisi UU KPK disahkan menjadi UU.

Yasonna juga menyampaikan terimakasih dan mengapresiasi terselesaikannya revisi UU KPK.

“Kami mewakili presiden menyampaikan ucapan terima kasih kepada pimpinan dan anggota badan legislasi Dewan Perwakilan Rakyat, atas dedikasi dan kerja keras sehingga dapat menyelesaikan revisi undang-undang KPK,” ujar Yasonna.

[Video]

Presiden @jokowi setuju revisi UU KPK disahkan menjadi UU. 

Presiden juga menyampaikan terima kasih kepada DPR atas revisi UU @KPK_RI ini.

TOK! pic.twitter.com/wkSlOVlZIG

— Mas Piyu ORI (@mas__piyuuu) September 17, 2019

[portal-islam.id

 

***

Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Jika Fatimah binti Muhammad Mencuri, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam Sendiri yang Akan Memotong Tangannya

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan,

أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ، فَقَالُوا: مَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَقَالُوا: وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ، حِبُّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ؟» ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ، فَقَالَ: «أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَايْمُ اللهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا»

“Sesungguhnya orang-orang Quraisy mengkhawatirkan keadaan (nasib) wanita dari bani Makhzumiyyah yang (kedapatan) mencuri. Mereka berkata, ‘Siapa yang bisa melobi rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Mereka pun menjawab, ‘Tidak ada yang berani kecuali Usamah bin Zaid yang dicintai oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.‘ Maka Usamah pun berkata (melobi) rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk meringankan atau membebaskan si wanita tersebut dari hukuman potong tangan). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda, ‘Apakah Engkau memberi syafa’at (pertolongan) berkaitan dengan hukum Allah?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdiri dan berkhutbah, ‘Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang mulia (memiliki kedudukan) di antara mereka yang mencuri, maka mereka biarkan (tidak dihukum), namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya’ (HR. Bukhari no. 6788 dan Muslim no. 1688).

Ketika menjelaskan hadits ini, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Inilah keadilan”.  Inilah penegakkan hukum Allah, yaitu bukan atas dasar mengikuti hawa nafsu. Rasulullah bersumpah, jika Fatimah binti Muhammad mencuri –dan Fatimah tentu lebih mulia secara nasab dibandingkan dengan wanita bani Makhzum tersebut karena Fatimah adalah pemimpin para wanita di surga- maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang akan memotong tangannya.”

Kemudian Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah melanjutkan, Demikianlah, wajib atas pemimpin (pemerintah) untuk tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum. Mereka tidak boleh memihak seorang pun karena hubungan dekat, kekayaannya, kemuliaannya di masyarakat (kabilah/sukunya), atau sebab lainnya” (Syarh Riyadhus Shalihin, 1/2119, Maktabah Asy-Syamilah).

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/23872-penegakkan-hukum-di-masa-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html

(nahimunkar.org)

(Dibaca 131 kali, 1 untuk hari ini)